Pemanfaatan sampah dengan didaur ulang belum menjadi hal yang utama dalam kehidupan manusia. Alih-alih memanfaatkan sampah yang didaur ulang, kebanyakan orang justru memperbanyak sampah yang sulit untuk diuraikan. Penggunaan plastik, styrofoam, dan bahan-bahan lain yang sulit terurai justru jadi pilihan utama dewasa ini. Perhiasan dengan harga terjangkau saat ini justru datang dari bahan-bahan dan proses produksi yang kurang ramah lingkungan.
Anthony Sutrisno adalah salah satu alumni Universitas Katolik Parahyangan yang memiliki gagasan untuk memanfaatkan sampah organik, khususnya biji-bijian, untuk dijadikan perhiasan. Biji-bijian itu ia dapatkan dari hutan sekitar Bandung. Alumni Program Studi Ilmu Hubungan Internasional angkatan 1997 ini mengenalkan bisnis perhiasan yang telah dijalaninya selama lima tahun kepada mahasiswa Universitas Katolik Parahyangan dalam acara Alumni’s Talk dengan tema “Creative Sustainable Eco Business”. Alumni’s Talk yang keempat ini digelar pada hari Rabu (21/10) di Operation Room Universitas Katolik Parahyangan.
Founder Bumi Putih Spiritual Jewelry tersebut menyatakan bahwa untuk membuat perhiasan yang berasal dari biji-bijian kering ini tidak dibutuhkan desain terlebih dahulu sebelum membuatnya. Salah satu yang menjadi keunikan perhiasan yang berasal dari biji-bijian adalah karena tekstur atau kontur permukaan perhiasan ini ditentukan oleh biji itu sendiri. Nilai seni yang secara alami dilukiskan oleh alam kemudian disempurnakan oleh pengrajinnya. Tak hanya membiarkan alam melukisnya, Anthony Sutrisno bahkan melakukan riset mempelajari nilai spiritual dari biji-bijian itu dari legenda-legenda yang ada. Baginya berkesenian itu tidak harus bermain musik atau menjadi pengrajin, namun juga “belajar melihat keindahan dari apa yang kita kerjakan”, jelasnya.
Biji-bijian yang digunakan untuk membuat perhiasan antara lain biji cariuk, sengon, palem, dan kelapa ratu. Beberapa perhiasan yang menurutnya banyak dicari adalah gelang biji kelapa ratu yang ukurannya sebesar kelereng dan kalung biji saga. Selain perhiasan, Bumi Putih Spiritual Jewelry juga membuat pernak-pernik hiasan dan gantungan kunci. Misalnya gantungan kunci dari biji kluwek yang dibuat mirip lonceng sapi.
Bisnis yang telah ia jalani selama lima tahun dengan ide yang unik ini telah berkembang. Karena nilai seni yang sangat tinggi dan alami, perhiasan yang lekat dengan kesan vintage dan tradisional tersebut kini memiliki nilai rupiah yang cukup tinggi. Penggunaan perhiasan dari bahan ramah lingkungan ini akan ikut mendukung usaha manusia untuk menjaga keseimbangan alam. “Reduce, Reuse, Recycle!”





