Kantor Internasional dan Kerjasama (KIK) Universitas Katolik Parahyangan (Unpar) mengajak sejumlah mahasiswa asing dalam acara kunjungan budaya pada Jumat (10/3). Mahasiswa asing tersebut terdiri dari mahasiswa program Australian Consortium In-Country Indonesian Studies (ACICIS), mahasiswa pasca-sarjana program Kerjasama Negara Berkembang (KNB), dan program sarjana reguler.
Kunjungan budaya ini menyoroti budaya Sunda yang sudah terkenal di mata dunia, bahkan diakui oleh United Nations Education, Scientific, and Cultural Organization (UNESCO) sebagai Daftar Representatif Budaya Tak-Benda Warisan Manusia (Representative List of the Intangible Cultural Heritage of Humanity), yaitu batik dan angklung. Angklung adalah instrumen musik berasal dari budaya Sunda yang terbuat dari bamboo, sedangkan Batik Indonesia merupakan motif kain yang memiliki keragaman di tiap daerah, termasuk Jawa Barat.
Seluruh mahasiswa beserta staf KIK menyambangi Batik Komar di Jalan Cigadung Raya Timur I No. 5 pukul 09.30 WIB. Batik Komar memperkenalkan berbagai macam cara membuat motif batik, mulai dari menggunakan stempel sampai dengan canting.
Di dalam satu ruangan besar di lantai dasar, terdapat meja-meja yang diisi oleh satu orang pekerja yang menyediakan bermacam-macam stempel yang sudah dilumuri lilin panas. Setiap peserta mendapat sehelai kain putih polos, kemudian mengecapnya dengan stempel yang sudah disediakan di meja-meja itu. Stempel-stempel itu memiliki berbagai bentuk, seperti burung, ondel-ondel, motif batik megamendung, dan lainnya.
Kain yang sudah dicap bisa kemudian digambar menggunakan pensil sebagai sketsa, kemudian digambar kembali menggunakan canting di atas goresan pensil. Peserta dipersilakan untuk mewarnai hasil cap dan gambaran menggunakan cat air yang sudah disediakan. Latar belakang tetap dibiarkan putih karena kain akan berubah warna menjadi hitam atau biru sesuai pilihan setelah melalui tiga proses terakhir, yaitu dijemur, dilapisi lilin, dan dicuci.
Destinasi terakhir adalah Saung Angklung Udjo (SAU) di Jalan Padasuka No. 118. Saung Angklung ini terkenal di kalangan turis lokal dan mancanegara, bukan hanya karena sudah didirikan sejak tahun 1966, tetapi juga sudah beberapa kali tampil di ajang internasional, seperti ‘Indonesian Weekend’ di London, Inggris pada Mei 2016 lalu.
Lokakarya membuat angklung merupakan aktivitas pertama. Diawali dengan perkenalan mengenai instrumen angklung, cara mendapatkan nada pentatonis dan diatonis dari sebilah bambu, dan penjelasan resonansi bambu. Masing-masing orang mendapatkan satu buah angklung yang hampir selesai dirakit dan setali rotan untuk merekatkan angklung. Seorang pengrajin angklung memperagakan cara melilitkan setali rotan itu di depan para peserta. Angklung yang sudah selesai dirakit itu diberikan kepada masing-masing peserta lokakarya.
Acara terakhir adalah pertunjukan angklung oleh SAU yang membawakan lagu-lagu hits internasional dan lagu nasional, dilengkapi beberapa tarian Sunda, seperti Sisingaan dan Tari Topeng Cirebon.
“Aku senang bisa ikut acara itu. Aku enggak pernah membuat batik, jadi pertama kali di situ, angklung juga. Lihat mereka performing, ngasih tahu aku ada banyak suku (di Indonesia) dan bisa menjadi satu, aku impressed,” ujar Sou, seorang mahasiswi Ilmu Administrasi Publik 2016 dari Laos.





