Universitas Katolik Parahyangan tetap tekun mengamalkan nilai-nilai filosofis yang terkandung di dalam sesanti “Bakuning Hyang Mrih Guna Santyaya Bhakti” yaitu, ‘Berdasarkan Ketuhanan Menuntut Ilmu untuk Dibaktikan kepada Masyarakat’.
Salah satu bentuk dari bakti tersebut adalah Unpar memiliki sebuah organisasi nonprofit yang berada di bawah naungan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik yaitu Program Bimbingan Belajar Kakak Asuh. Program tersebut tetap rutin dan konsisten melakukan aktivitas sosial, khususnya di bidang pendidikan bagi siswa/i kelas 6 SD.
Di periode yang sudah memasuki angkatan ke-26, kiprah organisasi ini telah mendapat kepercayaan dari masyarakat Ciumbuleuit. Dari tahun ke tahun, terdapat enam Sekolah Dasar yang mempercayakan siswa/i-nya untuk dibina bersama mahasiswa Unpar yaitu, SD Negeri 1,2,3, dan 4 Ciumbuleuit, serta SD Negeri Bandung Baru 1 dan 2.
Untuk menjaga lingkungan belajar yang kondusif, program bimbingan ini menyediakan kuota maksimal 15 siswa/i dari setiap sekolah; ke-15 siswa/i tersebut merupakan rekomendasi dari wali kelas dengan melihat latar belakang ekonomi dan track record dari siswa/i yang bersangkutan; kendatipun demikian, tidak menutup kemungkinan bahwa akan selalu ada anak-anak di luar rekomendasi sang guru, yang ingin ikut bergabung dan belajar bersama pada setiap hari Sabtu pukul 12.00 WIB di depan Ruangan Mgr. Geisse Lecture Theatre FISIP. Sesekali kegiatan belajar-mengajar dilakukan di ruang kelas Gedung 3 atau di sekolah yang bersangkutan.
Puluhan tahun perjalanan, Program Bimbingan Belajar Kakak Asuh bukan tanpa liku. Kendala kerapkali datang dari pihak internal maupun eksternal seperti kendala SDM, kekurangan dana, maupun miskomunikasi dengan guru dan murid. Untungnya, para mahasiswa dapat menemukan solusi yang kreatif seperti membuka lowongan volunteer bagi seluruh mahasiswa Unpar yang ingin ikut menjadi tutor, mengajukan proposal dana kepada pihak Lembaga Penelitian dan Pengabdian pada Masyarakat (LPPM Unpar) dan para alumni, melakukan Dana Usaha, hingga melakukan penyesuaian jadwal akademik dengan pihak sekolah untuk meminimalisir miskomunikasi.
Kini, para penggerak Program Bimbingan Belajar Kakak Asuh tengah berupaya untuk melakukan inovasi metode belajar maupun variasi kegiatan agar tidak monoton; seperti melakukan Art Week, mengikutsertakan para adik asuh di kompetisi lintas organisasi nonprofit, dan melakukan kolaborasi dengan program Unpar TOSAYA ‘Ngabantos Masyarakat Sadaya’. Adapun program kolaborasi tersebut berupa pembangunan jalan, perbaikan saluran air, atau membuat kreasi kerajinan tangan bersama masyarakat Ciumbuleuit.
Pada praktiknya, ada beragam bentuk dedikasi para mahasiswa Unpar untuk mengamalkan ilmu dan berbakti kepada masyarakat. Kiprah Program Bimbingan Belajar Kakak Asuh maupun Unpar TOSAYA hanya dua dari beragam bentuk kegiatan pengabdian masyarakat yang telah meninggalkan jejak di hati para guru, adik-adik asuh, orangtua, dan masyarkat Ciumbuleuit.





