Momen Haru Saat Dua Mahasiswi Bersiap Menuju Puncak Aconcagua

WISSEMU mengibarkan bendera Merah Putih dan membawa angklung di Puncak Aconcagua-Argentina (Sumber Foto: Facebook Indonesia Seven Summits Expedition Mahitala Unpar)

Bandung – Sekumpulan orang berdiri berdekatan membentuk lingkaran di halaman kampus Universitas Katolik Parahyangan (Unpar), Kota Bandung. Mereka serempak menundukan kepala sambil memanjatkan doa. Jejak momen itu berlangsung menjelang tiga mahasiswi Unpar bergerak ke puncak Gunung Aconcagua, Argentina.

Sore itu menuju matahari terbenam, 29 Januari 2016, pengurus Mahasiswa Parahyangan Pecinta Alam (Mahitala) Unpar mengajak mahasiswa-mahasiwi berjumlah sekitar 50 orang meluangkan waktu sejenak. Mereka menerawang sosok trio perempuan muda pemberani yaitu Fransiska Dimitri Inkiriwang (Deedee), Mathilda Dwi Lestari (Hilda) dan Indah Carolina (Caro) yang tengah menghadapi misi The Women of Indonesia’s Seven Summits Expedition Mahitala Unpar (WISSEMU).

“Kami dan salah satu perwakilan dosen berkumpul. Waktu itu kami mendoakan keselamatan dan kelancaran tiga orang teman sekampus yang hendak ke puncak Aconcagua,” ujar Tim Publikasi WISSEMU Alfons Yoshio sewaktu berbincang bersama detikcom di sekretariat Mahitala, kampus Unpar, Jalan Ciumbuleuit, Kota Bandung, Rabu (3/2/2016).

Doa bersama di kampus Unpar bertepatan ekspedisi Tim WISSEMU itu berlangsung empat hari berturut-turut, atau 26-29 Januari 2016. “Konsep ekspedisi ini ialah mendaki tujuh gunung tertinggi yang berlokasi di tujuh benua,” kata Alfons.

Ketiga pendaki usia muda nan tangguh tersebut berjuang untuk kali keempat dalam rangkaian pendakian Seven Summits. Giliran puncak Aconcagua yang Deedee, Hilda dan Caro singgahi pada akhir Januari lalu. Sebelumnya mereka sukses menyentuh puncak Carstensz Pyramid pada 13 Agustus 2014, puncak Elbrus pada 15 Mei 2015 dan Kilimanjaro pada 24 Mei 2015.

“Walau mereka jauh, kami di Bandung tanpa henti menyemangati tim pendaki. Menjelang pendakian ke puncak Aconcagua, kami sempat berkomunikasi via media sosial untuk mengobarkan semangat mereka,” tutur Alfons.

Motivasi jarak jauh lintas benua kepada tiga perempuan tersebut bukan tanpa alasan. Deedee, Hilda dan Caro mesti menghadapi rintangan dan risiko maut sewaktu melangkah menuju puncak gunung tertinggi di benua Amerika ini.

Urusan nyawa pun jadi taruhan. Jauh hari, tiga perempuan ini mengumpulkan informasi soal karakter Aconcagua yang tenar karena badai angin atau sebutannya el viento blanco. Kecepatan angin di gunung berselimut salju tersebut dapat mencapai 90 kilometer perjam. Selain itu, Aconcagua bersuhu dingin di bawah 35 derajat celsius.

“Pendaki dilatih menaklukan rasa takut dan malas dalam diri sendiri. Tapi tetap, paling penting itu harus safety. Setelah menjejakan kaki di puncak, pendaki bisa menikmati keindahan alam,” ucap Alfons.

Tim WISSEMU, waktu itu hanya Deedee dan Hilda, berhasil menapak puncak Aconcagua pada 30 Januari 2016, sekitar pukul 17.45 waktu setempat atau Minggu 31 Januari 2016, sekitar pukul 03.45 WIB. Caro mengalami kendala sehingga belum berkesempatan menemani dua sahabatnya berpose di puncak dengan ketinggian 6.962 meter di atas permukaan laut.

“Tim butuh waktu selama 12 jam mendaki puncak Aconcagua. Kami semua di Bandung sangat bangga sekaligus haru dengan keberhasilan mereka,” kata Alfons.

(bbn/miq)

Sumber Berita:

Berita Terkini

UNPAR Raih Penghargaan Pengabdian Masyarakat dari Tribun Jabar

UNPAR Raih Penghargaan Pengabdian Masyarakat dari Tribun Jabar

UNPAR.AC.ID, Bandung – Universitas Katolik Parahyangan (UNPAR) meraih penghargaan “Pengabdian Masyarakat Melalui Pendidikan”  dalam ajang Editor’s Choice 2.0 yang diselenggarakan surat kabar harian Jawa Barat, Tribun Jabar. UNPAR dinilai menjadi Perguruan Tinggi...

Kontak Media

Divisi Publikasi

Kantor Pemasaran dan Admisi, Universitas Katolik Parahyangan

Jln. Ciumbuleuit No. 94 Bandung
40141 Jawa Barat

Feb 4, 2016

X