‘Mengubah kotoran dan rongsokan jadi emas’ kiasan yang kerapkali didengungkan oleh seorang entrepreneur ternama, Dr. Ir. Ciputra.
Ciputra, nama yang tidak asing di telinga masyarakat Indonesia─memiliki gagasan bahwa sikap seorang entrepreneur selaiknya memiliki kemampuan untuk mengubah sesuatu yang tidak berharga menjadi bernilai. Melalui pendidikan entrepreneur, Ciputra ingin mewariskan semangat entrepreneurship kepada generasi muda bangsa Indonesia.
Lantas, mengapa generasi muda perlu memiliki jiwa entrepreneurship?
Pertanyaan tersebut diulas di dalam Seminar Building the Young Entrepreneurs for Indonesia Welfare: “Pendidikan Entrepreneur K-12 Ciputra Way” yang diselenggarakan oleh Pusat Pengembangan Karir bekerjasama dengan Fakultas Teknologi Informasi dan Sains Universitas Katolik Parahyangan (FTIS Unpar) pada Jumat (19/2) lalu.
Seminar yang berlangsung di Operation Room Gedung Rektorat Lantai 4 tersebut mengundang narasumber Ir. Antonius Tanan MBA, Msc, selaku Direktur Senior di Ciputra Group sekaligus salah satu alumnus dari Program Studi Teknik Sipil Unpar.
Antonius Tanan, demikian beliau akrab disapa, menjelaskan bahwa entrepreneurship bertujuan untuk membebaskan manusia dari kemiskinan dan ketidakberdayaan. Fenomena tersebut dapat ditinjau dari sektor pendidikan. Diketahui bahwa Indonesia memiliki 3.070 perguruan tinggi dengan mencetak sekitar 500.000-600.000 lulusan baru setiap tahun. Namun, Indonesia tidak cukup hanya sekadar mencetak SDM terdidik tetapi juga mereka yang dapat berpikir inovatif dan menciptakan peluang kerja.
Di dalam pemaparannya, Antonius Tanan menjelaskan bahwa terdapat tiga kunci utama dalam entrepreneurship yaitu risiko, peluang atau kesempatan, dan inovasi.
“Setiap hari, lakukan hal yang berbeda supaya kita mampu menginovasi diri sendiri; tidak terjebak rutinitas.” imbuh Antonius Tanan ketika menjawab pertanyaan dari seorang mahasiswa.
Melalui pendidikan dan pengetahuan entrepreneurship, generasi muda didorong untuk berpikir inovatif dan kreatif. Dengan demikian, ‘mengubah kotoran dan rongsokan jadi emas’ tidak menjadi sebuah kiasan semata.





