Sang Katak Jadi Dosen

“Mengapa menjadi dosen?” barangkali menjadi pertanyaan sederhana yang memberi ruang kontemplasi bagi para dosen Universitas Katolik Parahyangan.

Pasca mengikuti workshop “Sang Guru Sang Peziarah 2”, para dosen diminta untuk menulis hasil refleksi kisah hidup dan perjuangan yang membawa mereka pada panggilan ‘Saya ingin menjadi seorang dosen.’

Pada hari Jumat (27/11), Pusat Inovasi Pembelajaran Universitas Katolik Parahyangan (PIP Unpar) mengadakan launching buku di Ruang Mgr. Geisse Lecture Theatre FISIP. Sang Katak Jadi Dosen ‘Skat Jados’ merupakan kompilasi tulisan kontemplasi-aksi dan refleksi para dosen.

Diawali dengan pelaporan kegiatan, Ketua PIP, Bapak Agus Sukmana, mengatakan bahwa royalti dari buku tersebut akan disumbangkan kepada Yayasan Pendidikan Kanisius Cabang Yogyakarta. Adapun royalti dari buku Sañcaya−kumpulan artikel yang ikut diterbitkan bersamaan dengan SKAT JADOS−direncakan akan dipakai untuk membiayai pendidikan guru di Pulau Sumba, NTT.

Romo Agustinus Mintara Sufiyanta, SJ, selaku Direktur Yayasan Kanisius-Pendidikan Yogyakarta dan editor Skat Jados mengatakan bahwa ia menemukan tiga perenungan dari setiap tulisan reflektif para dosen yaitu kehadiran, keterlibatan, dan kesetiaan. Romo Mintara, begitu beliau akrab disapa mengaku bahwa ‘Sang Katak’ di dapat dari analogi tulisan kisah Fiona Ekaristi Putri, dosen Program Studi Ilmu Administrasi Bisnis Unpar.

Pada sesi pertama, para penulis mulai berbagi kisah. “..saya senang, saya bahagia; kebahagiaan disini karena saya bisa satu buku dengan dosen-dosen yang lebih senior dari saya. Tentu itu merupakan suatu kebanggaan bagi diri saya sendiri.” demikian pengakuan Altho Sagara, salah satu dosen muda yang baru mengawali karir di Unpar sejak sembilan bulan yang lalu.

Berbeda kisah dengan Altho Sagara, Bapak Bernardus Ario Tejo,  S.S., M.Hum., berbagi cerita bahwa dirinya pernah mengalami kekerasan fisik semasa duduk di bangku sekolah. Beliau menuangkan pengalaman tersebut di dalam tulisan Hadiah Buku dari Guruku. Di dalam tulisan tersebut, beliau berusaha untuk melihat sisi positif dari pengalaman masa lalu. Buku inipun berhasil membuat beliau terkagum sekaligus mengalami perubahan; jika dulu ia menolak kehadiran ‘guru’ kini ia ingin lebih mencintai para guru yang membentuk ia hingga hari ini.

Setelah mendengar testimoni dari para penulis, Bapak Mangadar Situmorang Ph.D, selaku Rektor Unpar, ikut menanggapi dan bertanya bagaimana sisi spiritual berperan dalam memenuhi panggilan sebagai seorang dosen.

Dalam sesi sharing yang berlangsung hangat, Bapak Dr. Pius Sugeng Prasetyo, M.Si pun mengaku mendapat bahan refleksi dan inspirasi. “…saya juga ingin menebar kebaikan-kebaikan, dalam profesi sebagai dosen. Bagaimana mendidik dan mengajar sebagai dosen dapat memberi kebahagiaan bagi orang-orang.” demikian tanggapan beliau.

Selain sesi sharing dengan para penulis dan editor, dosen senior Unpar, Bapak Prof. R.W. Triweko dan Bapak AH Djojoadikusumo diundang oleh PIP untuk berbagi pengalaman.

Di penutup acara, Bapak Hendrikus Endar Suhendar, SS, M.Hum, selaku moderator memberi kesimpulan pamungkas yang dikutip dari tulisan Romo Mintara pada pendahuluan buku Skat Jados.

Pertama, jika Unpar ingin maju menjadi The Great Unpar; kekuatan sebuah kehadiran, keterlibatan, dan kesetiaan akan menjadi sangat penting. Namun, passion atau hasrat dalam jiwa akan menjadi tantangan berat.

Kedua, panggilan sebagai seorang dosen; membuat kita merenungkan “Unpar ingin menjadi seperti apa?”

“Apakah Unpar akan menjadi tempurung yang mengekang katak-kataknya; menara gading yang terisolasi dari jerih-payah kehidupan warga bangsa; pencakar langit yang berdiri megah penuh bangga, sementara di sekitarnya bertebaran pemukiman dan bantaran kumuh warga miskin?

…atau, Unpar dapat menjadi ruang kontemplasi dan aksi dimana masing-masing warganya sadar diri akan kehadiran, keterlibatan, dan kesetiaan; menjadi tempat berjumpanya berbagai relasi antarmanusia yang terus berefleksi memaknai setiap peristiwa; tempat berseminya benih-benih kebebasan anak-anak manusia yang saling menyapa dan menyentuh hati, serta bejana yang mempertemukan kasih Allah dengan kisah hidup manusia?”

Berita Terkini

UNPAR Raih Penghargaan Pengabdian Masyarakat dari Tribun Jabar

UNPAR Raih Penghargaan Pengabdian Masyarakat dari Tribun Jabar

UNPAR.AC.ID, Bandung – Universitas Katolik Parahyangan (UNPAR) meraih penghargaan “Pengabdian Masyarakat Melalui Pendidikan”  dalam ajang Editor’s Choice 2.0 yang diselenggarakan surat kabar harian Jawa Barat, Tribun Jabar. UNPAR dinilai menjadi Perguruan Tinggi...

Kontak Media

Divisi Publikasi

Kantor Pemasaran dan Admisi, Universitas Katolik Parahyangan

Jln. Ciumbuleuit No. 94 Bandung
40141 Jawa Barat

Nov 30, 2015

X