Tak dapat disangkal perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi memengaruhi berbagai aspek kehidupan. Di dalam dunia pendidikan, teknologi digunakan sebagai media pembelajaran, contohnya ponsel pintar, internet, atau komputer. Peserta didik di era digital ini sudah memahami dan familier dalam menggunakan teknologi.
Perbedaan generasi antara pendidik dan peserta didik di era digital memiliki tantangannya sendiri. Akibat dari teknologi yang semakin berkembang pesat, perbedaan tingkah laku kerap disebut menyulitkan. Contohnya, peserta didik masa kini cenderung mencari informasi melalui internet, atau kurangnya minat membaca.
Dalam acara seminar Generasi Z yang diselenggarakan oleh Pusat Inovasi Pembelajaran Universitas Katolik Parahyangan (PIP Unpar), Dr Made Herry Santoso menerangkan, mereka yang lahir pada tahun 1998 ke atas disebut sebagai generasi Z dan mereka menempati 25.9 persen populasi di dunia pada tahun 2016. Meskipun berada di angka tertinggi dalam piramida penduduk, tingkat minat baca berbanding terbalik. Made menuturkan bila seseorang jarang membaca, ia hanya menulis sekali waktu. Bila ia jarang menulis, ia tidak bisa berargumen dengan fakta dan data yang konkret.
Made menyebutkan ciri-ciri generasi Z yakni sangat terhubung satu sama lain. Dengan teknologi informasi, kewiraswastaan mengalir dalam DNA mereka dan dikelilingi oleh urun daya serta pendidikan swakriya, keinginan mengejar impian dan hobi sebagai pekerjaan paruh waktu, juga berkomunikasi melalui gambar dan video.
Kesulitan dalam menghadapi generasi Z adalah adanya power distance, terutama di Asia dan Indonesia. Anggapan dan keharusan bahwa seseorang yang lebih tua harus dihormati sehingga tenaga pendidik merasa superior dan enggan dikritik. Hal ini pun menyebabkan peserta didik enggan berargumen atau berdiskusi dengan dosennya karena alasan takut.
Bukan berarti bahwa menghormati seseorang yang lebih tua tidak baik, tetapi dalam menghadapi generasi Z di dunia pendidikan ini, Made menyebutkan bahwa proses pembelajaran harus dinamis dan peserta didik harus berpartisipasi aktif di dalamnya. Bila tenaga pendidik tidak beradaptasi, ia akan ditinggalkan karena semua pihak harus mampu mengikuti perubahan zaman. Ia menambahkan, generasi Z fokus pada hasil, bukan cara, sehingga dosen harus memiliki pola pikir yang terbuka, termasuk terhadap kritik.
Dosen Teknik Informatika Unpar Pascal Alfadian Nugroho, yang juga seorang pemateri dalam seminar itu, menjelaskan metode pembelajaran yang dapat diterapkan di dalam kelas, yaitu deep learning dan service learning untuk menangani peserta didik yang hanya mengandalkan Google atau googling. Dosen dapat menanyakan pertanyaan how (bagaimana) dan why (mengapa) yang membuat mahasiswa berpikir kritis mengenai suatu topik tertentu.
Adapun, alumnus Teknik Informatika Unpar Eldwin Viriya, sebagai representatif dari generasi Z, menyebutkan mahasiswa atau generasi muda sekarang lebih memilih menonton video daripada membaca buku. Ia memberi contoh fenomena resep masakan satu menit yang banyak tersebar di media sosial. Selain itu, beragam video di YouTube berdurasi tidak lebih dari 10 menit karena tingkat konsentrasi hanya beberapa menit. Ia menuturkan, efektivitas informasi dan efesiensi waktu adalah hal-hal yang diutamakan.
Made memaparkan sejumlah tantangan nyata di era digital dan globalisasi dalam menghadapi generasi Z seperti perkembangan teknologi. Ia menyebutkan generasi Z mengekspresikan diri melalui media sosial yang dapat dilihat oleh khalayak, seperti Instagram atau Snapchat. Berbeda dengan generasi sebelumnya yang hanya berbagi cerita secara langsung dengan kawannya.
Tantangan berikutnya, ubiquity atau perbedaan alat pembelajaran. Sebagai contoh, tenaga pendidik di generasi sebelumnya menggunakan papan dan kapur tulis ketika mengajar serta didukung dengan buku belajar cetak. Kini, buku-buku elektronik termasuk jurnal dan artikel digital tersebar di media online yang dapat diakses melalui internet.
Perbedaan generasi antarpeserta didik menjadi tantangan lainnya yang cukup signifikan. Perhatian generasi Z dapat dikatakan mudah teralihkan oleh situasi yang serba dinamis. Bahkan, sebuah penelitian tahun 2012 menyebutkan bahwa fasilitas Google membuat generasi muda mudah lupa dan tidak bisa berpikir kritis.
Tantangan lainnya adalah kerangka kualifikasi. Pengajaran serta pembelajaran di setiap generasi mengacu pada kurikulum pendidikan yang berbeda-beda. Di Indonesia sendiri terdapat Kerangka Kualifikasi Nasional Indonesia (KKNI) yang menjadi dasar kurikulum pendidikan. Seyogyanya, tenaga pendidik dapat menggunakan kerangka kualifikasi yang sudah ditetapkan sebagai acuan dalam proses belajar mengajar.
Sumber: Kompas – Griya Ilmu (Selasa, 18 April 2017)





