Oleh: Mangadar Situmorang (Rektor Universitas Katolik Parahyangan)
Bagi banyak orang, termasuk orangtua dan calon mahasiswa; jika para lulusan dapat segera bekerja setelah lulus bahkan sebelum meninggalkan bangku kuliah, hal itu menjadi keunggulan sebuah universitas dan menjadi pertimbangan penting untuk dipilih.
Jika dalam beberapa tahun setelah bekerja, lulusan tersebut menempati tempat yang semakin penting, dan dalam belasan tahun berikutnya yang bersangkutan bisa meraih puncak karier atau menjadi tokoh yang sangat berpengaruh di tengah masyarakat dan dunia usaha, itu semua berkontribusi terhadap reputasi almamaternya.
Tidak hanya orangtua atau calon mahasiswa, Kementrian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti) melalui Badan Akreditasi Nasional-Perguruan Tinggi (BAN-PT) pun menjadikan kriteria lulusan menjadi salah satu standar penting.
Standar pembelajaran di perguruan tinggi dengan demikian menjadi sangat penting untuk membangun pengaruh positif atau efek jangka panjang. Standar tersebut mencakup isi yang tertuang dalam kurikulum, proses yang terjabarkan dalam metode dan penggunaan sarana dan sumber belajar yang tepat, serta standar evaluasi yang secara obyektif mampu mengukur sekaligus menghargai capaian belajar para mahasiswa.
Terkait dengan proses pembelajaran, Unpar terus melihat pentingnya peran dosen. Sejak terdaftar sebagai mahasiswa baru, mereka mendapatkan seorang dosen yang bertindak sebagai wali. Selain memberikan arahan yang terkait dengan kegiatan akademik misalnya dalam memilih mata kuliah-mata kuliah yang akan diambil, dosen wali juga berperan untuk mencari solusi untuk masalah-masalah nonakademik, termasuk masalah keuangan, sosial, dan hal-hal yang sifatnya pribadi. Dalam menjalankan peran tersebut, tiga hal yang harus dilakukan oleh dosen Unpar: hadir, terlibat, dan setia.
Kehadiran dosen sangat penting. Di saat mahasiswa membutuhkan, dosen hadir dan dengan mudah ditemui. Kehadirannya juga haruslah bermakna di mana dosen bersedia walau hanya sekadar mendengarkan mahasiswa dan lebih jauh terlibat dalam mencari solusi atas persoalan yang dihadapi. Kesetiaan menjadi hal penting yang menunjukkan passion dosen sebagai kolega atau teman dalam pergumulan keilmuan dan pencarian kebenaran serta pematangan kepribadian.
Hubungan dosen dan mahasiswa sesungguhnya menjadi landasan yang kuat untuk membangun tradisi akademik yang unggul. Hubungan tersebut bersifat kolegial, dialogis, dan dialektis. Sarana-prasarana serta penggunaan teknologi informasi merupakan instrumentasi yang justru dimaksudkan untuk membuat relasi itu menjadi lebih bermakna. Penerapan e-learning atau distance-learning atau penyediaan sumber dan materi ajar bersifat online tidak dimaksudkan untuk menggantikan relasi-relasi interpersonal antara dosen dan mahasiswa. Komunikasi melalui berbagai alat komunikasi modern, apakah melalui e-mail, SMS, Whatsapp, Line, atau sosial-media lainnya justru hendak menegaskan bahwa dosen hadir, ada, ketika mahasiswa membutuhkan.
Tujuan missioner Unpar yang didirikan 17 Januari 1955 adalah untuk mendidik, mencerdaskan generasi muda Indonesia agar menjadi insan yang andal, mampu, dan kontributif bagi pembangunan masyarakat.
Para pendiri menasehatkan agar Unpar tidak tergoda untuk menjadi besar, tetapi tetap setia pada pelayanan pendidikan tinggi yang diselenggarakan. Para pendahulu dan berbagai tokoh pimpinan masyarakat juga mengingatkan agar Unpar tidak silau oleh gemerlapnya dunia industri, termasuk dunia pendidikan, tetapi tetap berkomitmen bagi pemberdayaan dan pencerdasan generasi penerus bangsa.
Kesetiaan atau komitmen untuk menjaga kualitas akademik ditunjukkan oleh akreditasi A untuk semua program studi sarjana (S1). Sementara itu, program studi diploma (D3) dan pascasarjana (S2 dan S3) atau program studi S1 yang baru didirikan terus berusaha meningkatkan kualitas penyelenggaraan pendidikan khususnya terkait proses belajar-mengajar.
Itulah inti dari The Great Unpar yang terus menjaga reputasi akademiknya yang unggul dan menjadi pertimbangan penting bagi masyarakat dan para calon mahasiswa.
Sumber: Artikel “Tradisi Akademik yang Unggul” pada surat kabar KOMPAS – GRIYA ILMU Edisi 19 Januari 2016.





