Sebanyak 15 mahasiswa asing Universitas Katolik Parahyangan (UNPAR) belajar membatik di “Studio Workshop” Hasan Batik, Bandung, Kamis (31/03). Kantor Internasional dan Kerjasama (KIK) Unpar untuk kesekian kalinya mengadakan kegiatan ini sebagai bentuk pengenalan budaya Indonesia kepada mahasiswa asing.
Mahasiswa asing tersebut berasal dari Australia, Kamboja, Korea, Madagaskar, Serbia, Taiwan, dan Thailand. Mereka tergabung dalam program The Australia Consortium for ‘in-country’ Indonesia Studies (ACICIS), Kemitraan Negara Berkembang (KNB), dan program mahasiswa regular–program akademik sarjana atau pascasarjana UNPAR.
”Menurut saya, acara itu sangat menarik karena pertama dari Hasan Batik itu kita bisa langsung melihat dan mempraktekkan cara membuat batik dengan spesialisasi mereka”, kesan salah satu mahasiswa KNB Unpar, Rakotoarisoa Zamelina Arnold, yang akrab disapa Arnold.
Kegiatan dilanjutkan dengan sharing evaluasi belajar tengah semester. Adapun hal ini dimaksudkan untuk mengetahui sejauh mana perkembangan proses belajar dan mengenali tantangan-tantangan yang dihadapi mahasiswa asing selama menempuh studi di Unpar.
Dalam wawancara singkat bersama Ratih Indraswari, S.IP., M.A., Kepala Bagian Kerjasama, KIK, mengatakan bahwa kegiatan evaluasi ini sangat penting untuk memberikan feed-back bagi mahasiswa internasional yang sedang belajar di Unpar serta menjadi feed-back bagi the future batch of Unpar’s international students.
”Pengenalan budaya itu memang sebagai part of integration of the international students to the whole society. Kami juga mengajak masyarakat lokal untuk ikut berpartisipasi dalam kegiatan tersebut”, tambah Mbak Ratih, sapaan akrab Ratih Indraswari, Dosen Program Studi Hubungan Internasional (Prodi HI) Unpar yang telah mengajar sejak empat (4) tahun silam.
Tidak hanya belajar membatik, kegiatan semakin menarik dengan kunjungan ke Saung Angklung Udjo (SAU). Di sana, para mahasiswa berkesempatan untuk menyaksikan demonstrasi pembuatan angklung dan turut mempraktikkan pembuatan dasar angklung secara mandiri. Di akhir acara, mereka bermain angklung bersama serta menyaksikan performance SAU yang menampilkan suguhan pamungkas melalui lagu “Bohemian Rhapsody” dari grup band musik legendaris, Queen.
“Dan yang terakhir, mereka dapat memproduksi atau mereproduksi jenis lagu di dunia, seperti kita mendengar banyak instrumen yang berbeda tapi itu hanya sekelompok angklung. Jadi itu adalah hari yang indah dan juga tidak terlupakan dalam hidup saya,” ungkap Arnold dengan penuh semangat.
“Terima kasih banyak kepada Unpar. Hatur nuhun juga untuk penyelenggara tanpa pengecualian,” tutup mahasiswa asal Madagaskar yang sedang menempuh studi di Pascasarjana Unpar.





