Memasuki masa Pra-Paskah, seluruh umat Kristiani mengadakan ibadah dalam memperingati hari Sengsara dan Wafat Tuhan Yesus Kristus yang mengorbankan nyawanya untuk menebus dosa manusia. Dalam mengawali masa Pra-Paskah, umat Kristiani mengawalinya dengan Rabu Abu yang diadakan 40 hari sebelum Paskah. Rabu Abu diperingati untuk pemeriksaan batin dalam masa pertobatan dengan melakukan pantang dan berpuasa demi membersihkan diri untuk Kebangkitan Kristus dan Penebus dosa kita. Rabu Abu ditandai dengan penerimaan abu yang berasal dari daun palma dari Minggu Palma setahun sebelumnya yang lalu diberkati oleh gereja dan diberikan membentuk tanda salib pada dahi setiap umat Kristiani oleh Romo maupun Prodiakon Gereja.
Misa Rabu Abu yang dilaksanakan di Rektorat Unpar jatuh pada 1 Maret 2017 lalu dan dihadiri oleh banyak umat Kristiani baik dari segenap karyawan, dosen Unpar maupun kalangan mahasiswa. Pastor Kasimirus Jumat, S.M.M., yang merupakan alumni Fakultas Filsafat Unpar berkesempatan memimpin misa Rabu Abu yang berjalan khusyuk. Dalam khotbahnya, Romo Kasmir memberikan penjelasan bahwa pada masa Rabu Abu, umat Kristiani melakukan persiapan diri untuk menyambut Kebangkitan Juru Selamat dengan melakukan puasa dan pantang dalam masa Pra-Paskah.
Romo Kasmir menambahkan bahwa masa Pra-Paskah, puasa wajib dilakukan oleh umat yang berusia 18 sampai 60 tahun. Puasa berarti makan kenyang sekali yang dilakukan hanya pada Rabu Abu dan Jumat Agung, sedangkan pantang daging, rokok, garam, gula, dan hiburan dilakukan umat yang berusia 14 tahun ke atas dan dilakukan pada Rabu Abu dan setiap hari Jumat sampai Jumat Suci dalam masa Pra-Paskah.
Setelah Rabu Abu, nantinya umat Kristiani akan juga menjalani serangkaian ibadah khusus dalam masa Pra-Paskah yakni Minggu Palma, Kamis Putih, Jumat Agung, dan Paskah yang jatuh pada hari Minggu.





