Mengapa Mahasiswi Lebih Banyak daripada Mahasiswa?

Mengapa Mahasiswi Lebih Banyak daripada Mahasiswa?

P. Krismastono Soediro, Kepala Kantor Yayasan Unpar

Di seluruh dunia pada tahun 2015 diperkirakan terdapat 481 juta perempuan berusia di atas 15 tahun  yang  sama  sekali tidak dapat membaca,demikian laporan Gender and EFA 2000‐2015: Achievements and Challenges , yang dipublikasikan oleh UNESCO, khususnya UNGEI (United Nations Girls’ Education Initiative). Walaupun diskriminasi gender dapat dialami oleh siapa saja, tetapi hingga kini perempuan lebih sering dalam situasi kurang diuntungkan. Diskriminasi berbasis gender dalam pendidikan merupakan sebab maupun akibat bentuk‐bentuk ketidaksetaraan gender secara lebih luas. Untuk memutus lingkaran tersebut UNESCO berkomitmen mempromosikan kesetaraan gender dalam sistem‐sistem pendidikan.

World Atlas of Gender Equality in Education yang dipublikasikan oleh UNESCO (2012), yang merekam perkembangan kesetaraan gender dalam pendidikan selama empat dasawarsa sejak 1970, menginformasikan bahwa pada jenjang pendidikan dasar di seluruh dunia semakin banyak negeri yang mencapai universal primary education. Hal ini tentu bagus untuk kesetaraan gender. Pada jenjang pendidikan menengah (tentu saja tingkat partisipasi di seluruh dunia lebih rendah daripada jenjang pendidikan dasar) persentase siswa dan siswinya relatif sama, namun terdapat negeri‐negeri yang perbedaan persentasenya lebar.

Kesetaraan Gender dalam Pendidikan Tinggi

Pada jenjang pendidikan tinggi (yang mana akses untuk masuk tentu lebih sulit dibandingkan dengan jenjang pendidikan menengah) ternyata justru terdapat kemajuan sangat pesat dalam persentase jumlah mahasiswi di seluruh dunia. Di seluruh dunia jumlah mahasiswi ternyata lebih banyak daripada jumlah mahasiswa. Di regio‐regio ini jumlah mahasiswi lebih banyak dibandingkan mahasiswa : Amerika Utara dan Eropa Barat, Eropa Tengah dan Eropa Timur, Amerika Latin dan Karibia, Asia Tengah. Ada pun di regio Asia Timur dan Pasifik jumlah mahasiswi relatif sama dengan mahasiswa. Di regio‐regio Arab, Asia Selatan dan Asia Barat, serta Afrika Sub‐Sahara jumlah mahasiswi lebih sedikit daripada mahasiswa.

Bagaimana dengan Indonesia? World Economic Forum’s Gender Gap Report 2015 mencatat bahwa nisbah jumlah mahasiswi terhadap jumlah mahasiswa 1,03 (relatif hampir sama, sedikit lebih tinggi).

Dalam pengamatan UNESCO tampaknya tingkat kemakmuran nasional berpengaruh terhadap persentase jumlah mahasiswi. Pada umumnya semakin makmur suatu bangsa semakin tinggi pula persentase jumlah mahasiswinya (walaupun terdapat beberapa kekecualian seperti Kyrgystan, Mongolia, dan Filipina).

Jika ditilik lebih lanjut, di tingkat dunia persentase mahasiswi lebih tinggi pada ilmu‐ilmu sosial dan humaniora, sedangkan  persentase mahasiswa tinggi pada ilmu‐ilmu alam dan rekayasa. Pada jenjang sarjana persentase mahasiswi relatif seimbang dengan mahasiswa, sedangkan pada jenjang magister persentase mahasiswi lebih tinggi daripada mahasiswa, tetapi pada jenjang doktor persentase mahasiswi lebih rendah daripada mahasiswa. Dalam pekerjaan peneliti, di tingkat dunia persentase perempuan lebih rendah daripada laki‐laki. Hal‐hal berikut ini barangkali menjelaskan mengapa persentase perempuan lebih rendah daripada laki‐ laki dalam pekerjaan peneliti: work‐life balance, gender stereotyping, pengukuran kinerja, kriteria promosi, tata kelola, dan peran peneliti dalam masyarakat. Akan tetapi di sejumlah negeri persentase perumpuan lebih tinggi daripada laki‐laki dalam pekerjaan peneliti.

Mengapa Mahasiswi Lebih Banyak?

Persentase jumlah mahasiswi yang lebih tinggi daripada mahasiswa  patut  dicermati.  Bagaimana  hal  ini  terjadi? UNESCO memberikan wanti ‐ wanti bahwa over ‐ representation perempuan dalam pendidikan tinggi bukan itu bukanlah karena hasil tindakan afirmatif. Penelitian empirik menggarisbawahi beberapa sebab peningkatan partisipasi

perempuan dalam pendidikan tinggi, mulai dari fakta bahwa pendidikan yang lebih tinggi diperlukan untuk mobilitas sosial yang lebih tinggi dan peningkatan kemakmuran. Selanjutnya, perempuan memerlukan pendidikan yang lebih tinggi untuk memperoleh pekerjaan yang sama dengan laki‐laki. Akan tetapi  tidak dapat  disangkal  bahwa globalisasi menuntun pada  perhatian  lebih  terhadap  egalitarianisme  gender. Akhirnya , kenyaataanya memang perempuan sering memperoleh nilai rapor yang lebih tinggi daripada laki‐laki.

Akan tetapi perlu dicatat, demikian UNESCO, bahwa over‐ representation perempuan dalam pendidikan tinggi tidak ditranslasikan ke dalam representasi yang proporsional di pasar tenaga kerja, terutama dalam posisi kepemimpinan dan pengambilan keputusan. Perempuan masih menghadapi halangan dalam pekerjaan, suara, politik, dan hukum. Hasilnya, perempuan berpendidikan tinggi sering melakukan pekerjaan yang tidak memerlukan seluruh potensi dan kecakapannya.

Persentase mahasiswi yang lebih tinggi daripada mahasiswa dalam pendidikan tinggi ini semakin menjadi perhatian di negeri‐negeri maju karena persentasenya sangat signifikan, dimulai sejak dasawarsa 1980‐an dan 1990‐an. Situasi ini dinamakan reversal of gender inequalities in higher  education.  Stéphan Vincent ‐ Lancrin ( 2008 ) menengarai sejumlah faktor. Pertama , faktor demografik. Usia ketika menikah yang meningkat dan kebebasan lebih besar bagi perempuan memberikan kesempatan kepada perempuan untuk menempuh pendidikan tinggi. Kedua, faktor sosisologis, yaitu berkurangnya diskriminasi terhadap perempuan di pasar tenaga kerja, di masyarakat, di dalam keluarga. Ketiga, faktor ekonomik, yaitu gaji yang lebih tinggi dengan pendidikan yang lebih tinggi, dan struktur perekonomian yang berubah. Keempat, faktor edukasional, yaitu perubahan dan pandangan dan model pendidikan yang lebih memungkinkan perempuan terlibat dalam pendidikan tinggi.

Masa Depan?

Bagaimana masa depan kesetaraan gender  dala m pendidikan tinggi? Melihat faktor‐faktor demografik, sosiologis, ekonomik, dan edukasional dewasa ini tampaknya persentase mahasiswi masih akan lebih tinggi daripada mahasiswa pada tahun‐tahun mendatang. Apa pandangan Anda sendiri mengenai situasi gender dalam pendidikan tinggi dewasa ini dan masa depan?

P. Krismastono Soediro, Kepala Kantor Yayasan Unpar,

menulis dalam kapasitas sebagai pribadi
Sumber : Majalah Parahyangan, Edisi 2016 Kuartal IV/ Oktober-Desember Vol. III No.4

 

Berita Terkini

UNPAR Raih Penghargaan Pengabdian Masyarakat dari Tribun Jabar

UNPAR Raih Penghargaan Pengabdian Masyarakat dari Tribun Jabar

UNPAR.AC.ID, Bandung – Universitas Katolik Parahyangan (UNPAR) meraih penghargaan “Pengabdian Masyarakat Melalui Pendidikan”  dalam ajang Editor’s Choice 2.0 yang diselenggarakan surat kabar harian Jawa Barat, Tribun Jabar. UNPAR dinilai menjadi Perguruan Tinggi...

Kontak Media

Divisi Publikasi

Kantor Pemasaran dan Admisi, Universitas Katolik Parahyangan

Jln. Ciumbuleuit No. 94 Bandung
40141 Jawa Barat

Jan 17, 2017

X