Film sejak lama telah menjadi salah satu medium yang digunakan dalam proses pembelajaran. Film yang pada umumnya mencoba menangkap realita dan dituangkan dalam cerita visual menggambarkan kondisi tersebut menjadi platform yang baik dalam penyampaian pesan-pesan atau nilai-nilai tertentu terkait kehidupan masyarakat.
Program Studi Ilmu Hubungan Internasional (HI) Universitas Katolik Parahyangan (Unpar) bersama Kelompok Studi Mahasiswa Pengkaji Masalah Internasional (KSMPMI), sebuah organisasi internal di bawah Himpunan Mahasiswa Program Studi Ilmu Hubungan Internasional (HMPSIHI) Unpar kembali mengadakan acara tahunan Cinema Festival (Cinefest) untuk kedua kalinya (sebelum tahun 2015 bernama International Film Screening).
Tahun ini Cinefest mengangkat tema “Buruh” dengan melihat bahwa selama ini isu terkait buruh seringkali dianggap sebagai hal sensitif karena jumlahnya yang banyak dan tersebar di seluruh tempat. Buruh juga seringkali dianggap sebagai simbol pertentangan terhadap kapitalisme dan kekuasaan. Melihat cakupannya yang luas dan memiliki aspek internasional, maka penting bagi mahasiswa HI untuk menjadikan isu ini sebagai salah satu hal yang memerlukan perhatian. Melalui medium film dan sajak, diharapkan masyarakat dapat melihat isu ini lebih dekat dengan realita saat ini yang dapat ditemui dalam praktik kegiatan sehari-hari.
Cinefest 2016 diadakan di Gedung Indonesia Menggugat pada Sabtu (7/5) lalu. Seperti tahun-tahun sebelumnya, Cinefest menghadirkan pemutaran film yang terkait dengan tema yang diangkat. Kisah 3 Titik (2013), Made in Dagenham (2010), dan Last Train Home (2009) merupakan 3 judul film yang diputarkan. Setelah pemutaran masing-masing film, diadakan diskusi terkait isu yang diangkat dalam film tersebut yang kemudian dibawa ke ranah kenyataan. Hal tersebut dilihat dari berbagai perspektif baik politik, ekonomi, dan sosial. Andriko Otang, Direktur Trade Union Rights Center (TURC); Herry Sutresna, seniman; Elly Rosita Silaban, Ketua Umum Federasi Serikat Buruh Garmen Kerajinan Tekstil Kulit dan Sentra Industri; serta Wanggi Hoed, aktivis buruh dihadirkan sebagai pembicara pada diskusi tersebut. Tidak hanya itu, ada juga book fair yang bekerjasama dengan Periplus, Books & Beyond, dan Lawang Buku.
Sebagai penutup acara, pada malam harinya dihadirkan poetry night (malam sajak) dimana hal ini berkonsep seperti open mic stand-up comedy namun yang dipersembahkan adalah puisi-puisi. Sebanyak 16 pembaca puisi mendaftarkan diri pada malam itu dan membacakan puisi-puisi menarik. Sesuai dengan tema Cinefest 2016, “Blood, Sweat, and Tears” dijadikan sebagai tema malam sajak tersebut.
Andriana Anjani selaku Ketua Pelaksana Cinefest 2016 berharap bahwa program ini dapat membangkitkan ketertarikan masyarakat terhadap film, sajak, dan isu buruh itu sendiri. Selain itu, dengan adanya diskusi terkait film-film yang diputarkan diharapkan dapat menambah wawasan masyarakat terkait isu buruh.





