Getting to the S(e)oul of Asia’s Rising Tiger

Studi Ekskursi Kebudayaan Korea 2016

Pengaruh kebudayaan Korea beberapa tahun ke belakang semakin terasa khususnya di Indonesia. Misalkan saja dengan masuknya drama Korea yang populer di Indonesia pada era awal 2000-an, serta munculnya Korean Pop (K-Pop) yang turut memicu munculnya boyband dan girl band, dimana grup-grup tersebut kebanyakan berkiblat kepada grup K-Pop. Pengaruh kebudayaan Korea ini dikenal sebagai Korean Wave (Halyu). Halyu sendiri dipandang sebagai suatu bentuk soft power pemerintah Korea dalam menyebarkan pengaruhnya di dunia yang dinilai sangat berhasil.

Mengambil tema “Getting to the S(e)oul of Asia’s Rising Tiger”, Divisi Eksternal Himpunan Mahasiswa Program Studi Ilmu Hubungan Internasional (HMPSIHI) Universitas Katolik Parahyangan (Unpar) kembali mengadakan program tahunan Studi Ekskursi, dengan Korea Selatan sebagai destinasinya. Program yang dikhususkan bagi mahasiswa HI Unpar ini dilaksanakan pada 5-14 Juni 2016. Program tersebut bertujuan untuk memberikan pengalaman belajar lebih bagi mahasiswa yang mengikutinya dengan melakukan kunjungan ke beberapa institusi yang berada di luar negeri.

Perjalanan selama 9 hari yang telah dilaksanakan memfokuskan pada penggunaan budaya sebagai soft power Korea Selatan, yang terkait dengan aspek public diplomacy. Terdapat enam institusi yang dikunjungi. University of Seoul menjadi institusi pertama yang dikunjungi oleh para peserta, dimana mereka berkesempatan untuk saling bertukar pandangan terkait Halyu dengan beberapa mahasiswa Ilmu HI di universitas tersebut. Diskusi berjalan menyenangkan karena peserta dapat melihat bagaimana perspektif kaum muda dalam memandang hal tersebut.

Asia-Pasific Center for Education and International Understanding (APCEIU), sebuah lembaga di bawah koordinasi United Nations Educational, Scientific, and Cultural Organization (UNESCO) menjadi institusi berikutnya yang dikunjungi. APCEIU memiliki fokus pada Global Citizenship Education (GCED) dengan usaha untuk memberdayakan pelajar. Untuk mempromosikan GCED yang juga menjadi salah satu agenda pendidikan pasca 2015 (post-2015 education agenda), APCEIU melaksanakan beberapa program diantaranya capacity building untuk tenaga pengajar, penelitian dan pengembangan kebijakan pendidikan, diseminasi informasi, melakukan pengembangan materi pelajaran, serta teacher exhange.

Pada hari lainnya, peserta berkesempatan mengunjungi Kedutaan Besar Republik Indonesia untuk Republik Korea di Seoul. Peserta berdiskusi dengan staf kedutaan besar terkait bagaimana usaha-usaha yang dilakukan oleh pemerintah Indonesia melalui kedutaan besar dalam mempromosikan Indonesia melalui teknik soft power diplomacy.

Penyediaan beasiswa Dharma Siswa serta Seni dan Budaya bagi mahasiswa Korea untuk belajar di Indonesia, ikut serta dalam beberapa expo internasional, serta mengundang media Korea untuk meliput destinasi wisata di Indonesia menjadi beberapa cara yang dilakukan sebagai upaya mempromosikan Indonesia. Diungkapkan bahwa kesulitan yang dihadapi pemerintah dalam melakukan pendekatan kepada masyarakat Korea adalah masih adanya sifat etnosentrisme yang membuat mereka sedikit tertutup dengan kebudayaan asing. Meski begitu, pemerintah Korea juga sedang mendorong usaha promosi multikulturalisme.

Institusi berikutnya adalah Sejong Institute, sebuah lembaga think tank kebijakan terdepan di Korea Selatan. Didirikan pasca “Rangoon Incident” pada Desember 1983, dan memulai kegiatan risetnya pada 1986. Sejong Institute didirikan untuk menjalankan riset, pendidikan, serta pelatihan terkait keamanan nasional, hubungan internasional, dan inter-Korean unification. Peserta mendapatkan presentasi dari Kie-Duck Park, Ph.D. yang merupakan peneliti senior Sejong Institute, yang juga pernah menjabat sebagai presiden institusi tersebut. Beliau menyampaikan padangan terkait perkembangan soft power diplomacy Korea saat ini melalui perspektif demokrasi.

Di hari lain, EWHA Womens University menjadi tujuan insitusi berikutnya yang dikunjungi. Setelah melakukan campus tour di salah satu universitas homogen (yang hanya menerima mahasiswa perempuan) terbaik di Korea Selatan ini, peserta berkesempatan mendapatkan sesi perkuliahan di dalam kelas yang disampaikan oleh profesor Brendon M. Howe, bertema “South Korea’s Soft Power and Public Diplomacy in International Affairs”. Beliau menjelaskan bagaimana Korea Selatan menerapkan konsep niche diplomacy (spesialisasi pada satu hal saja) melalui public diplomacy-nya untuk membangun citra baik Korea Selatan, serta Korea secara keseluruhan dengan fokus pada edukasi dan bantuan kemanusiaan.

Institusi terakhir yang dikunjungi adalah ASEAN-Korea Center. Lembaga independen ini didirikan untuk menjalankan program dan aktivitas yang mendukung penguatan hubungan saling menguntungkan antara negara anggota ASEAN dengan Korea melalui peningkatan volume perdagangan, mendorong arus investasi, menyegarkan pariwisata, serta meningkatkan pertukaran orang dan budaya.

Selain itu, peserta juga mendapatkan kesempatan mengunjungi beberapa destinasi wisata. Yang paling menarik adalah ketika peserta berkunjung ke Korean Demilitarized Zone (DMZ), dimana peserta dapat memasuki terowongan ketiga yang dibuat oleh Korea Utara untuk menyusup ke wilayah Korea Selatan. Dari empat terowongan yang telah diungkap oleh pemerintah Korea Selatan, diprediksi masih banyak terowongan lainnya yang belum berhasil diungkap. Peserta juga dapat melihat wilayah Korea Utara melalui teropong jarak jauh dan mengunjungi Dorasan Station yang merupakan sebuah stasiun kereta yang dipersiapkan sebagai jalur menuju Pyongyang (Ibukota Korea Utara) ketika Korea Selatan dan Korea Utara kembali bersatu. Berjarak 56 km dari Seoul dan 205 km dari Pyongyang, stasiun ini sudah dipersiapkan dengan fasilitas yang sangat memadai dan lengkap, layaknya stasiun yang sudah siap dioperasikan.

Berita Terkini

UNPAR Raih Penghargaan Pengabdian Masyarakat dari Tribun Jabar

UNPAR Raih Penghargaan Pengabdian Masyarakat dari Tribun Jabar

UNPAR.AC.ID, Bandung – Universitas Katolik Parahyangan (UNPAR) meraih penghargaan “Pengabdian Masyarakat Melalui Pendidikan”  dalam ajang Editor’s Choice 2.0 yang diselenggarakan surat kabar harian Jawa Barat, Tribun Jabar. UNPAR dinilai menjadi Perguruan Tinggi...

Kontak Media

Divisi Publikasi

Kantor Pemasaran dan Admisi, Universitas Katolik Parahyangan

Jln. Ciumbuleuit No. 94 Bandung
40141 Jawa Barat

Jun 21, 2016

X