Pancasila telah hidup dalam sanubari rakyat Indonesia. Demikian benang merah yang dapat ditarik dalam pemaparan materi Kolokium Nasional: Dokumentasi Pancasila dari Rakyat seri keempat yang diselenggarakan Pusat Studi Pancasila Universitas Katolik Parahyangan (PSP UNPAR) via daring, Selasa (22/6/2021).
Mengangkat topik ‘Narasi Pancasila dari Penghayat dan Petani Cibintinu, Arjasari, diskusi berseri yang telah berlangsung tiap pekan di hari Selasa bulan Juni ini merupakan rangkaian diskusi dalam rangka memperingati Hari Lahir Pancasila. Seri terakhir Kolokium Nasional menghadirkan Ketua PSP UNPAR Andreas Doweng Bojo, S.S., M.Hum., dan Tokoh Masyarakat Desa Arjasari Dadang Usyana.
Membuka diskusi, pidato Soekarno dalam penganugerahan Gelar Doktor Honoris Causa di Universitas Gadjah Mada (UGM), 19 September 1951, jadi babak awal melihat Pancasila sebagai nilai dasar negara yang telah lahir dari rakyat. Dalam pidatonya, lanjut Andreas, Sukarno mengatakan bahwa dirinya bukanlah pencipta Pancasila.
“Pancasila yang Tuanku Promotor sebutkan sebagai jasa saya itu sebagai ciptaan saya itu, bukan jasa saya. Oleh karena saya dalam hal ini Pancasila itu, sekadar menjadi ‘perumus’ daripada perasaan-perasaan yang telah lama terkandung-bisu dalam kalbu rakyat Indonesia, sekadar menjadi ‘Pengutara’ daripada keinginan-keinginan dan isi-jiwa bangsa Indonesia turun temurun,“ demikian kata Soekarno.
Pancasila lahir dari rakyat pun ditegaskan kembali dalam pidato Bung Hatta di Bukittinggi, November 1932. Bung Hatta berujar, “… Marx menunjukkan dengan jalan ilmu, bahwa sosialisme akan datang dengan sendirinya karena perubahan masyarakat yang dipengaruhi oleh pertentangan kelas… Bagi kita orang Islam yang taat kepada perintah Allah, socialisme itu harus timbul atas kemauan kita sebagai suruhan agama,“ demikian ucapnya.
Dokumen sejarah lainnya pun mencatat jejak nilai Pancasila yang telah tumbuh di rakyat Indonesia. Penilaian itu juga muncul dari Thomas Stamford Raffles (Gubernur Jenderal 1811-1816) dalam buku History of Java.
“Dari yang telah dikemukakan kemajuan penduduk Jawa dalam bidang manufaktur dan keterampilan pertanian, maka bisa diperkirakan dengan mudah pengetahuan yang mereka miliki. Di sana tidak terdapat lembaga yang mengajarkan ilmu pengetahuan, dan semangat untuk mengadakan penelitian ilmiah sangat sedikit… Meskipun begitu, mereka bukan tidak memiliki kecerdasan dan kebijaksanaan alamiah. Pemikiran dan perasaan mereka tajam dan peka, penilaian mereka tentang karakter biasanya tepat,” kata Raffles dalam bab IV buku tersebut.
Andreas menuturkan, konteksnya sangat luas jika melihat hal apa saja yang mempengaruhi rakyat Indonesia, apalagi jika berbicara globalisasi, modernisasi, atau industrialisasi. Bila dirunut sejak abad 18 saat revolusi industri mulai terdengar gaungnya, revolusi ini turut mempengaruhi bangsa Indonesia. Jika dilihat lebih lanjut dalam konteks Indonesia, terutama Mei 1966, pemerintah Orde Baru mengumumkan kerja sama dengan IMF dan menjadi fase dimana pintu terhadap kapitalisme terbuka lebar.
“Ekspansi kekuasaan itu juga kemudian menimbulkan persoalan yang besar bagi kita,” ujarnya.
Belum lagi di UU Nomor 1 Tahun 1967 mendorong masuknya modal asik. Bisa dilihat akhir 1970-an hingga awal 1980-an merebak industri di wilayah Bandung. Menurut dia, ada satu kata yang penting dalam kapitalisme, yaitu mencari keuntungan.
“Untuk apa orang mendirikan perusahaan atau membeli saham? Apa alasan orang melakukan tindakan tersebut? Pertimbangannya tentu keuntungan. Pertimbangan ini juga yang melatarbelakangi beralihnya lahan di Bandung selatan dari area pertanian menjadi medan industri,” tuturnya.
Catatan Penting
Andreas menuturkan, ada 3 catatan penting yang perlu direfleksikan bersama. Pertama, sistem ekonomi berkeadilan adalah sistem ekonomi yang dijiwai Ideologi Pancasila, yaitu sistem ekonomi yang merupakan usaha bersama yang berasaskan kekeluargaan dan gotong royong nasional. Kegotongroyongan nasional, bukan hanya kegotongroyongan tingkat RT, RW, atau desa.
“Kapitalisme itu seperti kita berperang dengan diri sendiri. Kapitalisme itu diperangi dengan bagaimana kita sederhana dalam hidup ini. kita solider dan seterusnya. Dan ini yang perlu kita usahakan bersama, baik rakyat maupun pemerintah,” katanya.
Kedua, kapitalisme selalu sejalan dengan urbanisasi. Perlu ada upaya serius mengubah derasnya arus kapitalisme ini sebagaimana juga yang telah digagas Bung Hatta dalam tulisan “Saat Industrialisasi bagi Indonesia-Tulisan ketika pembuangan di Boven Digul & Neira-1935-1941); Transmigrasi jawaban terhadap urbanisasi dan Koperasi jawaban pencarian laba berlebihan.
“Orang yang tinggal di kota itu lebih besar daripada orang yang tinggal di desa. Di sini perlu ada upaya serius untuk mengubah derasnya arus ini. Jika ingin menghadang kapitalisme ini, kita mempunyai program yaitu transmigrasi sebagai jawaban atas urbanisasi. Sementara untuk menjawab mencari keuntungan, jawabannya yaitu koperasi. Koperasi bukan sekadar koperasi, tapi sebagai spirit bersama, spirit kegotongroyongan,” ucapnya.
Terakhir, gotong royong dalam kerangka rasionalitas-berbudi semua pihak menjadi spirit bersama karena “Siapapun yang berlagak mampu membebaskan rakyat pada umumnya dari segala duka derita dan membawa damai serta hidup penuh kenikmatan yang tidak pernah berakhir, berbohong besar-besaran. Ia mencanangkan prospek palsu, yang hanya dapat menimbulkan ledakan kejahatan, yang bisa lebih dahsyat (Rerum Novarum, 15).
“Gotong royong dalam rangka berbangsa adalah gotong royong yang dibangun dalam rasionalitas. Untuk menyelesaikan persoalan ketidakadilan dan seterusnya, kita kembali ke spirit dasar kita yaitu gotong royong ini,” ujar Andreas.
Sementara itu, Dadang Usyana menuturkan bahwa semua agama mengajarkan tentang nilai kebenaran maka standar kebenaran pun dimiliki setiap agama. Maka dari itu kebenaran ditentukan bukan berdasarkan satu agama, tapi berdasarkan keseluruhan agama yang ada. Kebenaran pun perlu diuji menurut hukum, hukum yang bersumber pada nilai-nilai Pancasila.
“Untuk itu, mari buka atas kepemilikan lahir batin dengan diunsuri ‘Cageur’, ‘Bageur’, ‘Bener’, ‘Singer’, dan ‘Pinter’. Maka kita bisa memanifestasikan nilai-nilai Pancasila,” tuturnya. (Ira Veratika SN-Humkoler UNPAR)





