Sebagai negara plural, Indonesia mengajak bangsanya untuk belajar mengerti, memahami, dan menerapkan makna semboyan “Bhinneka Tunggal Ika” (Berbeda-beda tetapi tetap satu).
Demikian pula di lingkup perguruan tinggi, pluralisme menjadi hal yang tak terelakkan. Sivitas akademika sebuah perguruan tinggi tentunya terhimpun dari berbagai suku, ras, etnis yang beragam serta latar belakang yang berbeda pula. Oleh karena itu, perguruan tinggi memiliki peran penting dalam membantu menjembatani dialog multikultur.
Unpar dan Pluralisme
Sejak awal berdiri di tahun 1955, Universitas Katolik Parahyangan (Unpar) menunjukkan komitmennya dalam penyelenggaraan pendidikan tinggi yang berpedoman pada Spiritualitas dan Nilai Dasar Unpar (Sindu). Sindu digali dari semangat hidup pendiri dan makna terdalam sesanti Unpar “Bakuning Hyang Mrih Guna Santyaya Bhakti” (berdasarkan ke-Tuhan-an menuntut ilmu untuk dibaktikan kepada masyarakat).
Sebagaimana dipaparkan dalam Sindu, nilai dasar Unpar yang ketiga yakni hidup dalam keberagamaan (bhinneka tunggal ika) menjadi salah satu pedoman yang selalu dipegang teguh oleh komunitas akademik Unpar di tengah masyarakat.
Unpar mengakui dan meyakini bahwa pluralisme menjunjung tinggi sikap saling mengerti dan memahami, toleransi serta dialog yang berarti kesiapan diri untuk saling terbuka satu dengan lainnya.
Unpar berupaya memahami dan menanamkan makna pluralisme di lingkungan universitas melalui berbagai macam langkah seperti keberadaan mata kuliah umum (MKU) Fenomenologi Agama bagi yang memeluk agama selain Katolik, penyelenggaraan geladi spiritual dan budaya, penerimaan mahasiswa asing, serta penyelenggaraan perayaan Natal bersama dan halalbihalal dalam rangka Perayaan Idul Fitri yang rutin diadakan setiap tahun.
MKU Fenomenologi Agama merupakan salah satu mata kuliah humaniora selain agama Katolik, Logika, Etika dan Estetika yang dikelola oleh Lembaga Pengembangan Humaniora (LPH). MKU tersebut menjadi sebuah media bagi mahasiswa untuk memahami fenomena dan dinamika perkembangan kehidupan agama dari zaman ke zaman, termasuk berbagai kecenderungan manusia dalam merespon perkembangan kehidupan keagamaan tersebut.
Selain itu, mahasiswa diajak untuk memahami dan mendalami agamanya masing-masing secara rasional dan obyektif. Melalui MKU Fenomenologi Agama, Unpar berupaya untuk mengajak mahasiswa untuk memahami makna pluralitas beragama dan memberikan keleluasaan berupa penyediaan alternatif mata kuliah lainnya di samping penyediaan MKU Pendidikan Agama Katolik yang bersifat opsional.
Selain itu, LPH Unpar menyediakan program pendampingan berupa geladi diri. Program pendampingan tersebut bertujuan untuk membantu mengembangkan kepribadian dan karakter mahasiswa Unpar. Geladi diri spiritual dan budaya merupakan dua jenis geladi yang diyakini sesuai dengan penerapan dan pengembangan makna pluralisme di lingkungan Unpar.
Geladi spiritual menjadi wadah bagi mahasiswa yang ingin memperdalam religiusitas sesuai dengan agama masing-masing seraya menikmati keindahan setiap agama. Di sisi lain, geladi budaya memberikan pengalaman baru bagi mahasiswa Unpar, khususnya yang berasal dari luar tatar Sunda untuk belajar memaknai dan menganalisa situasi sosial dan budaya masyarakat Sunda. Dialog antarbudaya yang terjadi selama kegiatan berlangsung dapat memperluas wawasan mahasiswa dalam memahami kebiasaan dan budaya bangsa yang beragam. Secara bersamaan, rasa empati serta kepekaan sosial juga diharapkan dapat tumbuh melalui geladi budaya ini.
Upaya lain yang menjadi perhatian Unpar adalah penyelenggaraan program internasional di bawah naungan Kantor Internasional dan Kerjasama (KIK) Unpar. Adapun program-program internasional tersebut meliputi Be Unpar Delegation!, ACICIS—Australian Consortium for ‘In-Country Indonesian Studies, Immersion Program, Social Entrepreneurship Boot Camp, International Student Conference (ISC), dan Learning Sundanese Cultures.
Program internasional tersebut diharapkan dapat menjadi media bagi mahasiswa Unpar yang multikultur untuk belajar memahami dan memaknai pluralisme budaya bangsa di dunia dalam perannya sebagai global citizens yang berpegang pada nilai universal “Unity in Diversity”.
Unpar menyadari peran penting universitas dalam mewadahi dialog multikultur karena lingkungan Unpar terdiri atas beragam masyarakat dari berbagai latar belakang budaya, ras, agama, dan bahasa, yang bertemu dan saling berinteraksi. Unpar juga meyakini bahwa pluralisme di lingkungan universitas perlu dijaga sebagai warisan budaya bangsa.
Sumber: Kompas – Griya Ilmu (Selasa, 28 Juni 2016)





