Intercultural Student Camp (ISC) adalah bentuk kerja sama dari perguruan tinggi Katolik di Indonesia yang tergabung dalam Asosiasi Perguruan Tinggi Katolik (APTIK) Indonesia. Universitas Katolik Parahyangan (Unpar) dan Universitas Katolik Atma Jaya (UAJ) Jakarta menjadi tuan rumah ISC pada tahun 2017. Acara ISC tahun ini berlangsung selama 4 hari, 25-28 Oktober 2017, di Jakarta dan Bandung.
Berkunjung ke ibukota
ISC 2017 mengusung tema besar yaitu Bincang Kepemimpinan dan Multikultur dengan Tokoh Bangsa; Aktivitas Kepedulian Lingkungan, Sosial, dan Budaya; serta Aksi Deklarasi Bersama. Di hari pertama, acara dibuka dengan sesi ice breaking yang dipandu oleh MAPLE (Community Building dari UAJ), yang mana para peserta diajak untuk saling mengenal dan lebih akrab satu sama lain.
Pada kesempatan tersebut, Rektor UAJ dan Ketua APTIK memberikan sambutan. Pembicara dari Triputra Group mengisi sesi kepemimpinan dengan mengangkat tema ‘Saya Muda, Saya Pemimpin’. Hari pertama ditutup dengan refleksi malam yang diikuti oleh seluruh peserta ISC 2017.
Di hari kedua, sesi dibuka dengan sharing session dari British Council mengenai active citizen. Seluruh peserta beserta dosen pendamping berkunjung ke Kota Tua Jakarta. Para peserta berkesempatan mengunjungi Museum Bank Mandiri dan mengikuti sesi sharing dengan tema social entrepreneurship. Kemudian, para peserta juga berkunjung ke kampus UAJ Semanggi.
Dengan dipandu oleh moderator yaitu Pak Kasdin, Yudi Latief dan Savic Ali berbicara mengenai sejumlah isu yang sedang hangat di masyarakat, khususnya isu pluralisme dalam berbangsa dan bernegara. Sesi berikutnya diisi dengan pembahasan mengenai Tembang (Temu Kebangsaan).
Mengenal budaya di ibukota priangan
Para peserta memulai hari kedua di Eco Camp, Bandung. Kegiatan diawali dengan sambutan Wakil Rektor Unpar Bidang Kemahasiswaan dan Modal Insani Unpar Dr. Paulus Sukapto. Di Eco Camp, para peserta belajar gaya hidup ‘hijau’. Mereka diarahkan untuk lebih mencintai alam. Kutipan menarik disampaikan oleh pemandu Eco Camp, bahwa sesungguhnya manusialah yang membutuhkan alam bukan alam yang membutuhkan manusia. Oleh sebab itu, sudah seharusnya kita menjaga dan merawat alam kita, bukan hanya mementingkan eksploitasi dan merusak lingkungan.
Saung Angklung Udjo menjadi tempat kunjungan selanjutnya. Para peserta mendapat sajian pertunjukan budaya Sunda dan beberapa budaya Indonesia lainnya. Mereka menyaksikan penampilan musik angklung khas Jawa Barat. Selain itu, mereka menyaksikan pertunjukan tarian daerah serta berkesempatan memainkan alat musik angklung bersama-sama.
Pada penutupan ISC 2017, para peserta menjalani seluruh aktivitas di lingkungan kampus Unpar Ciumbuleuit. Para peserta mengikuti upacara bendera memperingati Sumpah Pemuda. Di sesi berikutnya, Mgr. Anton menyampaikan sebuah motivational speech singkat dengan mengangkat topik “Menjadi dan Dihargai di Tengah Mayoritas”.
Bersamaan dengan diadakannya acara Peringatan Sumpah Pemuda (PERSADA) oleh Lembaga Kepresidenan Mahasiswa (LKM) Unpar, para peserta mengikuti gelar wicara yang diadakan. Para pembicara membagikan berbagai pengalaman kehidupan dan hasil karyanya. Salah satunya, Fransiska Dimitri Inkiriwang, mahasiswi Hubungan Internasional Unpar yang merupakan bagian dari Tim Wissemu. Topik pembicaraan berikutnya yaitu ‘Kontekstualisasi Pancasila sebagai Humanisme’ yang disampaikan oleh Rektor Unpar Mangadar Situmorang Ph.D., dan topik ‘Problematik Identitas dalam Konteks Indonesia Kiwari’ yang disampaikan Prof. Bambang Sugiharto.
Sebagai puncak acara, para peserta menampilkan persembahan dari setiap universitas. Sesi terakhir berjalan begitu meriah dengan canda-tawa juga keceriaan dan antusiasme para peserta. Pemukulan gong oleh perwakilan Unpar menutup rangkaian acara ISC 2017.





