International Relations English Club (IREC), sebuah organisasi internal dibawah Himpunan Mahasiswa Program Studi Ilmu Hubungan Internasional (HMPSIHI) Unpar kembali mengadakan Parahyangan Model United Nations (PMUN). Acara yang telah diadakan sejak tahun 2006 ini telah menjadi ajang model united nations yang paling terkemuka dan bergengsi bagi siswa SMA di Indonesia. PMUN diselenggarakan guna mewadahi para siswa yang memiliki ketertarikan untuk mempelajari dan mengembangkan kemampuan diplomatik mereka, serta menjadi ajang untuk memperkenalkan serta meningkatkan kepedulian siswa terhadap dunia hubungan internasional.
Di tahun ini, PMUN yang diselenggarakan pada 3-5 Maret 2016 lalu untuk pertama kalinya menghadirkan format sidang Council of European Union (Dewan Uni Eropa) setelah selama 9 tahun menggunakan format Sidang Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Hal ini memberikan kesempatan bagi para siswa untuk merasakan format sidang MUN yang sedikit berbeda dari program sejenis lainnya. Di tahun ini juga PMUN menghadirkan 2 juri panel yakni Kathrin Rucktaschel (dosen) dan Julia Durmin (mahasiswa) dari TU Dortmund, Jerman yang merupakan salah satu universitas mitra HI Unpar.
Isu krisis pengungsi di kawasan Eropa diangkat menjadi tema simulasi sidang tahun ini. Hal ini dikarenakan tema ini sedang menjadi isu yang sedang hangat untuk diperbincangkan dan dibahas dalam konteks hubungan internasional. Isu ini dipandang menarik karena dengan arus pengungsi dari Timur Tengah yang terus-menerus membanjiri negara-negara di wilayah Eropa, hal tersebut menimbulkan implikasi pada negara-negara penerima. Berbagai permasalahan timbul seperti adanya diskriminasi ras, permasalahan keamanan, serta ketidakmampuan para pengungsi untuk beradaptasi dengan lingkungan barunya. Sebanyak 75 siswa/i dari 13 SMA berbeda dibagi menjadi 25 delegasi membahas dan memperdebatkan isu ini untuk menghasilkan penyelesaian terbaik atas permasalahan yang ada.
Seperti pada pelaksanaan sebelum-sebelumnya, sebelum melaksanakan simulasi sidang pada hari kedua, peserta mendapatkan pembekalan materi dari ibu Mitra Salima, perwakilan dari United Nations High Commissioner for Refugees (UNHCR) dan ibu Yunita, selaku perwakilan SUAKA (sebuah organisasi non-pemerintah yang berhadapan langsung dengan pengungsi dan pencari suaka di Indonesia. Selain itu, peserta juga mendapat pembekalan table manner pada malam harinya.





