P3M Unpar, “Janten Leuwih Pinter”

P3M

“Hatur nuhun pisan Pak, margi aya mahasiswa ti Unpar, ayeuna masyarakat desa Sindulang tiasa janten leuwih pinter.” (Terima kasih sekali Pak, karena ada mahasiswa dari Unpar, sekarang masyarakat Desa Sindulang bisa menjadi lebih pandai). Demikian dikatakan oleh Juju secara pribadi sebagai Ketua RW 008, Dusun Leuwiliang, Desa Sindulang, Kecamatan Cimanggung, Kabupaten Sumedang, Jawa Barat.

Ungkapan terima kasih tersebut disampaikan dengan tulus pada hari-hari terakhir kegiatan pengabdian mahasiswa dan dosen Unpar di Desa Sindulang.

Janten leuwih pinter itu mengandaikan bahwa proses pendidikan dan pembangunan sumber daya manusia di desa selama kegiatan pengabdian sudah berlangsung dengan baik, sesuai dengan yang direncanakan. Peningkatan kualitas sumber daya manusia di desa akan mendorong kualitas pengelolaan sistem kehidupan di desa, yang akhirnya diharapkan bahwa pembangunan desa dapat mewujudkan masyarakat desa yang adil, makmur dan sejahtera.

Lembaga Pengembangan Humaniora Universitas Katolik Parahyangan (LPH Unpar) secara rutin menyelenggarakan Program Pendidikan Pengabdian kepada Masyarakat (P3M). Kali ini, kegiatan tersebut berlangsung selama 32 hari, pada 5 Juli hingga 5 Agustus 2017 di Desa Sindulang dan diikuti mahasiswa dari berbagai fakultas dan para dosen pendamping lapangan (DPL).

Di setiap kegiatan P3M, ketegangan antara kepentingan akademik dan kepentingan masyarakat desa adalah hal yang lumrah. Dalam konteks kepentingan akademik, yang utama adalah proses pendidikan dan pembelajaran mahasiswa, dosen, dan masyarakat desa, sedangkan proyek-proyek yang dilaksanakan di lapangan merupakan sarana pendidikan dan pembelajaran.

Hal tersebut berbeda dengan keinginan masyarakat desa pada umumnya. Dalam konteks kepentingan masyarakat desa, yang utama adalah proyek pembangunan fasilitas-fasilitas di desa, misalnya pembangunan saluran air, pembangunan jalan, dan pembangunan tempat ibadah.

Konteks

P3M Unpar berusaha mengembangkan metode kegiatan community service dan service learning yang mengintegrasikan unsur akademik, unsur pengabdian, dan unsur pemberdayaan masyarakat.

Dalam konteks kepentingan akademik, mahasiswa peserta P3M diharuskan mengikuti proses kuliah pembekalan di kampus. Selain itu, di lapangan, mahasiswa diharuskan melakukan proses komunikasi dan menjalin relasi, proses observasi dan perumusan masalah, proses perumusan solusi dan penentuan proyek yang akan dikerjakan, proses pelaksanaan proyek, proses pembuatan laporan, presentasi dan pengujian laporan, hingga akhirnya mahasiswa menjalani proses penilaian dan penentuan kelulusan.

Dalam konteks pengabdian dan pemberdayaan masyarakat, mahasiswa harus melibatkan masyarakat desa dalam setiap tahapan kegiatan P3M. Misalnya, proses observasi, musyawarah untuk merumuskan masalah desa dan menentukan solusinya, serta merancang proyek yang akan dilakukan sampai pada tahap teknis pelaksanaan. Mahasiswa bergotong-royong bersama masyarakat melaksanakan dan menyelesaikan proyek.

Pengabdian kepada masyarakat

Ada banyak proyek yang dilakukan oleh mahasiswa bersama masyarakat di tiap dusun di Desa Sindulang: proyek pemasangan pipa untuk penyaluran air bersih ke rumah warga (Dusun Sindulang); pembuatan sumur resapan air limbah rumah tangga (Dusun Ciseupan); pembuatan lubang biopori untuk menanggulangi sampah organik rumah tangga (Dusun Jambuaer); penyaluran air bersih dari sumber ke bak penampungan untuk menambah debit air yang masuk ke rumah warga; dan pembentukan Mitra Cai, paguyuban pengelola air (Dusun Leuwiliang).

Selain proyek dusun, setiap mahasiswa membuat proyek-proyek pribadi seperti berbagi pengalaman proses pendidikan di berbagai bidang ilmu pengetahuan bersama para guru dan siswa; diskusi tentang problem pernikahan usia dini; penyuluhan tentang pengelolaan keuangan keluarga dan koperasi; pembuatan manisan tomat; diskusi tentang bahaya merokok; gerakan Ayo Menabung; diskusi tentang pentingnya pendidikan, diskusi tentang keanekaragaman agama, kepercayaan, suku dan budaya di Indonesia; dan lain-lain. Semua tema proyek ini dipilih dan dilakukan atas dasar persoalan-persoalan sosial dan ekonomi yang konkret dihadapi oleh masyarakat Desa Sindulang.

Pembangunan fasilitas-fasilitas dan pemberdayaan manusia merupakan dua hal yang harus berjalan beriringan. Pembangunan manusia tidak mungkin berjalan tanpa pembangunan fasilitas. Semua pembangunan fasilitas pada akhirnya harus ditujukan untuk perkembangan dan peningkatan kualitas hidup manusia. Pengabdian dalam bentuk pembangunan fasilitas-fasilitas di desa tanpa disertai pemberdayaan manusianya hanya akan mengakibatkan kemalasan, kebodohan, ketidakpedulian, dan ketergantungan. [B. Ario Tejo Sugiarto, S.S., M.Hum-Koordinator Akademik kegiatan P3M Unpar]

 

 

Sumber: Kompas Griya Ilmu (Selasa, 5 September 2017)

 

Berita Terkini

UNPAR Raih Penghargaan Pengabdian Masyarakat dari Tribun Jabar

UNPAR Raih Penghargaan Pengabdian Masyarakat dari Tribun Jabar

UNPAR.AC.ID, Bandung – Universitas Katolik Parahyangan (UNPAR) meraih penghargaan “Pengabdian Masyarakat Melalui Pendidikan”  dalam ajang Editor’s Choice 2.0 yang diselenggarakan surat kabar harian Jawa Barat, Tribun Jabar. UNPAR dinilai menjadi Perguruan Tinggi...

Kontak Media

Divisi Publikasi

Kantor Pemasaran dan Admisi, Universitas Katolik Parahyangan

Jln. Ciumbuleuit No. 94 Bandung
40141 Jawa Barat

Sep 5, 2017

X