Perkembangan daerah menjadi kawasan urban sering diiringi dengan permasalahan ketersediaan lahan dan kebersihan. Dari waktu ke waktu, semakin padatnya penduduk memunculkan kebutuhan akan rumah yang sesuai dengan ketersediaan sumber dayanya. Wabah penyakit seperti Tuberkulosis, sering muncul di daerah perumahan padat penduduk tersebut.
Yahintara, sebuah organisasi yang bergerak sebagai crisis response team di bidang arsitektur, merespon dengan kampanye Rumah Sehat yang mencoba menerapkan dan mengembalikan unsur arsitektur vernakular seperti cahaya dan udara dalam pembangunan rumah dengan bahan-bahan modern.
Untuk meningkatkan kesadaran akan hal itu, Arsitektur Hijau (Arjau) dan Yahintara berkolaborasi untuk membuat instalasi ruang yang diadakan di Masagi Koffee, Ciumbuleuit, Bandung. Pameran instalasi ruang yang dibuat sebagai partisipasi Arjau dan Yahintara pada Bandung Design Biennale (BDB) 2019 dimulai pada 1 Oktober hingga 1 November 2019.
Arjau merupakan suatu wadah minat bagi mahasiswa Program Studi Arsitektur Unpar yang mempelajari arsitektur vernakular nusantara. Instalasi ruang ini merupakan partisipasi kedua dari Arjau dalam BDB. BDB merupakan festival desain dimana individu maupun kelompok yang berkecimpung di bidang desain berkumpul dan membagi pengalaman dan karyanya melalui pengadaan workshop, talkshow, dan open studio yang tersebar di seluruh Kota Bandung.
Instalasi dibagi ke dalam tiga tahap, dan tahap pertama, yang dibuat oleh Arjau melatarbelakangi keseluruhan instalasi. Tahap pertama instalasi menjelaskan bahwa arsitektur vernakular yang memiliki hubungan, atau menanggapi konteks dari lokasi di mana suatu rumah didirikan, seperti bagaimana rumah dibentuk di daerah hutan hujan atau pinggir pantai. Dalam tahap ini, instalasi kental dengan elemen-elemen natural, seperti konstruksi dari bambu , kayu dolken, atau kain yang merespon hembusan angin.
Di tahap kedua instalasi digambarkan bahwa jenis perumahan yang ada semakin termodernisasi dengan menggunakan material yang diproduksi secara massal. Hal ini membuat rumah tidak sesuai lagi dengan konteks lingkungannya. Jenis rumah yang biasanya ditemukan di daerah padat tersebut melupakan aspek kesehatan yang penting, seperti tingkat kelembapan yang tinggi dan minimnya kesadaran untuk menjaga kebersihan yang dapat menimbulkan berbagai penyakit, seperti Tuberkulosis yang menjadi fokus dari instalasi ruang kali ini.
Sebagai solusi dari permasalahan yang muncul di tahap kedua, Yahintara menawarkan desain rumah yang lebih terbuka untuk membiarkan lebih banyak cahaya yang masuk, dan tidak lembab karena sirkulasi udara yang lebih baik dengan material modern, seperti baja dan wire-mesh yang ramah anggaran dalam tahap ketiga instalasi.
Instalasi ruang ini ditujukan untuk membagi cerita arsitektur vernakular yang disampaikan melalui instalasi yang menarik agar masyarakat tahu bahwa arsitektur ini masih relevan untuk dibangun dengan inovasi dalam mengaplikasikan material modern untuk mewujudkan rumah yang sehat untuk dihuni.
Viola selaku Sekretaris Umum Arjau yang sempat mendampingi pengunjung pameran dari Jepang, menyaksikan bagaimana pengunjung yang sebagian besar adalah orang awam antusias dengan instalasinya. “Kesan yang kami dapatkan dari pengunjung adalah bahwa arsitektur bisa dipahami oleh orang awam dan lintas bahasa, dan arsitektur itu tidak harus eksklusif ditujukan bagi orang yang memiliki latar belakang arsitektur saja,” tutur Viola.
“Semoga pengunjung lebih aware bahwa masih banyak masyarakat yang perlu dibantu, seperti dalam kasus ini masyarakat yang menderita penyakit, tetapi lingkungan tempat tinggalnya tidak mendukung, dan bantunya juga tidak susah kok,” harap Alia, salah satu Anggota Pengurus Arjau.





