Mengabdi bagi Unpar

Bagi komunitas akademik Universitas Katolik Parahyangan (Unpar), pekarya tidak dapat dipisahkan dari keseharian kala berada di lingkungan kampus Unpar. Mereka yang selalu menjaga kelancaran aktivitas perkuliahan, dengan sigap melayani kebutuhan tenaga pengajar dan mahasiswa. Namun, tidak banyak yang tahu kisah mereka selama berkarya di Unpar.

Tim Publikasi berkesempatan untuk mengenal para pekarya yang telah setia mengabdi di lingkungan Unpar. Dua orang yang telah mengabdi hampir empat dekade menceritakan kesan, pengalaman, dan harapannya bagi Unpar.

Pak Ocim

Bila sivitas akademika Unpar berkesempatan untuk mengunjungi basement Rektorat Unpar, mungkin pernah bertemu dengan Pak Ocim. Ia adalah salah satu sopir yang sehari-hari mengantar Dekan Fakultas Teknologi Informasi dan Sains (FTIS). Pak Ocim bergabung dengan Unpar sejak tahun 1989 sebagai pengemudi bagi pejabat di lingkungan Unpar, khususnya bagi Pastor Frans Vermeulen OSC. (alm.) yang kala itu menjabat sebagai Wakil Rektor II. Sebelumnya, ia sempat menjadi sopir pribadi salah satu pimpinan yayasan Unpar.

Ia menceritakan salah satu pengalaman kala mendapat bantuan dari Unpar. Beberapa tahun yang lalu, ia mengalami masalah kesehatan, yang memerlukan tindakan operasi. Tentu, biaya yang besar harus ia keluarkan. Beruntung, katanya, “Masalah biayanya ditanggung dari Unpar.” Hal ini adalah salah satu dari pengalaman yang meninggalkan kesan baginya, sehingga merasa betah untuk bekerja di Unpar, dulu hingga kini. “Kesejahteraannya diperhatikan. Nikmat lah kerja di Unpar.” lanjutnya.

Pak Endah

Lain kisahnya dengan Pak Endah. Pekarya yang kini bekerja di lingkungan Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) ini telah berkarya selama 37 tahun di Unpar. Dulu, ia melamar sebagai pekarya di Fakultas Hukum, sebelum berpindah ke Biro Sarana dan Prasarana (BSP, kini BUT). Ia pernah mendapat tugas di Sekolah Pascasarjana dan Biro Kepegawaian (Bikep, kini BPMI). Karyanya sebagai pegawai Unpar membawa tiga anaknya untuk meraih gelar sarjana hukum. “Saya ingin mewariskan dengan ilmu,” tuturnya terkait hal tersebut.

Karyanya yang penuh kesungguhan hati membawa berkah tersendiri baginya. Saat salah satu anaknya diwisuda, seorang alumnus FH Unpar memberikan kesempatan bagi anaknya untuk melamar bekerja di lembaga hukum milik alumnus tersebut. “Saya merasa bangga dan tidak akan terlupakan itu seumur-umur. Saya merasa dihargai sebagai karyawan di sini,” kenangnya. Rasa bangga dan kebahagiaan ini, tuturnya, akan menjadi kenangan baginya di Unpar.

Menjelang masa pensiunnya, baik Pak Ocim maupun Pak Endah mengungkapkan keinginan mereka agar masyarakat Unpar terus memperteguh rasa kekeluargaan, khususnya di antara pimpinan, pegawai dan pekarya, serta mahasiswa Unpar, agar tidak pudar seiring perubahan zaman. Hal ini menjadi penting sebab mereka telah mengalami dan merasakan berbagai perubahan dan perkembangan yang terjadi di Unpar. Pak Ocim dan Pak Endah juga berharap agar Unpar semakin maju dan berkembang, sehingga mampu untuk terus berbakti bagi masyarakat luas.

Berita Terkini

UNPAR Raih Penghargaan Pengabdian Masyarakat dari Tribun Jabar

UNPAR Raih Penghargaan Pengabdian Masyarakat dari Tribun Jabar

UNPAR.AC.ID, Bandung – Universitas Katolik Parahyangan (UNPAR) meraih penghargaan “Pengabdian Masyarakat Melalui Pendidikan”  dalam ajang Editor’s Choice 2.0 yang diselenggarakan surat kabar harian Jawa Barat, Tribun Jabar. UNPAR dinilai menjadi Perguruan Tinggi...

Kontak Media

Divisi Publikasi

Kantor Pemasaran dan Admisi, Universitas Katolik Parahyangan

Jln. Ciumbuleuit No. 94 Bandung
40141 Jawa Barat

Dec 6, 2017

X