Sesanti Universitas Katolik Parahyangan (Unpar), Bakuning Hyang Mrih Guna Santyaya Bhakti, menjadi pedoman penting bagi segenap sivitas akademika Unpar untuk terus mengamalkan ilmu bagi kebaikan bersama. Jati diri sebagai akademisi dan motor penggerak perubahan terus ditanamkan dalam diri setiap insan Unpar, khususnya bagi mahasiswa. Hal ini menjadi wujud cita-cita para pendiri Unpar dalam memajukan bukan hanya ilmu, tetapi juga taraf hidup masyarakat di Tatar Pasundan.
Lembaga Pengembangan Humaniora (LPH) menjadi salah satu perwujudan visi Unpar dalam menghasilkan insan Unpar yang humanum. Tentu saja, menciptakan manusia yang utuh membutuhkan berbagai langkah yang tidak hanya didapat melalui proses kuliah di dalam kelas, namun dengan berproses di tengah-tengah masyarakat. LPH mengajak mahasiswa untuk terlibat langsung dengan mengembangkan diri dan mengamalkan ilmu dalam masyarakat.
Program Pendidikan Pengabdian kepada Masyarakat (P3M), sebagai salah satu program LPH, telah mengajak mahasiswa dari berbagai latar belakang keilmuan untuk menyelesaikan permasalahan nyata, khususnya di dalam masyarakat pedesaan. Melalui program yang diadakan setiap enam bulan sekali ini, mahasiswa akan terjun langsung ke lapangan, melihat realitas kehidupan dan permasalahan komunitas, serta terlibat dalam proses pengabdian secara integratif bersama masyarakat lokal.
Mahasiswa peserta P3M, didampingi oleh Dosen Pendamping Lapangan (DPL) dari LPH dan Fakultas Filsafat, kemudian akan tinggal bersama warga desa dalam jangka waktu antara dua minggu hingga satu bulan. Dalam masa live-in ini, mahasiswa mendapat kesempatan untuk mengamati berbagai problematika yang terjadi di lingkungan desa. Dari pengamatan dan identifikasi masalah ini, mahasiswa diajak mengeksplorasi kemungkinan terbaik untuk membantu masyarakat, sesuai dengan ilmu dan pengetahuan yang dikuasai, sehingga menghasilkan solusi aplikatif untuk membantu menyelesaikan permasalahan yang dihadapi masyarakat.
Merujuk pada artikel mengenai P3M yang dimuat di Kompas Griya Ilmu (Maret 2016) disebutkan, di tahap pelaksanaan, tim dosen, pendamping, dan panitia P3M berkunjung setiap minggu untuk melakukan diskusi, sharing, dan konsultasi terkait program yang dilaksanakan mahasiswa. Dalam kurun waktu 20 hari, mahasiswa tidak hanya ‘tinggal bersama’, tetapi juga mencoba mewujudkan kebaikan bersama, saling belajar, berjumpa, dan bertukar pikiran untuk saling merekatkan hati sehingga dapat terjalin rasa empati, bukan sekadar simpati.
Selanjutnya, melalui proses observasi, diskusi, musyawarah dengan warga, serta pendekatan-pendekatan yang dilakukan, ditemukan beberapa permasalahan yang ada di desa. Kemudian, mahasiswa mencoba membantu ‘mengurangi’ masalah-masalah di desa tersebut melalui program-program yang tepat guna antara lain mengajar siswa sekolah dasar hingga SMA, memperbaiki infrastruktur dusun, mengundang pembicara untuk mengisi penyuluhan di dusun maupun di desa, hingga membuat katalog desa wisata.
Setiap kegiatan tentu membutuhkan ‘bekal’ yang baik. Agar manfaat P3M dapat dirasakan secara nyata dan berkelanjutan oleh mahasiswa dan masyarakat.
Melalui kegiatan P3M, diharapkan mahasiswa dapat turut berperan aktif dalam program pembangunan masyarakat dan berpartisipasi dalam program pemberdayaan masyarakat yang berkelanjutan. Selain itu, mahasiswa didorong pula untuk membangun semangat (etos) mengabdi yaitu pengabdian ilmu di dalam masyarakat sesuai dengan sesanti “Bakuning Hyang Mrih Guna Santyaya Bhakti.”
Adapun, kegiatan P3M akan diadakan pada 3-21 Januari 2018 mendatang yang berlokasi di Desa Cindulang, Kecamatan Cimanggung, Kabupaten Sumedang, Jawa Barat. Kegiatan ini ditujukan bagi mahasiswa angkatan 2016, 2015, 2014 dan seterusnya atau yang sudah menempuh mata kuliah Metodologi Penelitian. Bagi para mahasiswa yang berminat, dapat langsung mendaftarkan diri pada link berikut : bit.ly/P3MUnpar .





