Jenjang Magister, Bersaing Secara Profesional

Program Magister Sekolah Pascasarjana Universitas Katolik Parahyangan (Unpar) menyelenggarakan sebuah talkshow dengan tema “Master, Does It Matter?” pada Selasa (18/7) di Ruang Audio Visual Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik. Acara ini difasilitasi oleh Ronald Kumowal (Human Capital Development ManagerYogya Group) dan Joeliana Fifi (Founder Group-Warung Talaga).

Dalam acara tersebut, dibahas mengenai sejauh mana kompetensi yang dimiliki oleh lulusan S1 cukup untuk bersaing di dunia kerja dalam mencapai kesuksesan kariernya. Dewasa ini pengaruh globalisasi sangat berimplikasi besar terhadap kehidupan sosial masyarakat. Hal tersebut dapat dilihat dari pesatnya perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, informasi dan komunikasi yang menuntut untuk selalu berinovasi.

Kompetisi dalam dunia kerja pun semakin selektif dan selalu mengutamakan profesional kerja. Fenomena tersebut berdampak pada sejumlah tenaga kerja lulusan S1 di Indonesia yang memiliki pekerjaan setara dengan lulusan SMA sederajat serta kalah bersaing dengan tenaga kerja yang berasal dari luar teritorial Indonesia.

Lagu kolam susu yang menggambarkan Indonesia kaya akan sumber daya alam kini hanya tinggal kata romantis dari leluhur. Tanpa keterampilan dan keahlian, sumber daya manusia akan sulit berkompetitif dan berkembang dalam mengolah sumber daya alam yang tersedia. Persaingan global juga seharusnya beralih dari keunggulan komparatif menuju keunggulan kompetitif yang telah diterapkan kebanyakan negara maju.

Ronald Kumowal mengawali pengantar talkshow dengan mengutip data dari OECD (The Organization for Economic Cooperation and Development) tahun 2012 bahwa Indonesia merupakan negara kelima terbesar yang memiliki sarjana terbanyak di dunia. Namun, jumlah pengangguran sarjana mencapai 5,5 % dari pengangguran terbuka yang mencapai 7 juta orang.

“Dalam hukum ekonomi yang sederhana, pertumbuhan ekonomi Indonesia 1% ekuivalen dengan 250 ribu tenaga kerja baru.  Jadi  satu orang calon tenaga kerja bersaing dengan ribuan tenaga kerja lainnya di Indonesia. Untuk itu, setiap mahasiswa harus mampu belajar, kritis, berkreasi, dan berinovasi dalam menghadapi arus globalisasi, karena semakin Indonesia maju, generasi berikutnya yang masih berada di tingkat bawah dapat menikmati (pendidikan dan pekerjaan yang lebih layak) dan mendapat kesempatan kerja,” ungkap Ronald.

Ia juga menegaskan agar mahasiswa berkomitmen, menghilangkan sifat egois serta memiliki sikap mental yang teratur. Selain itu, ia mengingatkan untuk tidak hidup dengan gaya seperti peribahasa “besar pasak daripada tiang”.

Di sisi lain, Joeliana Fifi menuturkan bahwa untuk menjadi seorang pebisnis, tantangan pertama yaitu kemampuan mengambil risiko dalam proses pencapaian target dan mengidentifikasi target pasar.

“Keberhasilan dalam dunia bisnis juga tidak pernah lepas dari lingkungan, maka strategi yang harus dilakukan yaitu menganalisis lingkungan, dan saya melakukannya dengan analisis lingkungan SWOT (strengths, weaknesses, opportunity dan threat)”, ujar Joeliana

Melanjutkan pendidikan ke jenjang pascasarjana memang menuntut mahasiswa untuk menjadi lebih profesional. Bekal yang mumpuni untuk menghadapi dunia kerja dengan karier yang lebih baik juga diperlukan, terutama dalam persaingan global saat ini.

Berita Terkini

UNPAR Raih Penghargaan Pengabdian Masyarakat dari Tribun Jabar

UNPAR Raih Penghargaan Pengabdian Masyarakat dari Tribun Jabar

UNPAR.AC.ID, Bandung – Universitas Katolik Parahyangan (UNPAR) meraih penghargaan “Pengabdian Masyarakat Melalui Pendidikan”  dalam ajang Editor’s Choice 2.0 yang diselenggarakan surat kabar harian Jawa Barat, Tribun Jabar. UNPAR dinilai menjadi Perguruan Tinggi...

Kontak Media

Divisi Publikasi

Kantor Pemasaran dan Admisi, Universitas Katolik Parahyangan

Jln. Ciumbuleuit No. 94 Bandung
40141 Jawa Barat

Jul 26, 2017

X