Mendorong Integritas Terbuka

Suster Gerardette Arsip Adiwarman Idris 16-06-2016

Tiba-tiba dari belakang terdengar seruan mengagungkan nama Allah dari peserta diskusi. Sr Gerardette Philips, RSCJ, PhD (50) tersenyum, lega. ”Peserta itu mengatakan, ’Saya baca sinopsis Anda semalaman dan saya suka, karena dalam gagasan dialog, kita datang sebagai diri sendiri’,” kenangnya.

Sebelumnya, panitia khawatir ada penolakan terkait pendekatan dalam buku yang didiskusikan.

Diskusi buku itu digelar pada Ramadhan 2013 atau tiga tahun yang lalu. Saat itu, Sr Gera—begitu ia disapa—membuat sinopsis buku Moving Beyond Pluralism: Approaches of Hans Kung and Seyyed Hossein Nasr to Muslim-Christian Dialogue (2013); disertasinya di Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara (STF), 2012.

Dari pengalaman diskusi itu, Sr Gera melihat, identitas, klaim kebenaran, dan inti kepercayaan agama seseorang seharusnya dipertimbangkan serius dalam dialog antaragama.

”Dalam pluralisme, hal tersebut disembunyikan demi ’harmoni’, sehingga selalu ada kecurigaan dan ketakutan,” ungkap Sr Gera di ruang kerjanya, Biara Kongregasi Hati Kudus Yesus (RSCJ), Bandung, Selasa (14/6).

Jadi, ”Meski merupakan terobosan dari pendekatan Eksklusivisme dan Inklusivisme, pendekatan pluralismemasih menyisakan jurang menganga setelah puluhan tahun umat Muslim dan Kristen terlibat dialog.”

Padahal, justru perbedaan itu yang seharusnya mendorong dialog, karena kenyataannya bumi ini dihuni manusia dari beragam ras, budaya, ideologi, dan agama. Perbedaan-perbedaan kita bertumbuh dari kesatuan kita.

Mendialogkan perbedaan

Melalui bukunya, Melampaui Pluralisme: Integritas TerbukaSebagai Pendekatan yang Sesuai bagi Dialog Muslim-Kristen (2016), Sr Gera menawarkan gagasan Integritas Terbuka sebagai pendekatan yang lebih sesuai bagi dialog Muslim-Kristen.

Gagasan itu merupakan gabungan pendekatan dua tokoh terkemuka dalam dialog Muslim-Kristen, yakni Prof Seyyed Hossein Nasr dan Prof Hans Kung.

Prof Nasr, filsuf Islam dan Profesor Kajian Agama dari Universitas George Washington, menggunakan pendekatan Filsafat Perennis dan menempatkan tradisi mempelajari agama sebagai Scientia sacra. Ide dasarnya, bahwa pada tingkat yang Absolut, ajaran-ajaran agama bertemu, seperti banyak bahasa yang berbicara tentang Kebenaran namun berbeda dalam sintaksisnya.

”Namun, untuk melihat inti universal, kita harus berpaling dari aspek eksoteris ke aspek esoterik agama-agama,” ujar Sr Gera.

Penerimaan kesatuan esoterik semua agama adalah ciri utama filsafat perennial; kesatuan adalah unik. Kesatuan transenden yang mendasari keragaman agama dapat dipastikan unik atau satu hakikat.

Pertemuan dengan Prof Nasr di Washington DC, Oktober 2007, meninggalkan kedamaian dan sukacita. ”Wajahnya seperti orang suci, sangat damai sekaligus menunjukkan kecerdasan dan kearifan,” kenang Sr Gera.

Prof Kung yang ditemui saat berkunjung ke Jakarta tahun 2010 adalah biarawan Katolik, teolog dan Presiden The Global Ethic Foundation. Dia menggunakan seperangkat nilai-nilai inti yang ditemukan dalam ajaran semua agama sebagai Etika Global dalam pergaulan di berbagai tingkat.

Dalam Etika Global dinyatakan, ”Tidak ada perdamaian dunia tanpa perdamaian di antara agama, tidak ada perdamaian di antara agama tanpa dialog di antara agama, dan tidak ada dialog di antara agama tanpa pengetahuan akurat mengenai satu-sama lain,” jelas Sr Gera.

Integritas Terbuka

Sr Gera memaknai Integritas Terbuka sebagai pengakuan atas keunikan, kebebasan agama dan pemahaman atas klaim-klaim kebenaran dan inti kepercayaan agama dari mitra dialog,sehingga dialog itu diperkaya dan memperkaya keyakinan masing-masing agama.

”Integritas terbuka tidak dimaksud untuk mengubah keyakinan, tetapi untuk menciptakan ruang bagi keyakinan yang dipegang teguh oleh diri sendiri dan orang lain. Begitu ruang itu tercipta, martabat perbedaan akan tumbuh subur,” sambungnya.

Integritas berarti berakar dan meresapi jantung agama sendiri untuk memasuki jantung agama orang lain; tidak menyangkali kebenaran agama sendiri untuk memahami kebenaran agama mitra dialog.

Setelah pembahasan di beberapa kota yang sebagian besar pesertanya mahasiswa, dia yakin, gagasan itu bisa dipertimbangkan. ”Mereka melihat pentingnya menghidupi sikap Integritas Terbuka,” tutur Sr Gera, ”Perbedaan justru menjadi alasan untuk memperkaya dan merayakan.”

Integritas Terbuka mungkin dapat melampaui pendekatan pluralisme. ”Pendekatan ini bisa dipertimbangkan oleh masyarakat yang haus pengetahuan yang benar,” lanjut Sr Gera, yang diangkat Paus Benediktus XVI, Juli 2005, sebagai Utusan Khusus Vatikan untuk dialog lintas agama di Indonesia.

Karya Sr Gera memperkaya pemikiran tentang relasi umat Muslim-Kristiani, yang juga dibahas Prof Syafa’atun Amirzanah dari UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, dalam When Two Mystic Masters Meet (2009).

Panggilan

Integritas Terbuka menjadi sikap Sr Gera dalam memahami Islam. Dia tidak sekadar mengerti Islam. Dia menghidupi pengetahuan itu melalui pengalaman spiritualnya; sesuatu yang tak bisa disanggah orang lain, tetapi bisa dibagikan dan mampu menyentuh kedalaman hati teman dialog.

Dia berpuasa sepanjang Ramadhan, berdoa dan merasakan kesakitan akibat penolakan dan ketakutan. Di ruang doanya terpampang ayat-ayat penting dari Al Quran dan Bible. Dia bersahabat dengan warga sederhana dan kaum intelektual Muslim. Satu di antaranya, Budhy Munawar Rachman, yang banyak membantunya.

Sr Gera merasa mendapat tiga panggilan hidup. ”Pertama, sebagai biarawati pada tarekat RSCJ. Kedua, mempelajari dan memahami Islam. Ketiga, bekerja untuk anak-anak berkebutuhan khusus,” ungkap anak keempat dari lima bersaudara itu.

Ketertarikannya pada Islam muncul pada usia tiga tahun, saat melihat seorang laki-laki shalat. Bayangan itu mengendap dan membuatnya ingin tahu siapa yang berada di dalam hati orang saat shalat.

Bekerja di Konsulat Oman di Mumbai, selama empat tahun (1984-1988), juga bukan kebetulan. ”Waktu mau keluar, saya mendapat kenang-kenangan sajadah, Al Quran, dan tasbih dari Konsul.”

Semua dia tinggalkan waktu masuk biara, ”Tetapi pemimpin Komunitas RSCJ mengatakan, ’Kenapa tidak dibawa. Itu kan bagian dari dirimu’,” kenangnya.

Pada tahun 2000, pemimpin umum tarekat mengutus Sr Gera ke Indonesia. Seperti gayung bersambut. Sr Gera tahu, sebagian besar penduduk Indonesia adalah Muslim. Inilah tempat terbaik untuk belajar, memahami, dan meresapi kekayaan Islam. Begitulah!

 

Mendorong Integritas Terbuka-Suster Gerardette Arsip Adiwarman Idris 16-06-2016

Suster Gerardette
Arsip Adiwarman Idris (16-06-2016)

Sr Gerardette Philips, RSCJ, PhD

Lahir:

Bhusawal, India, 20 Februari 1966

Pekerjaan:

Dosen pada Fakultas Filsafat Universitas Katolik Parahyangan dan Program Religious Studies Universitas Islam Negeri Sunan Gunung Jati, Bandung

Pendidikan:

  1. S-1 Pendidikan Khusus dari Jamia Millia Islamia
  2. S-2 Pendidikan Khusus dari SNDT Women’s University, Mumbai
  3. Teologi dari Jnana Deep Vidyalaya Pune, India
  4. S-2 Filsafat Islam dan Tassawuf pada Islamic College for Advanced Studies (London) dan Universitas Paramadina Jakarta
  5. PhD dari STF Driyarkara

Maria Hartiningsih
Penulis dan Wartawan
Tinggal di Jakarta

Sumber Berita: Rubrik Sosok Kompas Cetak Selasa, 28 Juni 2016

 

 

Berita Terkini

UNPAR Raih Penghargaan Pengabdian Masyarakat dari Tribun Jabar

UNPAR Raih Penghargaan Pengabdian Masyarakat dari Tribun Jabar

UNPAR.AC.ID, Bandung – Universitas Katolik Parahyangan (UNPAR) meraih penghargaan “Pengabdian Masyarakat Melalui Pendidikan”  dalam ajang Editor’s Choice 2.0 yang diselenggarakan surat kabar harian Jawa Barat, Tribun Jabar. UNPAR dinilai menjadi Perguruan Tinggi...

Kontak Media

Divisi Publikasi

Kantor Pemasaran dan Admisi, Universitas Katolik Parahyangan

Jln. Ciumbuleuit No. 94 Bandung
40141 Jawa Barat

Jun 28, 2016

X