Mahitala, Prestasi Dunia Pencinta Alam Unpar

Mahitala adalah organisasi pencinta alam Universitas Katolik Parahyangan (Unpar), Bandung. Nama Mahitala berasal dari bahasa Sansekerta yang berarti “bumi”, dan merupakan singkatan dari “Mahasiswa Parahyangan Pencinta Alam”.

Organisasi ini merupakan salah satu unit kegiatan mahasiswa (UKM) yang telah berdiri selama 41 tahun, tepatnya pada 4 April 1974. Mahitala saat ini memiliki enam cabang kegiatan, antara lain mountaineering (pendakian gunung), rafting (pengarungan sungai), diving (penyelaman laut), climbing (pemanjatan tebing), caving (penelusuran gua), dan tribe observation (pengamatan masyarakat tradisional).

Dalam perjalanannya, Mahitala telah menorehkan sejumlah prestasi yang mengharumkan nama Unpar dan Indonesia. Prestasi tersebut antara lain Ekspedisi Sudirman yang timnya mendaki dan memberi nama empat puncak yang belum pernah didaki oleh orang Indonesia di pegunungan Sudirman, Papua. Keempat puncak tersebut ialah puncak Mahitala, puncak Unpar, puncak Merah Putih, dan puncak Garuda.

Ekspedisi tersebut yang menjadi akar dari Indonesia’s Seven Summit Expedition Mahitala Unpar (ISSEMU) yang diselesaikan pada 2011. ISSEMU ini menorehkan sejarah dengan menjadi tim pendaki pertama dari Indonesia yang menyelesaikan rangkaian 7 summit dunia dan memperoleh gelar “The First Seven Summiteers” di Indonesia.

Ada pula Ekspedisi Karst Papua Barat yang berhasil menemukan gua-gua baru di Moskona Timur pada 2014. Selain itu, Mahitala mempunyai ekspedisi kecil yang diselenggarakan tiap tahunnya melalui program kerja Dewan Pengurus, yaitu Wandering Season atau musim pengembaraan. Wandering Season mendorong para anggota aktif untuk mengembara dan mencari jati diri lewat proses dari perencanaan sebuah ekspedisi kecil.

Pada Wandering Season 2014 , Mahitala berhasil memberangkatkan lima tim, yaitu Tim Pendakian Gunung Geureudong di Aceh, Tim Penyelaman Laut Labengki di Sulawesi, Tim Penelusuran Gua Matarombeo di Sulawesi Tenggara, Tim Pengarungan Arus Deras Sungai Bongka di Sulawesi, dan Tim Pengamatan Masyarakat Tradisional Suku Donggo di NTB.

Pada 2015, Mahitala berhasil memberangkatkan lagi tim Wandering Season yang terdiri atas Tim Penyelaman Pulau Lembata di Nusa Tenggara Timur, Tim Pengarungan Arus Deras Sungai Teunom di Aceh, Tim Pendakian Gunung Buku Sibela di Maluku, dan Tim Pengamatan Masyarakat Tradisional Suku Rote-Ndao di Nusa Tenggara Timur. Wandering Season menghasilkan sebuah laporan yang diharapkan akan membantu informasi dan perkembangan daerah sekitar ekspedisi tersebut dilaksanakan, ataupun masyarakat umum  yang ingin mengetahui tentang daerah tersebut.

Tidak semua kegiatan Mahitala berkutat dengan ekspedisi. Mahitala juga berperan aktif dalam program-program konservasi dan SAR (search and rescue). Kegiatan konservasi didasari dari pemikiran bahwa manusia harus menganggap alam sebagai sumber kehidupan yang harus dilindungi dan sudah menjadi kewajiban untuk menjaganya. Program konservasi yang telah dilakukan, antara lain penghijauan dan revitalisasi Sungai Cikapundung yang bekerja sama dengan Unpar. Mahitala kerap membantu dalam kegiatan SAR yang diselenggarakan oleh Basarnas maupun organisasi SAR lainnya.

Saat ini, Mahitala sedang melebarkan sayap dengan membawa tiga perempuan anggotanya menuju tujuh puncak dunia dalam ekspedisi The Women of Indonesia’s Seven Summit Expedition Mahitala-Unpar (WISSEMU). Apabila tercapai, Indonesia akan menorehkan satu lagi prestasi yang membawa srikandi Indonesia menuju 7 puncak dunia untuk pertama kalinya.

WISSEMU sendiri terdiri atas tim pendakian dan tim support, yang hingga saat ini telah berhasil menggapai 3 gunung, yaitu Cartenz Pyramid di Papua pada Desember 2014, Gunung Elbrus di Rusia, serta Gunung Kilimanjaro di Afrika yang didaki pada Mei 2015. Empat gunung lainnya akan segera diselesaikan sesuai dengan manajemen waktu yang telah diperhitungkan.

Mahitala selalu berharap agar “elang-elang”nya terus mengepakkan sayap lebih lebar, yang diharapkan dapat selalu mencetak prestasi baru yang mengharumkan nama bangsa. Selain itu, terus menaungi dan memperkuat kepakan sayap Mahitala dengan penuh rasa bangga dan syukur. Dukungan dari semua anggota aktif dan anggota Mahitala, serta dari Unpar-lah yang dapat membuat Mahitala menjadi sebuah organisasi yang besar seperti saat ini.

Sumber: KOMPAS – Griya Ilmu (Selasa, 24 November 2015), “Mahitala, Prestasi Dunia Pencinta Alam Unpar”

Berita Terkini

UNPAR Raih Penghargaan Pengabdian Masyarakat dari Tribun Jabar

UNPAR Raih Penghargaan Pengabdian Masyarakat dari Tribun Jabar

UNPAR.AC.ID, Bandung – Universitas Katolik Parahyangan (UNPAR) meraih penghargaan “Pengabdian Masyarakat Melalui Pendidikan”  dalam ajang Editor’s Choice 2.0 yang diselenggarakan surat kabar harian Jawa Barat, Tribun Jabar. UNPAR dinilai menjadi Perguruan Tinggi...

Kontak Media

Divisi Publikasi

Kantor Pemasaran dan Admisi, Universitas Katolik Parahyangan

Jln. Ciumbuleuit No. 94 Bandung
40141 Jawa Barat

Nov 24, 2015

X