Pada 13-17 Maret 2016 lalu, Program Pascasarjana Magister Ilmu Sosial Universitas Katolik Parahyangan (MIS Unpar) baru saja melakukan kunjungan lapangan ke Brunei Darussalam dan Malaysia. Adapun kunjungan dilakukan secara khusus ke KBRI Bandar Seri Begawan (KBRI BSB), University of Brunei Darussalam (UBD), Institute of Asian Studies (IAS), Sabah dan Sarawak, Malaysia.
Di dampingi Dr. Sukawarsini Djelantik selaku dosen Program MIS Unpar, kunjungan lapangan ini memberi kesempatan pada Taufan Hendarsayah Akbar, salah satu mahasiswa MIS, untuk memaparkan karya tulis dengan tema “Indonesia and Non-Aligned Movement: Cooperation in Higher Education (2009-2015)”. Selain Taufan, Amelia Maya Irwanti, salah satu alumnus MIS Unpar turut memaparkan karya tulis dengan tema “Diplomasi Bilateral dan Multilateral Indonesia dalam membela Kepentingan TKI di Malaysia dan Saudi Arabia”.
Tidak hanya menyuarakan penelitian-penelitian yang dilakukan, segenap rombongan mahasiswa MIS Unpar pun dapat berinteraksi dan berdiskusi dengan para akademisi dari UBD. Dialog hangat bersama pejabat di KBRI dan praktisi diplomasi turut menambah wawasan mahasiswa MIS Unpar.
Dr. Pribadi Sutiono selaku Deputy Chief of Mission (DCM) KBRI BSB memaparkan seputar polemik dan tantangan yang dihadapi antara Indonesia dengan Brunei Darussalam, termasuk kerjasama Indonesia dalam kerangka ASEAN, diikuti uraian seputar fungsi politik, pendidikan, sosial budaya, ekonomi, maupun kekonsuleran.
Pribadi mengatakan bahwa Brunei Darussalam merupakan negara kecil dengan kekayaan SDA meliputi minyak dan gas alam. Menurut Pribadi, jika sumber-sumber minyak dan gas telah habis maka, Brunei Darussalam bisa jadi mengirimkan tenaga-tenaga kerjanya ke luar negeri, termasuk Indonesia.
Melalui kunjungan ini, mahasiswa MIS Unpar khususnya para pengkaji Ilmu Hubungan Internasional dapat mempelajari, melihat, dan mengalami secara langsung fenomena-fenomena sosial, politik, ekonomi yang terjadi di Asia Tenggara. Dalam hal ini, mahasiswa MIS Unpar berkesempatan mempelajari berbagai teori tidak hanya melalui diskusi-diskusi di dalam kelas tetapi juga berinteraksi langsung dengan warga negara di negara tujuan, kalangan akademisi, diplomat.





