Honai Cantik Meredefinisi Keelokan Papua

honai cantik

Republik ini memiliki keanekaragaman suku, ras, dan budaya. Secara fisik, penduduk Indonesia di bagian timur, terutama di Pulau Papua, berbeda dibandingkan dengan wilayah barat maupun tengah. Warna kulit yang hitam dan rambut keriting menjadikan mereka berbeda dengan tipikal fisik penduduk mayoritas Indonesia yang berkulit kuning langsat dan berambut lurus.

Perbedaan ini, meski manusia tak bisa memilih apa yang diberikan Tuhan, menjadi satu diantara banyak faktor yang membuat perbedaan sebagai salah satu penghambat berbaurnya warga Papua di negeri ini. Perbedaan ini pula yang disinyalir sebagai salah satu sebab rendahnya tingkat kepercayaan diri orang Papua dibandingkan dengan warga pulau-pulau lain di Indonesia.

Ajang kecantikan menjadi hal yang paling kentara terlihat. Dalam kontes kecantikan di Indonesia, hampir tak pernah ada perempuan Papua yang menjadi juara. Paling banter, perempuan Papua hanya menyabet titel 10 besar.

“Definisi perempuan cantik di mata orang Papua sebenarnya tak jauh berbeda dengan apa yang dikatakan cantik oleh penduduk kebanyakan di Indonesia,” kata Johanna KN Kemesrar, ketua Pusat Studi Pengkajian Perempuan dan Pemberdayaan Ekonomi Kerakyatan Sorong, Papua Barat. Lulusan Universitas Katolik Parahyangan Bandung itu mengakui, kecantikan dapat menjadi salah satu pendorong tingkat kepercayaan diri perempuan Papua untuk bergerak lebih maju dan menyejajarkan haknya dengan kaum pria.

Bagi masyarakat tradisional Papua, kata Johanna, peran perempuan masih subordinat bagi kaum pria. Dalam keluarga atau masyarakat, jika diizinkan, perempuan dapat ikut serta dalam sebuah proses pembuatan keputusan meski tak memiliki hak suara. Hal itu yang menjadi salah satu penghambat emansipasi perempuan di tengah masyarakat Papua.

Di tengah krisis peran perempuan Papua ini, kemudian bergulirlah ide untuk mengangkat kepercayaan diri mereka. Yayasan Honai Cantik kemudian didirikan di Timika, Kabupaten Mimika, Provinsi Papua. Uniknya, para penggerak Yayasan Honai Cantik ini justru berasal dari Bandung, Jawa Barat.

Ketua Yayasan Honai Cantik adalah Lamberti Timotheus yang biasa dipanggil Berti Manurung, seorang penata rias terkenal di Kota Bandung. Keterikatan batinnya dengan Papua, tanah kelahiran suaminya, Ray Manurung, menjadi salah satu sebab ia tergerak untuk total bergerak dalam wadah yayasan tersebut.

Dalam operasional Yayasan Honai Cantik itu, Berti dibantu oleh Untung Muliana yang juga berasal dari Bandung. Untung sebelumnya telah malang melintang dalam hal kontes kecantikan Indonesia di tingkat internasional.

“Yayasan Honai Cantik ini didirikan atas dasar keprihatinan kami atas rendahnya rasa percaya diri perempuan saat berada di depan umum. Padahal, mereka memiliki karakter yang kuat dan potensi yang luar biasa. Kami percaya bahwa perempuan Papua ini mampu bersaing dengan perempuan lain, bahkan hingga tingkat internasional, dalam segala hal,” kata Berti yang memiliki salon kecantikan di Jalan Pandawa Kota Bandung.

 

Sumber: Pikiran Rakyat (Rabu, 21 September 2016)

Berita Terkini

UNPAR Raih Penghargaan Pengabdian Masyarakat dari Tribun Jabar

UNPAR Raih Penghargaan Pengabdian Masyarakat dari Tribun Jabar

UNPAR.AC.ID, Bandung – Universitas Katolik Parahyangan (UNPAR) meraih penghargaan “Pengabdian Masyarakat Melalui Pendidikan”  dalam ajang Editor’s Choice 2.0 yang diselenggarakan surat kabar harian Jawa Barat, Tribun Jabar. UNPAR dinilai menjadi Perguruan Tinggi...

Kontak Media

Divisi Publikasi

Kantor Pemasaran dan Admisi, Universitas Katolik Parahyangan

Jln. Ciumbuleuit No. 94 Bandung
40141 Jawa Barat

Sep 22, 2016

X