Satu Gram Hanya Rp 38.700

Sebelum kasus tewasnya Wayan Mirna Salihin mencuat, nama sianida hanya dikenal sebagian masyarakat. Salah satunya, pecinta komik dan film kartun Jepang, Detective Conan. Dalam komik dan film itu, sianida kerap digunakan tokoh penjahat dalam sebuah proses pembunuhan yang tersamarkan.

Untuk mengetahui seberapa mudah mendapatkan sianida, “PR” melakukan penelusuran sederhana, beberapa di antaranya berlaku sebagai pembeli. Objek penelusuran adalah sejumlah penjual bahan kimia, baik berupa toko maupun penjualan di media daring (online).

Penelusuran dimulai di salah satu toko bahan kimia di Jalan Gardujati, Kota Bandung, Kamis (21/1/2016). Di bangunan berupa ruko selebar tiga meter tersebut terpajang sejumlah bahan kimia, baik dalam kemasan botol maupun karung. Penjaganya seorang ibu yang kerap menyambut para pembeli dengan senyuman ramah. Namun saat mendengar pesanan KCN—sebutan untuk senyawa kalium sianida—raut muka sang ibu lantas berubah.

“Untuk apa KCN?” tanyanya sambal mengernyitkan dahi.

Penjual bahan kimia itu lalu menjelaskan bahwa sianida, termasuk bahan kimia berbahaya lainnya, hanya dijual untuk kalangan tertentu. Di antaranya, masyarakat kampus seperti mahasiswa kimia, itu pun sangat jarang. Status sebagai mahasiswa harus dibuktikan dengan surat pengantar dari kampus. Biasanya para mahasiswa menggunakannya untuk praktikum. Selain tak sembarangan menjual, kalium sianida pun harus dibeli minimal dalam jumlah setengah kilogram. Itu pun tak sekali datang langsung bisa dibawa pulang.

Beberapa toko kimia lain di Jalan Gardujati menunjukkan tanggapan yang hampir serupa. Saat mendengar KCN atau HCN—sebutan untuk hidrogen sianida—pertanyaan “untuk apa?” menjadi respon pertama.

Di salah satu toko kimia di Jalan kelenteng, syarat yang diajukan bagi pembeli lebih rumit lagi. Calon pembeli harus melampirkan fotokopi surat izin usaha perusahaan, fotokopi tanda daftar perusahaan, fotokopi nomor pokok wajib pajak, fotokopi KTP, surat pernyataan penggunaan, dan pernyataan tidak diperjualbelikan. Jarangnya pemesan kalium sianida juga membuat toko ini tak menyediakan barang itu di lokasi penjualan. Kalium sianida disimpan dengan pengamanan di gudang kimia di lokasi berbeda.

Kondisi serupa ditemui saat penelusuran dilakukan melalui jaringan daring. Sebelumnya, beberapa laman yang mengklaim menjual sianida ternyata mencantumkan kontak samaran, termasuk email palsu. Di laman lain dengan kontak aktif, kalium sianida pun dijual pada kalangan tertentu, termasuk mahasiswa untuk kebutuhan penelitian.

Dalam komunikasi melalui pesan singkat, calon pembeli diminta mencantumkan nama, alamat pengiriman, serta keperluan menggunakan kalium sianida. Namun, tak mesti mengirimkan Salinan identitas, surat pengantar dari kampus, maupun dokumen lain. Dengan demikian, calon pembeli bisa sekadar mengaku-aku.

Di laman ini, harga KCN berbentuk serbuk kristal dijual dengan harga Rp 38.700 per gram. Pemesanan di bawah 50 gram dikenai biaya tambahan sebesar Rp 25.000. Selain itu, pembeli juga wajib membayar biaya pengemasan dan ongkos kirim sekitar Rp 50.000.

Tanpa Manfaat

Hans Kristianto dari Program Studi Teknik Kimia Universitas Katolik Parahyangan Bandung menyebut, tak ada manfaat kalium sianida di kalangan masyarakat umum. Selain untuk penelitian kalangan akademisi, kalium sianida hanya digunakan untuk industri besar. Industri yang menggunakan kalium sianida biasanya bergerak di bidang logam, seperti pertambangan emas.

“Sianida itu sedikit saja sangat beracun, sehingga tak memiliki manfaat untuk pemakaian langsung oleh masyarakat umum,” katanya.

Dalam meneliti kalium sianida, seorang peneliti tak boleh sembarangan. Perlakuan terhadap sianida tergolong lebih rumit dibandingkan penelitian untuk senyawa kimia lainnya. Standar minimal untuk penelitian sianida tergolong lebih rumit dibandingkan penelitian untuk senyawa kimia lainnya. Standar minimal untuk penelitian sianida di dalam laboraturium, seorang peneliti harus mengenakan masker, kacamata, dan sarung tangan khusus. Sarung tangan lateks putih yang biasa digunakan dokter, masih bisa ditembus kalium sianida.

“Kalau sianida menguap lalu terhirup, ya bisa meninggal. Kacamata juga digunakan takut ada cipratan, sianida masuk selaput lendir seperti mata ya sama saja efeknya,” tutur Hans yang meneliti Sianida dalam tugas akhir S1-nya.

Saking berbahayanya sianida, kalangan mahasiswa kimia juga sangat jarang menggunakan senyawa ini untuk penelitiannya. Hans menyebut, tak sampai satu dari seratus mahasiswa menggunakan sianida sebagai obyek penelitiannya. (Gugum Rachmat Gumilar/“PR”)

 

Sumber: Artikel “Satu Gram Hanya Rp 38.700” pada surat kabar PIKIRAN RAKYAT Edisi 23 Januari 2016.

Berita Terkini

UNPAR Raih Penghargaan Pengabdian Masyarakat dari Tribun Jabar

UNPAR Raih Penghargaan Pengabdian Masyarakat dari Tribun Jabar

UNPAR.AC.ID, Bandung – Universitas Katolik Parahyangan (UNPAR) meraih penghargaan “Pengabdian Masyarakat Melalui Pendidikan”  dalam ajang Editor’s Choice 2.0 yang diselenggarakan surat kabar harian Jawa Barat, Tribun Jabar. UNPAR dinilai menjadi Perguruan Tinggi...

Kontak Media

Divisi Publikasi

Kantor Pemasaran dan Admisi, Universitas Katolik Parahyangan

Jln. Ciumbuleuit No. 94 Bandung
40141 Jawa Barat

Jan 24, 2016

X