Tiga Mahasiswi Mahitala Menuju Puncak Elbrus dan Kilimanjaro

Tiga mahasiswi yang tergabung dalam Mahasiswa Parahyangan Pecinta Alam (Mahitala) Universitas Katolik Parahyangan akan melanjutkan ekspedisi Mahitala untuk menaklukkan tujuh puncak tertinggi di dunia. Mereka akan mendaki Puncak Elbrus di Rusia dan Puncak Kilimanjaro di Tanzania. Tiga mahasiswi dengan semangat tinggi itu adalah Francisca Dimitri Inkiriwang (21), Mathilda Dwi Lestari (21), dan Dian Indah Carolina (19). Pada hari Rabu, 6 Mei 2015 pukul 16.00 WIB di Wind Tunnel Universitas Katolik Parahyangan ketiganya secara resmi dilepas oleh Rektor UNPAR Prof. Robertus Wahyudi Triweko, Ph.D. Acara pelepasan yang bertajuk “The Women of Indonesia’s Seven Summit Expeditions” ini juga dihadiri oleh aktivis perempuan sekaligus istri Gubernur Jawa Barat, Netty Heryawan.

Ketiganya akan berangkat ke Rusia pada 8 Mei mendatang. Kemudian mereka akan terbang ke Tanzania untuk berusaha menancapkan bendera Indonesia di puncak Gunung Kilimanjaro. “Dalam waktu 21 hari (8-29 Mei) kami akan berusaha untuk menaklukkan dua gunung di dua benua, Elbrus di Eropa dan Kilimanjaro di Afrika,”ujar Dimitri. Dimitri yang akrab dipanggil Dee Dee ini menjelaskan bahwa waktu dua minggu yang direncanakan oleh tim sudah melalui perhitungan yang matang dan tidak mengada-ada.

“Perhitungan waktu ekspedisi sudah diperhitungkan sebelumnya. Kami sudah konsultasi dengan rekan kami yang sudah menyelesaikan ekspedisi Seven Summit pada 2011 lalu. Dua minggu itu cukup termasuk untuk masa aklimatisasi (penyesuaian kondisi tubuh dengan ketinggian-red) dan istirahat. Semua sudah dipersiapkan dengan matang dan kami berharap perjalanan ini dapat berjalan tanpa hambatan,” harapnya.

Sebelumnya Mahitala telah berhasil menaklukkan puncak Cartensz Pyramid, Papua bersamaan dengan ekspedisi penggantian tali jalur pendakian. Rektor UNPAR menyatakan bahwa sudah menjadi komitmen Mahitala UNPAR untuk menjaga tali-tali itu agar aman bagi pendaki. Beliau juga menambahkan bahwa ekspedisi menaklukkan tujuh puncak tertinggi dunia ini pernah berhasil dilakukan oleh Mahitala UNPAR pada tahun 2010-2011.

Netty Heryawan dalam kesempatan sambutannya mengutip kata-kata Baden Powell, “Sebuah negara tidak akan pernah kehilangan calon pemimpin mana kala ada pemuda yang masih memiliki keberanian untuk menjelajahi alam dan mendaki gunung.” Beliau mengapresiasi kegiatan ini dan mengatakan bahwa perempuan bukan saja bertumpu pada kodratnya. Selain memiliki kemampuan lain yang tak kalah dengan laki-laki, perasaan perempuan bisa menjadi kekuatan terutama untuk merawat alam. Vandana Shiva di India pernah menggagalkan usaha penghancuran hutan dengan mengadakan gerakan seorang perempuan memeluk satu pohon.

Berdasarkan data statistik www.7summits.com hanya 51 perempuan dari 347 pendaki yang berhasil menaklukkan tujuh puncak tertinggi dunia. Bila mereka berhasil menaklukkan tujuh puncak dunia, maka mereka adalah perempuan Indonesia pertama yang berhasil mendapatkan sebutan Seven Summiteers. Setelah Puncak Kilimanjaro, mereka akan menaklukkan empat puncak lainnya, yakni Everest di Nepal, Aconcagua di Argentina, Vinson Massif di Antartika, serta puncak Denali di Amerika Utara.

Berita Terkini

UNPAR Raih Penghargaan Pengabdian Masyarakat dari Tribun Jabar

UNPAR Raih Penghargaan Pengabdian Masyarakat dari Tribun Jabar

UNPAR.AC.ID, Bandung – Universitas Katolik Parahyangan (UNPAR) meraih penghargaan “Pengabdian Masyarakat Melalui Pendidikan”  dalam ajang Editor’s Choice 2.0 yang diselenggarakan surat kabar harian Jawa Barat, Tribun Jabar. UNPAR dinilai menjadi Perguruan Tinggi...

Kontak Media

Divisi Publikasi

Kantor Pemasaran dan Admisi, Universitas Katolik Parahyangan

Jln. Ciumbuleuit No. 94 Bandung
40141 Jawa Barat

May 7, 2015

X