“Tuntutlah Ilmu Sampai ke Negeri China”. Petuah bijak tersebut bukan berarti bahwa harus pergi ke China untuk mendapatkan ilmu, melainkan karena Negeri Tirai Bambu merupakan salah satu peradaban tertua dunia sudah banyak menguasai berbagai keilmuan.Mahasiswa
Pada abad ke-21, tidak hanya China yang memiliki berbagai keilmuan mutakhir, tetapi juga Amerika Serikat, Australia, atau negara-negara Eropa yang banyak disasar orang yang ingin melanjutkan studi.
Pilihan program studi yang unik pun menjadi salah satu daya tarik. Outdoor and Adventure Education, Terrorism and Security Studies, Automotive and Transport Design, Mental Health Nursing, Sustainability Design, Nuclear Engineering, dan banyak lagi. Apabila dibandingkan dengan program studi di Indonesia, pilihan yang diberikan jauh lebih spesifik.
Namun, stigma bahwa belajar di luar negeri itu mewah dan mahal menyebabkan pelajar Indonesia mengurungkan niat dan lebih memilih untuk melanjutkan studi di Indonesia.
Menurut pendiri Euro Management Bimo Sasongko, pengiriman pelajar ke luar negeri merupakan manifestasi kepedulian negara dan masyarakat dalam meningkatkan kualitas sumber daya masyarakat (SDM), seperti dikutip dari Koran-Jakarta.com. Indonesia, lanjut Bimo, masih harus menyerap dan membutuhkan ilmu-ilmu dari negara maju. Lain halnya apabila belajar di luar negeri.
Belajar di luar negeri banyak memberikan manfaat, seperti kepercayaan diri, kemandirian, dan kemampuan berbahasa asing sehingga mampu bersaing di pasar global. Selain itu, mempelajari budaya baru dan memiliki jejaring yang jauh lebih luas.
Stigma bahwa belajar di luar negeri itu mahal tidak sepenuhnya benar karena, kata Bimo, beberapa negara di Eropa seperti Jerman dan Perancis, memberikan pendidikan gratis untuk perkuliahan dalam bahasa Perancis dan Jerman.
Di Kota Bandung, konsultan-konsultan pendidikan memberikan informasi dan bantuan bagi para calon mahasiswa yang ingin berkuliah di luar negeri. Oleh karena itu, mereka tidak perlu mengurus seluruh persyaratan administrasi secara mandiri. Selain itu, konsultan pendidikan memiliki beragam informasi mengenai beasiswa di berbagai negara.
International Office (IO) Fest
Universitas Katolik Parahyangan (Unpar) memfasilitasi mahasiswa-mahasiswinya untuk mengikuti program pertukaran dan melanjutkan studi di luar negeri. Hal itu diwujudkan dengan diadakannya IO Fest oleh Kantor Internasional dan Kerjasama (KIK) Unpar pada Rabu (18/10) lalu di Plaza Pusat Pembelajaran Arnzt-Geisse (PPAG) kampus Unpar, Ciumbuleuit.
Salah satu agenda pada kegiatan itu adalah info session yang diisi oleh Institut Français d’Indonésie (IFI), Bright Indonesia, Vista Education, James Madison University (JMU), dan International Network of Universities (INU).
Bright Indonesia menyebutkan, kesempatan beasiswa di Swedia untuk pelajar internasional yang ingin menempuh jenjang studi S-2. Calon mahasiswa bisa mendaftarkan diri untuk mendapatkan beasiswa di seluruh universitas di Swedia. Bahasa yang digunakan adalah bahasa Inggris sehingga Bright Indonesia menjelaskan persiapan-persiapan IELTS dan TOEFL yang harus dilewati.
Lain halnya dengan Perancis. IFI mengatakan, kemampuan berbahasa Perancis harus dimiliki oleh calon mahasiswa yang ingin berkuliah di negara yang terkenal dengan fashion-nya itu karena warga Perancis bangga dengan bahasanya sendiri sehingga hanya sedikit orang yang fasih berbahasa Inggris.
Representatif JMU untuk INU Jeanne Horst menyebutkan beberapa tips untuk berkuliah di Amerika Serikat tanpa biaya yang mahal. Caranya, mendaftarkan diri untuk beasiswa dan berkuliah selama dua tahun di community college. Setelah itu, melanjutkan ke universitas selama dua tahun. Untuk masuk universitas di AS, lanjutnya, perlu menyerahkan skor TOEFL atau IELTS dan SAT.
Sementara itu, Vista Education menyebutkan kesempatan beasiswa di China yang bisa diperoleh oleh pelajar asing, terutama untuk jenjang program master. Melalui IO Fest, diharapkan dapat memberikan informasi mengenai peluang studi, program pertukaran pelajar, dan mendorong mahasiswa untuk berpartisipasi aktif dalam beragam kegiatan internasional.
Sumber: KOMPAS – Griya Ilmu (Selasa, 24 Oktober 2017)





