Indonesia saat ini dalam periode bonus demografi, yaitu proporsi individu usia produktif mencapai maksimum. Pemberdayaan potensi sumber daya manusia ini dapat menjadi pendorong daya saing nasional pada tataran global. Salah satu pemanfaatan potensi tersebut adalah dengan pengembangan kewirausahaan muda. Perguruan tinggi sebagai lembaga pemberdayaan individu usia produktif tersebut, memiliki peran sentral untuk mewujudkan pengembangan kewirausahaan muda tersebut.
Indonesia tidak hanya memiliki potensi alam yang luar biasa, tapi juga potensi sumber daya manuasianya. Tulisan ini merupakan paparan deskriptif potensi bonus demografi melalui penumbuhan semangat kewirausahaan.
Bonus Demografi
Laporan Bank Dunia tahun 2009 menyebut Indonesia sebagai salah satu negara middle-income economy, dengan karakteristik perekonomian yang kuat dan kehidupan politik yang stabil. Krisis ekonomi pada tahun 1998 membawa perubahan yang signifikan terutama transformasi sistem politik dan fiskal.
Selain transformasi tersebut, Indonesia pun sedang menghadapi pergeseran mendasar dalam aspek demografi dan geografi. Saat ini Indonesia termasuk kategori urban country, yaitu mencapai 60% penduduknya tinggal di perkotaan. Karakteristik lainnya adalah tingkat kelahiran yang menurun, perbaikan fasilitas kesehatan, serta meningkatnya proporsi individu usia produktif.
![]() |
Namun keuntungan terjadi pada kondisi meningkatnya individu kelompok usia 15-64 tahun, serta menurunnya tingkat kelahiran (fertilitas). Kelompok ini menggambarkan kekuatan usia produktif, dan di kenal sebagai bonus demografi, yang pertama kali dikemukakan oleh Bloom, Canning, and Sevilla (2003).Gambar 1 di atas mendeskripsikan komposisi individu pada kelompok usia 0-4 tahun, 5-14 tahun, 15-64 tahun, dan 65 tahun ke atas. Dengan meningkatnya angka harapan hidup, tampak bahwa proporsi individu di atas 65 tahun terus meningkat.
Bonus demografi Indonesia diprediksi mulai tahun 2010, dan berlangsung hanya 30 tahun. Bonus demografi menunjukkan peningkatan proporsi usia produktif dan menurunnya dependency ratio. Fenomena ini tentu memunculkan kesempatan untuk peningkatan pertumbuhan ekonomi, dan mengambil keuntungan yang semaksimalnya. Sebelum kesempatan ini berlalu dalam dekade berikutnya. Tentu kebijakan yang menekankan pada perbaikan kesehatan berdampak positif pula terhadap peningkatan life expectancy , yang pada tahap berikutnya akan memperpanjang periode bonus demografi. Namun yang terpenting adalah bagaimana memanfaatkan bonus demografi ini secara maksimal, walaupun mungkin saat ini sudah terlambat. Sebagai ilustrasi, Malaysia diprediksi akan mengalami bonus demografi mulai tahun 2015, namun Malaysia sudah mengantisipasi sejak jauh-jauh hari dengan peningkatan kapasitas sumber daya manusianya.
Potensi Kewirausahaan Indonesia
Survey kewirausahaan di Indonesian, dilakukan oleh tim GEM Indonesia dari Pusat Kajian Pengembangan Usaha Kecil Menengah – LPPM, Universitas Katolik Parahyangan. Survey pada tahun 2015, dipilih secara acak 5.620 individu usia 18-64 tahun dari 65 Kota dan Kabupaten di 23 provinsi, dengan margin error ± 1,3%, pada ngkat kepercayaan 95%. Lima negara ASEAN yang juga melakukan survey GEM pada tahun 2015 ini adalah Filipina, Malaysia, Thailand, dan Vietnam.
Potensi kewirausahaan dapat diukur oleh beberapa indikator, yaitu:
- Itensi kewirausahaan, menunjukkan persentase individu dewasa usia produktif yang terlibat dalam aktivitas bisnis dan atau menyatakan berniat melakukan usaha dalam periode 3 tahun ini;
- Nascent entrepreneur rate (start-up), menunjukkan persentase individu usia produktif yang terlibat dalam pembentukan atau aktivitas awal dalam berbisnis;
- New business rate, menunjukkan persentase individu usia produktif yang telah menjalankan bisnis lebih dari 3 bulan sampai dengan 42 bulan;
- Established business rate, menunjukkan persentase individu usia produkf yang telah menjalankan bisnis lebih dari 42 bulan.
Deskripsi kewirausahaan Indonesia 2013-2015 tampak pada Gambar 2 di bawah ini. Deskripsi kewirausahaan Indonesia tampak menunjukkan tingginya intensi kewirausahaan, namun rendah dalam hal realisasi bisnisnya (nascent entrepreneurship rate). Salah satu potensi yang menonjol adalah cukup tingginya tingkat kewirausahaan dini (new business rate), dan kemudian established business ownership rate. Belum ada pemetaan yang memastikan bahwa tingginya tingkat established business ownership disebabkan oleh adalah bonus demografi.
![]() |
Berdasarkan opini kritis dari narasumber ahli, potensi kewirausahaan tersebut tidak lepas dari beberapa kelemahan, yaitu kebijakan nasional dalam regulasi, pajak, birokrasi, dan transfer teknologi. Sedangkan dinamika pasar domestik dinilai sebagai kekuatan dalam mewujudkan potensi kewirausahaan nasional.
Gambaran semangat tinggi dari kewirausahaan Indonesia ini perlu menjadi perhatian semua pihak, sehingga ini menjadi daya penggerak peningkatan daya saing global. Hitungan statistik yang positif ini belum menjadi jaminan bahwa Indonesia siap dalam kancah masyarakat ekonomi ASEAN ataupun global. Petrova (2013) dalam tulisannya ‘The effect of globalization on entrepreneurship’ menyebutkan bahwa gloabalisasi mempunyai efek yang negatif terhadap kewirausahaan.
Peran perguruan tinggi
Pertanyaan selanjutnya adalah apa yang bisa dilakukan oleh Perguruan TInggi. Gambar 3 menggambarkan sebuah konsep pengembangan kewirausahaan melalui pengembangan wirausaha mahasiswa/muda. Pada bagian konsep Gambar 3 tersebut dapat dibagi menjadi dua kelompok, yaitu unit program kegiatan dan objek. Unit program kegiatan terdiri dari unit program kewirausahaan SMU (Sekolah Menengah Umum), unit kompetisi bisnis, unit komersialisasi produk, dan unit pengembangan kapasitas.
![]() |
Sedangkan yang menjadi objek adalah dimulai dari (a) mahasiswa, (b) unit bisnis baru, (c) unit bisnis komersial, (d) unit bisnis komersial yang berdaya saing, (e) alumni.
Unit program kewirausahaan SMU bertujuan untuk mengembangkan intensi kewirausahaan sejak dini, sehingga mempunyai karakter yang pantang menyerah, kreatif, inovatif, dan berani mengambil resiko. Pada kesempatan berikutnya menjadi seorang mahasiswa. Unit program kompetisi bisnis adalah sebagai pintu gerbang bagi mahasiswa untuk memulai merealisasikan ide bisnis menjadi produk yang komersial. Kegiatan ini juga memberikan kesempatan kepada mahasiswa untuk membangun jaringan antar sesama mahasiswa dengan latar belakang kompetensi yang berbeda. Unit menghasilkan proposal bisnis yang layak untuk dikembangkan.
Unit program komersialisasi produk adalah sebuah inkubator bisnis yaitu mewujudkan ide bisnis peserta yang unik menjadi produk yang siap memasuki dunia komersial. Unit ini menghasilkan unit bisnis baru yang komersial ataupun siap menjadi komersial. Unit program pengembangan kapasitas bertujuan untuk memberikan pelatihan praktis kepada pelaku usaha sehingga memiliki daya saing dalam mengkomersialkan produknya. Unit ini menghasilkan unit bisnis komersial yang berdaya saing, mencakup topik strategi pemasaran, evaluasi kinerja, manajemen keuangan, strategi produksi dan aplikasi teknologi, strategi daya saing, dan manajemen bahan baku.
Bloom, D.E, Canning, D., & Sevilla, J. (2003), The Demographic dividend: a new perspective on the economic consequences of population change: RAND Corportion.
Pawitan, G. (2009). Eksplorasi Keterkaitan Semangat Entrepreneurial dan Indeks Daya Saing Global. Jurnal Administrasi Bisnis, 9(2), 144-158.
Petrova, K. (2013). The E ects of Globalization on Entrepreneurship.
International Advances in Economic Research, 19(2), 205-206. doi: 10.1007/s11294-013-9400-9.
Dr. Gandhi Pawitan, dosen tetap Program Studi Administrasi Bisnis, mengampu matakuliah Metode Penelitian Sosial, Statistika Soal Ekonomi, dan Teori Pengambilan Keputusan. Anggota tim Glibal Entrepreneurship Monitor, Indonesia (http://www.gemconsortium.org/country-profile/70)
Sumber: Majalah Parahyangan, Edisi 2017 Kuartal I/ Januari Vol. 1 Bagian 1








