Masa Depan Akuntansi dan Bisnis di Era Digital

Akuntansi dan Bisnis

Kini, peran akuntansi telah berubah, dari sekadar pencatatan atau book-keeping menjadi keunggulan bersaing. Sebab, akuntansi pun tidak luput dari perkembangan teknologi. Perubahan peran ini akan berdampak pada dunia bisnis. Selain itu, perlu disimak peran akuntansi di masa mendatang serta transformasi profesi akuntan.

Hal inilah yang melatarbelakangi penyelenggaraan the 3rd Parahyangan International Accounting and Business Conference (PIABC) oleh Program Studi Akuntansi Universitas Katolik Parahyangan (Unpar) yang bekerjasama dengan the Association of Chartered Certified Accountants (ACCA). Kegiatan yang diselenggarakan pada 4-5 Mei 2017 di Sheraton Hotel Bandung itu mengangkat tema “The Future of Accounting and Business in Rapid Development of Information Technology”.

The 3rd PIABC terdiri atas sejumlah sesi, yaitu seminar umum, diskusi panel, seminar khusus untuk mahasiswa, dan presentasi paper. Keynote speaker dalam acara ini adalah Kabid Persandian dan Aplikasi Informatika Diskominfo Kota Bandung Dhian Dini, mewakili Wali Kota Bandung Ridwan Kamil yang berhalangan hadir.

Pembicara yang diundang diantaranya, Presiden ISACA Indonesia Isnaeni Achdiat, Direktur Software Asset Management and Compliance Microsoft Indonesia Sudimin Mina, CFO Datalogic Asia Pacific, Executive Committee, and Council of the Institute of Singapore Chartered Accountant Vincent Lim, Fakultas Akuntansi Universiti Teknologi MARA (UITM) Prof. Madya Mahfudzah Mohamed, Deputi Presiden ACCA Leo Lee, IFAC Board Member Ahmadi Hadibroto, dan Manajer Deloitte Indonesia Abdiansyah Prahasto.

Di era informasi dan teknologi saat ini, masyarakat masih belum menyadari pentingnya manajemen risiko di dunia maya. Oleh karena itu, seminar sesi 1 mengangkat tema “Cyber Risk Management” untuk memberikan wawasan kepada para peserta dalam mengelola risiko di dunia siber. Perkembangan teknologi informasi pun memengaruhi perubahan model bisnis. Pada masa prarevolusi industri, berbagai pekerjaan dilakukan secara konvensional atau manual. Memasuki era revolusi industri, tenaga manusia mulai digantikan oleh mesin.

Profesi akuntan yang menggunakan metode single entry book-keeping beralih ke double entry book-keeping. Sebab, klien memerlukan informasi pendapatan dan perubahan kekayaan pada suatu periode. Sementara itu, metode single entry book-keeping hanya memberikan informasi aset dan utang pada saat tertentu, klien tidak memikirkan jumlah perubahan kekayaan dan penyebabnya. Ditemukannya komputer pada tahun 1955 berdampak pada perkembangan double entry book-keeping karena waktu dan biaya pemroresan dan penyimpanan informasi kian cepat dan murah.

Sesi selanjutnya mengupas perubahan model bisnis akibat perkembangan teknologi, yakni enam model bisnis di masa mendatang serta peran profesi akuntan dalam menyikapi perubahan tersebut. Peserta diajak memahami lebih lanjut mengenai tren yang ada pada teknologi kini yang berdampak pada profesi akuntan di masa depan pada sesi ketiga. Para pembicara memaparkan lima tren di dunia teknologi informasi saat ini yang relevan dengan profesi akuntan.

Adapun diskusi panel yang dilaksanakan setelah tiga sesi seminar. Disebutkan, potensi teknologi menggantikan peran profesi akuntan hanya menunggu waktu. Maka, peran akuntan akan bergeser dan bersifat strategis dan konsultatif. Akuntan perlu memiliki ‘the right mind and skill’ dibuktikan dengan sertifikasi serta the right success tools, misalnya fasih berteknologi, supaya mampu bertahan dalam bersaing.

Sesi seminar khusus mahasiswa yang mengusung tema “Generation Next: What It Takes to Become Accountants of the Future” membahas atribut kunci, ekspektasi, serta aspirasi generasi muda di bidang akuntansi dan keuangan. Sebagian materi yang dibahas diambil dari studi yang dilakukan ACCA.

Selain itu, seminar dan presentasi paper bagi para akademisi dilaksanakan pada hari kedua. Sesi seminar ini memberikan sejumlah masukan dalam menerbitkan karya tulis ilmiah di jurnal internasional. Sementara itu, presentasi paper diselenggarakan dalam beberapa kelas paralel.

Tantangan mendatang bukan hanya sekadar persaingan antar akuntan di lingkup nasional, tapi juga ASEAN dan global. Ditambah pergeseran peran profesi akuntan akibat perkembangan teknologi informasi. Akuntan masa kini harus mempersiapkan diri dengan baik dalam menghadapi berbagai perubahan yang akan terjadi. Fasih berteknologi merupakan salah satu kunci menghadapi tantangan di masa depan.

 

Sumber: KOMPAS – Griya Ilmu (Selasa, 30 Mei 2017)

Berita Terkini

UNPAR Raih Penghargaan Pengabdian Masyarakat dari Tribun Jabar

UNPAR Raih Penghargaan Pengabdian Masyarakat dari Tribun Jabar

UNPAR.AC.ID, Bandung – Universitas Katolik Parahyangan (UNPAR) meraih penghargaan “Pengabdian Masyarakat Melalui Pendidikan”  dalam ajang Editor’s Choice 2.0 yang diselenggarakan surat kabar harian Jawa Barat, Tribun Jabar. UNPAR dinilai menjadi Perguruan Tinggi...

Kontak Media

Divisi Publikasi

Kantor Pemasaran dan Admisi, Universitas Katolik Parahyangan

Jln. Ciumbuleuit No. 94 Bandung
40141 Jawa Barat

May 30, 2017

X