Memaknai arti prestasi dalam konteks pendidikan tinggi tidaklah mudah karena prestasi dapat dimaknai secara subyektif dan melalui berbagai cara. Dalam konteks pendidikan tinggi (yang diselenggarakan oleh perguruan tinggi atau universitas), ada dua peserta pendidikan tinggi, yakni mahasiswa dan dosen. Dua entitas tersebut yang nantinya akan menjadi pembahasan bagaimana meraih prestasi di dalam masa belajar dan mengajar di perguruan tinggi. Tulisan ini akan mencoba menggambarkan apa dan bagaimana prestasi diraih baik oleh mahasiswa dan dosen.
Pertama, prestasi dalam konteks pendidikan tinggi dapat dilihat sebagai prestasi akademik dan prestasi non-akademik. Prestasi akademik bagi mahasiswa secara mudah dapat diukur melalui pencapaian Indeks Prestasi Semester atau Kumulatif (IPS/IPK) yang biasanya ditandai dengan angka mutu tertentu, biasanya nilai akhir A. Bagi dosen, prestasi akademik ditandai dengan berbagai makalah yang dipublikasikan melalui seminar, jurnal, dan buku. Publikasi-publikasi tersebut kemudian diukur dengan poin-poin untuk keperluan kenaikan jabatan fungsional dosen. Tidak hanya itu, prestasi akademik dosen juga dapat ditandai dengan diraihnya berbagai penghargaan sesuai dengan bidang keilmuan yang ditekuni. Sementara prestasi non-akademik biasanya didapat melalui kegiatan-kegiatan ekstrakurikuler melalui peminatan tertentu misalnya bidang olahraga.
Selain itu, prestasi non-akademik juga kadang dilihat melalui pencapaian posisi-posisi tertentu dalam struktur kelembagaan pendidikan tinggi. Bagi para mahasiswa, posisi tertentu dalam struktur kelembagaan kemahasiswaan seperti misalnya presiden mahasiswa, ketua majelis perwakilan mahasiswa, dan ketua himpunan menunjukkan bahwa seseorang dianggap mampu dan cakap untuk memimpin organisasi kemahasiswaan dan mengorganisir program kerja yang ada. Bagi dosen, prestasi non-akademik juga dapat ditandai dengan adanya penghargaan yang didapat di luar aktivitasnya sebagai seorang pengajar, misalnya melalui kegiatan-kegiatan pengabdian masyarakat atau aktivitas di luar kegiatan belajar-mengajar di perguruan tinggi. Tidak hanya itu, prestasi non-akademik bagi dosen juga bisa dilihat bagaimana keterlibatannya dalam kehidupan bermasyarakat sehari-hari.
Kedua, untuk dapat meraih prestasi-prestasi seperti yang telah disebutkan di atas, tentu peran perguruan tinggi dalam menyediakan waktu dan tempat sangatlah penting. Bagi para mahasiswa dan dosen, ruang baca (perpustakaan) dan ruang-ruang komunal untuk berdiskusi dapat menunjang capaian prestasi yang diharapkan. Bagi mahasiswa, diskusi menjadi salah satu cara untuk mengasah tidak saja kemampuan akademik tapi juga non-akademik. Diskusi dan belajar memahami perbedaan dapat mengasah kemampuan akademik dan non-akademik yang dapat dijadikan modal masuk dalam ‘hutan liar’ dunia kerja yang sangat kompetitif. Bagi para dosen, manajemen waktu dan beban mengajar dianggap sebagai kontributor penting untuk bisa meraih prestasi demi kepentingan pribadi ataupun organisasi (perguruan tinggi).
Guna mendukung semakin banyaknya prestasi yang diraih, perguruan tinggi perlu menyediakan apresiasi bagi mereka yang telah mencapai prestasi-prestasi apakah dalam bidang akademik ataupun non-akademik. Pemberian beasiswa dan penghargaan bagi mahasiswa dan dosen dianggap dapat menjadi stimulus semakin banyaknya prestasi yang diraih. Walaupun ada beberapa pihak yang mengatakan bahwa pencapaian prestasi janganlah ditujukan untuk sekadar mendapatkan beasiswa atau penghargaan lainnya akan tetapi harus dilihat sebagai kepuasan pribadi.
Pertanyaan berikutnya adalah, bagaimana budaya berprestasi di Universitas Katolik Parahyangan (Unpar)? Tentu bukan hal yang mudah untuk dijawab. Melihat padatnya aktivitas di perguruan tinggi, ternyata budaya berprestasi di Unpar tidak serta merta rendah. Berbagai penghargaan yang diraih oleh para mahasiswa dan dosen Unpar baik dalam konteks akademik dan non-akademik menjadi bukti bagaimana budaya berprestasi berjalan dengan baik. Penghargaan bagi mahasiswa berprestasi dan dosen berprestasi pada tingkat provinsi dan nasional menjadi salah satu alat ukur capaian prestasi akademik. Berbagai publikasi nasional dan internasional yang dilakukan oleh para dosen menjadikan nama besar Unpar tetap terjaga dengan baik. Pencapaian prestasi non-akademik oleh para mahasiswa juga menunjukkan komitmen Unpar untuk mendukung kegiatan-kegiatan non-akademik di lingkungan Unpar. Tidak hanya para mahasiswa dan dosen, prestasi yang ditunjukkan para alumni Unpar dalam bidang pekerjaan yang mereka geluti juga menunjukkan bagaimana kualitas pendidikan tinggi yang diselenggarakan oleh Unpar.
Lalu, bagaimana untuk meningkatkan (atau setidaknya mempertahankan) prestasi akademik atau non-akademik bagi para mahasiswa Unpar? Ada dua hal mendasar bagaimana mencapai prestasi bagi para mahasiswa, yakni manajemen waktu dan motivasi. Manajemen waktu menjadi hal utama untuk dapat meraih prestasi. Keseimbangan antara belajar dan aktivitas hidup lainnya harus menjadi perhatian utama. Tidak boleh salah satu kemudian menjadi dominan. Untuk meraih prestasi yang dituju, motivasi menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari manajemen waktu. Harus ada motivasi yang dibuat agar para mahasiswa mampu memfokuskan pada prestasi apa yang ingin diraih. Jika dua hal mendasar tersebut dijadikan pegangan, niscaya pencapaian prestasi akan menjadi lebih mudah.
Catatan tentang penulis:
Dr. phil. Aknolt Kristian Pakpahan
Dosen Program Studi Ilmu Hubungan Internasional
Wakil Dekan Bidang Kemahasiswaan dan Alumni, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Katolik Parahyangan





