Menuju 63 Tahun Perjalanan Unpar

“Perkembangan yang terutama terasa bahwa Unpar tetap hebat, tetap eksis. Dan ini tentu bukan pekerjaan yang mudah untuk menjaga, mempertahankan kualitas yang baik dari sebuah perguruan tinggi,” ungkap Mangadar Situmorang Ph.D Rektor Universitas Katolik Parahyangan (Unpar) yang ditemui tim Publikasi pada Jumat (24/11).

Mangadar membagikan kisahnya tentang Unpar yang sebentar lagi menginjak usia ke-63 tahun. Didirikan sejak 1955, Unpar adalah salah satu universitas swasta pertama di Jawa Barat. Perjalanan lebih dari enam dekade, mewarnai kampus Unpar yang telah mencetak banyak lulusan dari berbagai bidang studi.

“Jadi, 63 tahun Unpar bertahan dengan kualitas terjaga adalah sebuah prestasi yang luar biasa. (Ini) merupakan capaian kolektif. Bukan hanya sekelompok orang, bukan hanya rektorat, yayasan, tetapi seluruh stakeholders universitas ini,” kata beliau.

Tantangan

Tentu saja, ada banyak tantangan yang dihadapi Unpar selama perjalanannya. Mangadar mengakui bahwa persoalan-persoalan tersebut tidak hanya dirasakan dua atau tiga tahun terakhir.

Ada banyak hal yang menjadi perhatian. Seperti, ujar beliau, fasilitas bagi kenaikan jabatan lektor kepala hingga guru besar bagi dosen yang telah menempuh studi doktoral. Kemudian, perihal pengembangan kompetensi tenaga kependidikan, sumber daya finansial, infrastruktur, kerja sama dengan pihak pemerintah dan lembaga hingga kiprah alumni Unpar yang tersebar di berbagai bidang profesi.

Mangadar menyebut, tantangan lainnya adalah perihal pemaknaan dan pemahaman visi universitas oleh seluruh sivitas akademika Unpar. Selama ini, ungkapnya, kita (warga Unpar) hanya terpaku pada sesanti Unpar “Bakuning Hyang Mrih Guna Santyaya Bhakti” yaitu Berdasarkan Ketuhanan Menuntut Ilmu untuk Dibaktikan kepada Masyarakat. Dalam hal ini, visi Unpar sendiri masih belum disosialisasikan secara jelas atau tidak dipahami secara utuh. Maka dari itu, ujar beliau, sangat penting untuk menyosialisasikan dan mengomunikasikan visi tersebut untuk dapat membangun pemahaman yang sama tentang Unpar itu sendiri.

Kekhasan Unpar

Adapun, pemahaman visi Unpar tersebut dituangkan ke dalam Spiritualitas dan Nilai-Nilai Dasar Unpar (SINDU) yang menjadi kekhasan, keutamaan Unpar. Mangadar memaparkan bahwa kekhasan Unpar adalah keutamaan dari nilai-nilai atau spiritualitas Unpar yang terkandung dalam SINDU.

Tiga nilai dasar yang ada dalam SINDU yaitu humanum dimaknai sebagai kemanusiaan yang utuh, caritas in veritate yaitu cinta akan kebenaran, kasih dalam kebenaran, lalu yang ketiga kebhinekaan. “Paling tidak (ketiga nilai itu) yang sering kita kemukakan secara mudah,” terang beliau yang menjabat sebagai Rektor Unpar sejak 2015 lalu.

Baginya, Unpar tidak hanya sebuah komunitas akademik, tetapi komunitas akademik yang humanum. Kemudian, cinta kasih dalam kebenaran diterapkan dalam banyak dimensi. Juga, kebhinekaan menjadi salah satu hal yang cukup dominan. Ia mengungkapkan, “Unpar menjadi komunitas yang inklusif, terbuka. Sehingga kebhinekaan, pluralitas, (inklusivitas) itu menjadi ciri khas yang saya kira tidak dimiliki oleh perguruan tinggi swasta yang lain. Bahwa perguruan tinggi ini, Unpar terbuka untuk siapapun.”

“Itu yang saya kira bisa disebut sebagai kekhasan, keistimewaan, keutamaan Unpar, sekaligus menjadi pembeda Unpar dengan perguruan tinggi lain,” imbuhnya.

Harapan

Ketika ditanya mengenai harapan beliau terhadap kemajuan Unpar, Mangadar mengungkapkan, harapan tentu terkait dengan bagaimana seluruh sivitas akademika Unpar membangun universitas ini. Meskipun, tambahnya, juga harus jelas mengenai ukuran kemajuan tentang target membangun Unpar itu seperti apa. ”Katakanlah, apakah Unpar mau menambah jumlah mahasiswanya menjadi 12,000 atau menjadi 15,000. Apakah dosen-dosen Unpar ingin menjadi doktor, menjadi lektor kepala dan guru besar dan berapa banyak,” terang beliau yang memulai karirnya di Unpar sejak 1989 sebagai dosen FISIP.

Lalu, lanjutnya, harapan berikutnya tentu adalah kondisi atau syarat yang harus kita penuhi agar target-target itu tercapai. “Mahasiswanya harus bisa 12,000-15,000 dalam 5 taun ke depan. Dosen-dosennya harus lebih banyak lagi. Doktornya harus lebih banyak. Riset dan publikasi itu harus lebih banyak,” ungkapnya antusias.

Kemajuan Unpar ditentukan oleh individu-individunya. Kemajuan itu akan menjadi kemajuan bersama. Dalam mencapai hal tersebut, diperlukan dukungan sumber daya yang tepat. Begitu pula dengan alumni Unpar, yang bersedia berkolaborasi, mendukung Unpar.

Di sisi lain, terkait akademik dan tata kelola universitas menjadi hal utama lainnya. Beliau kembali mengingatkan, Unpar bisa berfokus pada optimalisasi potensi-potensi yang dimiliki, baik dari pimpinan universitas dan yayasan, dosen, tenaga kependidikan, mahasiswa, dan seluruh pegawai Unpar. Menutup wawancara Mangadar mengatakan, “Ini pesan yang bisa saya sampaikan kepada semua sivitas akademika Unpar untuk terus mengupayakan pengembangan diri itu. Yayasan dan rektorat, para alumni akan terus bersama-sama mendukung (tujuan dan pencapaian tersebut).”

(Wawancara: Mangadar Situmorang Ph.D Rektor Unpar)

Berita Terkini

UNPAR Raih Penghargaan Pengabdian Masyarakat dari Tribun Jabar

UNPAR Raih Penghargaan Pengabdian Masyarakat dari Tribun Jabar

UNPAR.AC.ID, Bandung – Universitas Katolik Parahyangan (UNPAR) meraih penghargaan “Pengabdian Masyarakat Melalui Pendidikan”  dalam ajang Editor’s Choice 2.0 yang diselenggarakan surat kabar harian Jawa Barat, Tribun Jabar. UNPAR dinilai menjadi Perguruan Tinggi...

Kontak Media

Divisi Publikasi

Kantor Pemasaran dan Admisi, Universitas Katolik Parahyangan

Jln. Ciumbuleuit No. 94 Bandung
40141 Jawa Barat

Dec 11, 2017

X