Seleksi Nasional untuk membentuk Tim Indonesia yang dikirim ke lomba penelitian tingkat internasional yang bernama International Conference of Young Scientists 2011, telah berlangsung pada tanggal 15-16 Desember 2010 di Galeri Ciumbuleuit Bandung.
Sebanyak 31 penelitian bidang Fisika, Matematika, Komputer dan Ekologi dipresentasikan dan diuji oleh 4 juri, dimana 2 dari UNPAR yang juga international jury di ICYS yaitu Monika Raharti, SSi, Msi dan Drs. Janto V. Sulungbudi.
Ke 31 penelitian ini merupakan hasil seleksi regional di 4 wilayah yaitu pulau Jawa, Sumatera, Bali dan Kalimantan. Untuk wilayah Jawa, seleksi regional diselenggarakan oleh Jurusan Fisika UNPAR dengan lomba yang bernama : Indonesian Young Scientists go to Moscow (InaYS 2010) yang telah berlangsung pada tanggal 9 Oktober 2010 yang lalu (http://home.unpar.ac.id/~inays).
Tim Indonesia yang berjumlah 12 siswa yang membawakan 12 penelitian akan berangkat untuk berlomba di ICYS 2011 di Moscow-Rusia pada 24-29 April 2011 mendatang.
Monika Raharti, SSi, Msi disamping menjadi Koordinator ICYS Indonesia juga menjadi anggota International Committee ICYS sejak tahun lalu. Menurut beliau peranan guru dalam menggali potensi siswa sangatlah penting, seperti yang diungkapkannya kepada Koran Pikiran Rakyat, yaitu:
GURU menjadi kunci penting dalam mengantar kesuksesan siswanya. Hal ini pun diakui oleh dosen Jurusan Fisika Universitas Katolik Parahyangan, Monika Raharti (46). “Potensi anak-anak Indonesia sangat besar, hanya belum terasah dengan baik. Butuh guru yang berpengalaman untuk bisa mengasah potensi anak ini,” kata Monika yang juga salah satu juri di ajang International Conference of Young Scientists (ICYS), saat ditemui dalam acara Seleksi Nasional ICYS di Ciumbuleuit, Bandung, Rabu (15/12).
Sayangnya, menurut Monika, guru yang bagus saat ini hanya terpusat di wilayah Jawa. Sementara di luar itu masih sangat minim bahkan kekurangan guru. “Saya juga menyarankan supaya guru lebih berani dalam mengambil peran sebagai fasilitator. Tidak perlu semua hal harus diketahui, cukup mengarahkan siswa agar potensinya bisa tergali dengan baik. Ini yang belum terjadi dan seharusnya bukan hanya di ekskul proses penggalian potensi ini tetapi include di pelajaran,” ujarnya. Sebagai salah satu bukti dari potensi besar yang dimiliki anak bangsa, kata Monika, di sejumlah event internasional tim Indonesia selalu menorehkan prestasi luar biasa. Begitu pun di ajang ICYS. Sejak keikutsertaan Indonesia pada tahun 2005, prestasi anak-anak bangsa ini terus menanjak. “Awalnya hanya dapat perunggu, perak, kemudian mulai emas, hingga Indonesia mampu meraih medali terbanyak di ajang yang diikuti oleh lebih dari dua puluh negara di dunia ini,” ucapnya. (Nuryani/ “PRT**
Sumber: Pikiran Rakyat, 17 Desember 2010 (Halaman 32)




