Budaya menjadi kekayaan suatu komunitas. Sebagai bangsa yang besar dan beragam, Indonesia mengandung kekayaan budaya yang luar biasa. Setiap daerah dan kelompok juga kesukuan memiliki berbagai bentuk budaya lokal. Dari seni, adat, keseharian, hingga nilai-nilai luhur yang telah dijaga selama puluhan, mungkin ratusan generasi.
Masyarakat Indonesia telah lama hidup berdampingan dan saling menghargai satu sama lain. Perilaku ini diperkuat dengan pendirian bangsa Indonesia sebagai bangsa yang bersatu dan berdaulat dalam keberagaman yang khas.
Apabila terdapat tindakan atau perilaku yang merendahkan ragam budaya kelompok lain, maka hal tersebut dapat menjadi ancaman bagi nilai-nilai sosial bangsa Indonesia yang telah tertanam sejak lama.
Mahasiswa sebagai kaum muda memiliki peran besar dalam memelihara keberagaman budaya. Tidak perlu jauh-jauh, menumbuhkan semangat keberagaman dapat ditumbuhkan dari lingkup yang kecil seperti kelompok pertemanan dalam kampus. Dari sini, mahasiswa dapat mengembangkan pemahaman akan perbedaan dan memaknai hal tersebut dalam semangat persatuan.
Mulai dari hal kecil, mahasiswa mampu membawa spirit keberagaman ke tingkat yang lebih besar, bahkan melampaui lingkungan kampus, menuju ke masyarakat luas.
“Spirit humanum”
Sejalan dengan kepribadian bangsa Indonesia, Universitas Katolik Parahyangan (Unpar) memegang teguh spiritualitas dan nilai dasar yang tertuang dalam sesanti Bakuning Hyang Mrih Guna Santyaya Bhakti. Salah satunya adalah menjadi komunitas akademik yang humanum.
Konsep ini lahir dari keinginan mewujudkan pribadi yang utuh, yang menyangkut ranah spiritual. Kecerdasan spiritual sebagai bagian dari pengembangan manusia yang utuh, penuh dan sejati, tampak dalam relasi yang seimbang antara manusia dengan Tuhan, alam atau kosmos, dan sesama manusia.
Mahasiswa Unpar turut berperan aktif dalam upaya mewujudkan suasana humanum yang saling menghormati, mendukung, dan mengasihi. Salah satunya dituangkan dalam program kerja rutin Himpunan Mahasiswa Program Studi Akuntansi (HMPSA), yaitu Thirteen Night Time (TNT).
TNT merupakan sebuah pentas seni budaya yang menampilkan persembahan dari keluarga mahasiwa akuntansi, sekaligus menjadi ajang memperkokoh kekeluargaan dalam masyarakat akuntansi Unpar.
TNT 2017, yang bertepatan dengan peringatan Hari Toleransi Sedunia, mengangkat tema “Svarga Dwipantara” yang merupakan singkatan dari Suara, Peraga, dan Pesta Rakyat Akuntansi Parahyangan. Tema ini juga memiliki arti lain yaitu “Surga Nusantara”.
Tema tersebut sengaja diangkat sebagai pengingat bagi masyarakat untuk melestarikan seni dan budaya Indonesia serta meningkatkan rasa toleransi terhadap sesama. Kegiatan pentas seni dan budaya ini diselenggarakan pada hari Sabtu (18/11) di Lapangan Parkir Gedung Rektorat, Universitas Katolik Parahyangan.
Penampilan budaya
TNT 2017 menampilkan berbagai pertunjukan bertemakan budaya dan toleransi. Salah satunya dengan mengundang komunitas lokal budaya Jendela Ide, yang menyuguhkan penampilan alat musik tradisional. Penampilan mereka mengandung pesan mendalam tentang pentingnya melestarikan seni budaya Indonesia serta menumbuhkan rasa persatuan tanpa memandang bulu.
Kegiatan tersebut juga dimeriahkan penampilan mahasiswa Program Studi Akuntansi Unpar yang terdiri dari perkusi, kabaret, pagelaran busana, tari kreasi, band angkatan 2011 hingga 2016, serta persembahan angkatan berupa kabaret dari angkatan 2017.
Untuk menghangatkan suasana, penyelenggara TNT juga mengundang berbagai stand kuliner yang khas.
Berbagai penampilan budaya dalam pagelaran – seperti TNT – menambah wawasan bagi masyarakat, khususnya mahasiswa, akan keberagaman yang ada di negeri ini.
Selain menjadi wadah bagi pelestarian budaya lokal, para mahasiswa diajak untuk memahami lebih dalam makna keberagaman dan bagaimana langkah tepat untuk menyikapi keberagaman tersebut. Semangat saling menghargai sangat penting dalam menciptakan pribadi humanum dalam mewujudkan Bangsa Indonesia sebagai “Surga Nusantara.”
Sumber: KOMPAS – Griya Ilmu (Selasa, 12 Desember 2017)





