Di era globalisasi dan kemudahan teknologi, banyak siswa yang memilih menempuh pendidikan di luar negaranya. Perubahan sistem pendidikan tersebut serta merta akan berimplikasi kepada pembelajaran dan pengajaran mahasiswa internasional di suatu universitas. Tentu saja teknik pembelajaran dan kurikulum pada universitas-universitas di Indonesia berbeda dengan universitas lainnya seperti misalnya di Eropa atau Amerika Serikat.
Di kampus Universitas Katolik Parahyangan (Unpar) sendiri tidak sedikit mahasiswa asing yang mencoba untuk belajar dengan mengikuti program pertukaran pelajar yang diselenggarakan oleh Kantor Internasional dan Kerjasama (KIK) Unpar.
Bukan saja perbedaan dari cara pembelajaran, namun budaya dan kebiasaan dari mahasiswa asing tersebut juga berbeda dengan kebiasaan di Indonesia. Melihat permasalahan tersebut, KIK Unpar menyelenggarakan seminar dan workshop Intercultural Learning and Global Engagement (ILGE).
Workshop ILGE diadakan pada hari ke-2 (24/03/2019) bertempat di Operation Room Unpar. Sesi workshop dibagi menjadi dua bagian dan dibawakan oleh Gwenn Hiller dan Stefanie Vogler-Lipp dari European University Viadrina Jerman.
Workshop pertama mengangkat topik “Intercultural Teaching and Counseling Competencies” dan topik berjudul
“What Do We Learn From Lemons? Method for Teaching Intercultural Competence” dibawakan pada workshop sesi kedua.
Sebelumnya, pada hari pertama ILGE (23/03/2019), peserta mengikuti sejumlah seminar dengan beragam topik terkait Intercultural Learning and Global Engagement.
Game simulation
Setelah para peserta melakukan beberapa ice breaking, selanjutnya peserta diminta untuk menjawab beberapa pertanyaan yang rumit namun dalam waktu singkat. Metode tersebut dikenal dengan nama game simulation, yang mana peserta diminta untuk mensimulasikan suatu situasi sulit. Dengan memberikan tugas yang rumit dalam waktu yang cepat, peserta dapat merasakan time pressure atau bahkan merasa marah bahkan bingung.
Menurut Gwenn Hiller, perasaan-perasaan tersebut tumbuh pada saat seorang individu berada di situasi yang tidak familiar. Maka dari itu, individu tersebut harus dapat mengembangkan strategi baru untuk mengatasi situasi yang tidak familiar tersebut dan harus bisa lebih kreatif dan berpikir outside the box. Dikarenakan setiap individu itu berbeda, atau dalam kasus ini mahasiswa dari berbagai negara dengan latar belakang budaya yang berbeda, jadi para pengajar seharusnya bisa membangun strategi dan solusi baru yang kreatif untuk dapat mengatasi perbedaan budaya yang ada.
Culture shock theory
Selanjutnya, Hiller memperkenalkan culture shock theory. Culture shock biasanya akan dirasakan ketika seorang individu pergi ke negara lain yang memiliki budaya atau bahasa yang berbeda dan tidak dikenal.
Tidak hanya dirasakan oleh mahasiswa asing, namun culture shock juga bisa terjadi kepada tenaga pengajar. Maka dari itu dibutuhkan intercultural competence strategy yang baik untuk dapat membantu mahasiswa asing mengatasi masalah-masalah tersebut karena dengan budaya yang berbeda-beda akan sulit bagi seorang individu untuk dapat berinteraksi. Metode terakhir yang Hiller ajarkan kepada peserta workshop adalah dengan menggunakan studi kasus yang dinamakan critical incident, peserta diminta untuk membuat pendekatan apa yang paling baik untuk dilakukan agar menyelesaikan masalah-masalah tersebut.
“What Do We Learn From Lemons?”
Workshop kedua yang berjudul “What Do We Learn From Lemons? Method for Teaching Intercultural Competence”, dibawakan oleh Stefanie Vogler-Lipp dari European University Viadrina Jerman. Workshop kedua ini mengajarkan tentang persepsi seorang individu.
Menurut Stefanie, ada tiga aspek yang biasanya dilakukan oleh seorang individu saat mempersepsikan suatu hal, yaitu deskripsi, interpretasi, dan aksi. Pada saat workshop, Stefanie mencontohkannya dengan memberikan sebuah gambar lemon. Pada awalnya peserta hanya melihat hal-hal yang umumnya diketahui oleh orang banyak, yaitu seperti warna lemon yang kuning dan rasanya yang asam. Namun sebenarnya jika dilihat lebih dekat, lemon tersebut berbeda antara satu dengan yang lainnya. Seperti misalnya bentuk dan warnanya yang berbeda-beda.
Sama seperti kasus lemon tersebut, bagaimana seseorang mempersepsikan orang lain pun berbeda-beda. Biasanya seseorang hanya melihat profile luarnya saja, dan tidak melihat perbedaan-perbedaan yang ada. Oleh karena itu dibutuhkan pemahaman lebih mendalam mengenai perbedaan, khususnya perbedaan budaya antara satu dengan yang lain.
Dengan diadakannya workshop ini, diharapkan tenaga pengajar dan praktisi di bidang interkultural dari universitas mendapatkan banyak ilmu untuk menumbuhkan kompetensi komunikasi antar budaya dalam penyelenggaraan aktivitas internasional.





