Universitas, seperti halnya sebuah perusahaan, memiliki tata kelola organisasi dan sumber daya. Manajemen organisasi dan sumber daya berperan dalam mengatur hal-hal agar tetap dalam alur dan porsinya. Seperti mahasiswa dan dosen yang seyogyanya memiliki komunikasi dua arah dalam proses belajar mengajar. Begitupun dengan tenaga kependidikan dan pegawai di berbagai unit yang memiliki peranan dalam hal tersebut. Hal ini, bisa dikatakan kolaborasi multijalur, baik itu antara dosen, tenaga kependidikan, yayasan dan pimpinan universitas, mahasiswa, serta pegawai, tentunya berpengaruh pada penyelenggaraan pendidikan tinggi.
Ditemui tim Publikasi Unpar pada Senin (27/11) lalu, Dr. Orpha Jane mengatakan, ketika bicara mengenai sumber daya tentu saja berkaitan dengan sumber daya manusia, keuangan, sarana prasarana, dan sistem informasi. Bidang keuangan dan sarana prasarana adalah bidang spesifik beliau dalam perannya sebagai Wakil Rektor Bidang Organisasi dan Sumber Daya Universitas Katolik Parahyangan (Unpar).
Menurut hasil visitasi akreditasi BAN-PT beberapa waktu lalu, dilihat dari aspek keuangan, Unpar bisa dikatakan masih belum mencapai ketentuan yang ditetapkan. Hal ini dikarenakan Unpar masih memiliki ketergantungan pada pemasukan dana perkuliahan mahasiswanya. Sebenarnya, Unpar memiliki potensi bagi sumber pendanaan lain untuk menunjang penyelenggaraan universitas. Namun, hal tersebut, ujar Bu Jane demikian ia akrab disapa, belum digarap secara serius.
“Contoh yang paling nyata saja, saya melihat beberapa teman yang di Centre of Excellence misalnya di LPPM. Itu potensi mereka untuk men-generate revenue itu cukup besar. Lalu kemudian, juga beberapa waktu yang lalu sebenarnya kami berpikir untuk memanfaatkan aset, aset yang memang sebenarnya Unpar sudah investasikan dan cukup besar,” jelas beliau.
“Alat-alat lab apa segala macem yang sebenernya kalo bisa kita kelola dengan baik dalam arti tentu setelah pemanfaatan (oleh internal Unpar) sudah optimal, kemudian kita bisa tawarkan ke pihak luar misalnya. Nah itu, kita berharap bahwa itu kemudian bisa men-generate revenue”, tambahnya.
Bu Jane mengungkapkan, dalam hal ini Unpar bisa dikatakan belum terbiasa, “Ada beberapa potensi-potensi sumber daya untuk mendapatkan, menggali revenue itu bisa dimanfaatkan secara maksimal.”
Mengenai sarana dan prasarana, Unpar bisa dikatakan sudah cukup baik. Meskipun, ungkap Bu Jane yang merupakan dosen FISIP Unpar, tentunya masih ada keterbatasan-keterbatasan. Terkait bidang akademis, Unpar terus berupaya menyediakan fasilitas penunjang seperti e-journal, e-textbook, dan lain sebagainya. Berbicara mengenai dosen dan tenaga kependidikan, Unpar juga menyediakan peralatan kantor yang cukup baik. Termasuk, fasilitas olahraga Unpar, Parahyangan Reksa Raga (Pasaga) yang berlokasi di Jalan Cisitu. Ia mengatakan, hasil akreditasi lalu menunjukkan bahwa penilaian sarana dan prasarana di Unpar hampir memberikan poin maksimal.
Ke depan, ia berharap Unpar dapat memiliki business plan yang tepat untuk meningkatkan sumber pendanaan. “Menggunakan istilah business plan yang tepat ya sehingga benar bahwa ketika kita punya potensi lalu kemudian kita punya mekanisme untuk menggali dan mengeksplor. Harusnya sih bisa seperti itu”, ungkapnya.
Meningkatkan manajemen universitas
Tentu saja, ada perbedaan ketika mengelola urusan akademik dan organisasi. Ketika bicara organisasi, aspek dan kontennya bisa dikatakan sama dengan organisasi pada umumnya. Secara mendasar, jelas Bu Jane, seperti yang ada pada konsep POAK (Planning, Organizing, Actuating, dan Controlling).
“Ya sama kayak di rumah sakit deh. Di rumah sakit itu kan mereka bisa membedakan antara me-manage sebuah organisasi rumah sakit dengan fungsi utama sebagai lembaga yang melayani atau memberikan (fasilitas) kesehatan,” paparnya.
Terkait penyelenggaraan universitas, dalam hal ini urusan akademik, bisa saja di-handle oleh seorang dosen. Begitu urusannya tentang pengelolaan organisasi, lanjut beliau, mungkin tidak harus dosen, seseorang dengan latar belakang studi manajemen organisasi juga bisa menjadi pertimbangan. Hal ini akan memberikan dampak percepatan pada tata kelola universitas.
“Tapi begitu bicara tentang organisasinya, ya kita harus mulai terbuka bahwa mungkin juga termasuk seorang professional barangkali. Supaya dia bisa mengelola organisasi sebagai sebuah organisasi dan pendekatannya adalah pendekatan-pendekatan yang memang aspek-aspek managerial,” beliau menyimpulkan.
Akreditasi ‘A’
Pencapaian akreditasi A oleh Unpar beberapa waktu lalu tidak menjadi dasar untuk menjadi jumawa, akan tetapi menjadi momentum untuk menata universitas dengan lebih baik lagi, dalam tanggapan Bu Jane terkait hasil akreditasi BAN-PT. Menurutnya, persoalan dan tantangan yang dihadapi Unpar sudah teridentifikasi secara jelas.
Atas dasar hal tersebut, beliau berharap, kedepannya setiap insan di Unpar bersama-sama berupaya untuk menghadapi tantangan dan menyelesaikan segala permasalahan yang telah teridentifikasi tersebut.
“Kan ga cuma rektorat ya. Ga cuma dekanat. Mungkin temen-temen di fakultas, di level pimpinan, di biro, di unit-unit ini tetapi semua kita (sebagai Unpar),” pungkasnya antusias.
(Wawancara: Dr. Orpha Jane Wakil Rektor Bidang Organisasi dan Sumber Daya)





