Mahasiswa Berbisnis: Antara Kelebihan, Jebakan, dan Beban

Mahasiswa Berbisnis: Antara Kelebihan, Jebakan, dan Beban

Sering kita mendengar kalimat “yang muda, yang berkarya”. Kalimat tersebut bukan sekadar ungkapan sederhana tanpa makna dalam di baliknya. Coba tengok bagaimana beberapa tahun terakhir ini banyak sekali anak muda yang semakin berani untuk menujukan bakat-bakat terpendam di balik dirinya. Terlebih zaman saat ini sudah lebih mendukung anak muda untuk dapat berkembang dan berkarya di berbagai bidang dengan adanya dukungan teknologi serta semakin terbukanya akses informasi.

Jika berkaca pada beberapa tahun yang lalu, masyarakat masih memandang bahwa  anak muda tidak dapat dipercaya untuk memegang posisi-posisi penting di perusahaan. Anak muda dipandang sebelah mata karena dianggap malas dan seringkali keras kepala dengan idealismenya. Namun, sedikit demi sedikit pandangan tersebut mulai berubah. Anak muda kini dipandang sebagai bagian dari masyarakat yang memiliki inovasi tinggi, mau bekerja, dan mau membawa perubahan. Bukankah begitu?

Mudah saja membuktikan bagaimana hal tersebut telah terjadi sekarang ini. Berbagai sumber menujukan bahwa rata-rata usia CEO berada di usia 50 tahun. Namun kini kita dapat lebih mudah menemukan CEO yang masih berada di kisaran usia 30 tahun-an, bahkan di bawah itu. Hal ini tentu dipengaruhi oleh peruabahan pola pikir masyarakat dunia, khususnya di kalangan anak muda yang saat ini lebih banyak memilih untuk menjadi  seorang wirausahawan. Hal ini juga didukung dengan semakin banyaknya lembaga pendidikan yang berfokus pada bidang kewirausahahaan. Terlebih peluang berbisnis khususnya di bidang start up digital yang kini sedang didorong oleh pemerintah kian terbuka lebar. Yang tak kalah ‘seksi’ juga adalah bisnis di bidang kuliner. Contohnya di Kota Bandung. Kota yang terkenal akan anak muda kreatifnya ini pada November 2015 lalu ditetapkan sebagai Destinasi Wisata Kuliner oleh Kementerian Pariwisata RI karena pesatnya pertumbuhan bisnis serta inovasi kuliner di kota tersebut. Apakah anak muda bisa menangkap peluang tersebut? Jawabannya tentu bisa.

Tantangan Berbisnis di Usia Muda

Salah satu yang paling sering terdengar dari mulut anak muda ketika akan berbisnis adalah ketakutan untuk memulai. Ada beberapa faktor yang melatar belakanginya, diantaranya adalah ketakutan untuk gagal dan ketiadaan modal awal. Namun, sebenarnya kedua hal tersebut bisa diatasi dengan adanya keberanian serta kemampuan untuk merumuskan ide dengan baik, sehingga tidak hanya mampu meyakinkan sang pemilik ide namun juga orang lain yang mendengar ide tersebut. Konsep yang matang, nilai inovasi, diferensiasi, serta originalitas produk menjadi formula pasti ketika akan memulai sebuah bisnis.

Hal lain yang umumnya menyerang anak muda ketika berbisnis adalah cenderung hanya melihat tren sesaat tanpa memikirkan pengembangan produk dalam jangka panjang. Kebanyakan hanya melihat tren saat ini saja tanpa memikirkan apakah hal tersebut akan tetap menjadi tren di masa mendatang. Akhirnya banyak yang memilih untuk sekadar ikut-ikutan saja tanpa melihat apa passion sebenarnya yang ada di dalam diri mereka. Padahal berbisnis atau mengerjakan sesuatu yang bukan merupakan passion kita adalah sama saja menyiksa diri sendiri. Bisnis akan lebih sulit untuk dikembangkan jika kita tidak menanamkan rasa cinta di dalamnya.

Rasa percaya diri juga terkadang menjadi hal yang mengganjal anak muda dalam berbisnis. Stigma yang masih banyak ada di tengah masyarakat bahwa anak muda tidak bisa apa-apa dan dipangan sebelah matar seringkali menjadi beban dan menjatuhkan mental. Untuk itu ketika ingin mulai berbisnis, anak muda seharusnya dapat mengerti kondisi tersebut dan tidak boleh takut untuk dicela dan dipandang sebelah mata. Jangan takut juga untuk gagal, karena kegagalan merupakan pelajaran yang bisa membantu perkembangan bisnis kita. Yang terpenting adalah jangan pernah berhenti untuk belajar, baik melalui materi-materi yang tersedia melalui buku, artikel, koran, dan lainnya atau pun dari orang yang sudah berpengalaman di bidangnya.

Berbisnis Sambil Kuliah

Menjalankan bisnis saat status masih sebagai mahasiswa tentu sulit untuk dijalani, terutama terkait dengan pembagian waktu dan fokus pikiran. Penetapan skala prioritas merupakan hal wajib yang perlu ditetapkan sejak awal. Bayangkan saja harus mengurus bisnis setiap hari, sembari memikirkan deadline berbagai tugas maupun belajar untuk keperluas ujian. Terlebih bisnis di bidang kuliner seperti restoran, cafe, atau coffee shop yang tentunya memerlukan fungsi kontrol terhadap kualitas produk, standar operasional, serta tingkat kepuasan pelanggan.

Hal yang paling mudah sebenarnya adalah dengan mencari partner bisnis yang dapat mengisi kekurangan kita sebagai mahasiswa. Mereka harus dapat mengisi ‘kekosongan’ ketika kita sedang fokus terhadap perkuliahan, karena suka tidak suka pendidikan tetap harus menjadi prioritas.  Namun, bukan berarti semua pekerjaan dilimpahkan kepada partner kita sepenuhnya. Sebagai pemilik bisnis kita wajib mengetahui segala hal tentang bisnis kita meski tidak selalu ada secara full time  di dalam kesehariannya.

Jangan pernah takut untuk membagi waktu. Mengapa? Karena dengan membagi waktu kita dapat belajar untuk mempertanggungjawabkan pilihan kita. Hal tersebut akan bermanfaat juga ketika menghadapi berbagai pilihan dalam bisnis. Kita akan jadi lebih terbiasa untuk melihat plus dan minus dari berbagai hal dan dapat menentukan prioritas. Dan tak lupa, ketika bisnis sudah berhasil, jangan terlalu asik dengan hal tersebut. Ingat, bahwa pendidikan tetap harus diselesaikan.

R. Calvin Budianto (22) merupakan mahasiswa S1 tingkat akhir pada Program Studi Ilmu Hubungan Internasional, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Katolik Parahyangan (Unpar) dengan peminatan pada Kelompok Bidang Ilmu (KBI) Media, Diplomasi, dan Komunikasi Internasional.

Pernah menjabat sebagai Editor-in-Chief Warta Himahi (Organisasi internal di bawah Himpunan Mahasiswa Program Studi Ilmu Hubungan Internasional Unpar) periode 2015-2016, Calvin memiliki ketertarikan pada bidang media, kewirausahaan, dan industri kreatif. Sejak 2015 lalu, ia menjalankan bisnis di bidang F&B dengan membuka coffee shop bernama ‘KUNST House’ di Jatinangor, Sumedang dan telah memiliki 2 cabang di Kota Bandung. Ia juga tengah merambah bisnis makanan kemasan berupa selai dengan brand ‘ARTI Foods’.

Berita Terkini

UNPAR Raih Penghargaan Pengabdian Masyarakat dari Tribun Jabar

UNPAR Raih Penghargaan Pengabdian Masyarakat dari Tribun Jabar

UNPAR.AC.ID, Bandung – Universitas Katolik Parahyangan (UNPAR) meraih penghargaan “Pengabdian Masyarakat Melalui Pendidikan”  dalam ajang Editor’s Choice 2.0 yang diselenggarakan surat kabar harian Jawa Barat, Tribun Jabar. UNPAR dinilai menjadi Perguruan Tinggi...

Kontak Media

Divisi Publikasi

Kantor Pemasaran dan Admisi, Universitas Katolik Parahyangan

Jln. Ciumbuleuit No. 94 Bandung
40141 Jawa Barat

Feb 23, 2017

X