Dua Perempuan di Puncak Dunia

Fransika Dimitri Inkiriwang (23) dan Mathilda Dwi Lestari (23) adalah para perempuan Indonesia pertama yang berhasil membentangkan bendera merah putih serta membunyikan angklung di titik tertinggi lempeng benua Amerika utara, yaitu puncak Gunung Denali, Alaska. Ini merupakan puncak ke enam mereka, dari target tujuh puncak untuk menggapai gelar seven summiteers perempuan pertama dari Indonesia. (X. Frans/WISSEMU)

Wajah dua perempuan itu berseri-seri. Sorot mata mereka cerah, memancarkan aura positif kepada hadirin yang memadati sebuah ruangan di salah satu hotel bintang lima di Jakarta, Senin (24/7) siang itu. Bibir mereka pun tak henti melempar senyum teduh dan tawa lepas kepada puluhan orang yang ada.

Itulah ekspresi kegembiraan tiada tara dua perempuan pendaki dari Program Studi Hubungan Internasional Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Katolik Parahyangan (Unpar), Bandung, yakni Fransisca Dimitri (23) dan Mathilda Dwi Lestari (23). Kedua perempuan yang tergabung dalam Mahasiswa Pecinta Alama (Mahitala) Unpar ini baru saja menyelesaikan misinya mendaki puncak keenam dari tujuh puncak dunia yang berada di tujuh benua (seven summits).

Puncak keenam ini berada di Gunung Denali (6,190 meter dari permukaan laut/mdpl), Alaska, Amerika Serikat. Mereka mencapai puncak Denali pada 2 Juli 2017 setelah melalui pendakian selama lebih kurang 16 hari. Sebelum mencapai puncak Denali, mereka sukses menggapai lima puncak lain, yakni Gunung Cartensz Pyramid (4,884 mdpl) di Indonesia (13 Agustus 2014), Elbrus (5,642 mdpl) di Rusia (15 Mei 2015), Aconcagua (6,962 mdpl) di Argentina (31 Januari 2016), Kilimanjaro (5,895 mdpl) di Tanzania (24 Mei 2015), dan Vinson Massif (4,892 mdpl) di Antartika (5 Januari 2017). Kini tinggal satu puncak lagi yang mereka tuju, yakni Everest (8,848 mdpl) di Nepal. Menurut rencana, pendakian ke Everest akan dilakukan tahun depan.

Capaian ini merupakan capaian prestisius bagi mereka. Apabila sukses mencapai puncak ke tujuh di Everest tahun depan, mereka akan tercatat sebagai perempuan pendaki pertama di Indonesia yang sukses melakukan ekspedisi seven summits. Bahkan, hal ini pun baru pertama kali di Asia Tenggara jika mengacu pada seven summits aliran Reinhold Messner.

Bagi mereka, pendakian ini mengemban misi membanggakan Indonesia. Dari satu gunung ke gunung lain, mereka tak henti mengibarkan bendera Merah Putih dan angklung, alat musik khas negeri ini. “Banyak pendaki lain yang penasaran dengan kami. Mereka pun bertanya-tanya tentang Indonesia. Dari sana, kami mempromosikan kekayaan alam dan budaya Indonesia kepada mereka. Ini cara kami membanggakan Indonesia ke mata dunia,” ujar Fransisca yang biasa disapa Deedee.

Persiapan panjang

Fransisca dan Mathilda terlibat menjalani ekspedisi seven summits setelah ikut serta dalam ekspedisi mengganti tali tebing (fixed roof) di Carstensz Pyramid, Agustus 2014. Setelah pendakian itu, rekan dan senior di Mahitala memunculkan ide untuk mengusulkan ekspedisi seven summits. Sebelumnya, tim laki-laki Mahitala sukses menuntaskan ekspedisi seven summits selama 2009 hingga 2011.

Usulan itu ditanggapi serius. Akhirnya dibuka pendaftaran bagi perempuan yang siap ikut ekspedisi itu. Melalui tahapan seleksi ketat, terpilih tiga orang, yakni Fransisca, Mathilda, dan Dian Indah Karolina (22). Mereka bertiga bagian dari empat perempuan yang ikut ekspedisi mengganti tali tebing di Carstensz Pyramid.

Setelah itu, mereka mulai melakukan serangkaian persiapan. Mereka turut meriset kondisi dan memastikan hari yang tepat untuk mendaki gunung-gunung itu. Yang paling berat, mereka harus menjalani serangkaian latihan mulai dari menjaga asupan gizi hingga latihan fisik layaknya tentara. Latihan persiapan menuju Denali merupakan yang terberat. Mereka harus latihan membawa beban ganda, di pundak tas seberat 24 kilogram (kg) dan di pinggang menarik ban seberat 16 kg. Mereka membawa beban itu melalui rute menanjak dan menurun dari Pasar Kembang, Tangkuban Parahu, dan kembali ke Pasar Kembang sekitar 25 kilometer (km).

Mereka melakukan itu delapan jam sehari selama tiga hari berturut-turut sebulan sebelum ke Denali. “Latihan ini dilakukan karena di Denali tidak ada jasa porter (pengangkut barang) dan waktu operasionalnya lama, yakni mencapai 16 jam,” ucap Deedee.

Secara keseluruhan, mereka melakukan latihan enam hari dalam seminggu selama tiga tahun terakhir. “Kadang kami jenuh latihan terus-menerus. Tapi, kami memotivasi diri sendiri, lebih baik mandi keringat ketika latihan daripada mandi darah di medan perang,” kata Deedee.

Penyakit gunung

Meski sudah melakukan persiapan matang, nyatanya alam tidak bisa ditebak. Kondisi di lapangan jauh lebih berat daripada yang diperkirakan. Cuaca bisa berubah sangat cepat dan ekstrem. “Umumnya, di gunung es, pagi tampak cerah, tetapi menjelang siang atau sore cuaca mendung, gelap, hingga terjadi badai,” tutur Mathilda yang biasa disapa Hilda.

Akibatnya, pendakian mereka menjadi sangat berat. Bahkan, mereka sempat diserang badai el viento blanco (angin putih). Badai dengan kecepatan hingga 90 km per jam itu ditakuti para pendaki. Badai itu bisa terjadi tiba-tiba dan durasinya bisa berkisar 203 hari. Badai itulah yang menewaskan dua pendaki legendaris Indonesia, Norman Edwin dan Didiek Samsu, pada April 1992.

Karena badai ini pula, mereka tertahan tiga hari di basecamp. Hari keempat ketika badai berangsur berkurang, mereka mengambil keputusan melanjutkan perjalanan dengan sangat hati-hati.

Rintangan tak henti sampai situ, menjelang puncak Aconcagua, Dian terkena penyakit gunung (acute mountain sickness/ AMS). Ia linglung, bahkan tak bisa diajak berkomunikasi. Ia pun terpaksa dievakuasi untuk turun dan tidak bisa lagi meneruskan ekspedisi. Peristiwa ini sempat membuat mental kami jatuh. Tapi, kami introspeksi diri. Mungkin hal ini akibat kami kurang perhatian satu sama lain,” ujar Hilda.

Perjalanan mereka menapaki tujuh puncak dunia di tujuh benua itu bukan hal mudah. Semua itu butuh tekad kuat, keberanian, persiapan matang, dan fisik prima. Lebih dari itu, semua persiapan tersebut tak akan sukses tanpa dukungan dan doa orang-orang terdekat mereka, antara lain orangtua, saudara, dan rekan-rekan.

 

Sumber: Kompas (Sabtu, 29 Juli 2017)

Berita Terkini

UNPAR Raih Penghargaan Pengabdian Masyarakat dari Tribun Jabar

UNPAR Raih Penghargaan Pengabdian Masyarakat dari Tribun Jabar

UNPAR.AC.ID, Bandung – Universitas Katolik Parahyangan (UNPAR) meraih penghargaan “Pengabdian Masyarakat Melalui Pendidikan”  dalam ajang Editor’s Choice 2.0 yang diselenggarakan surat kabar harian Jawa Barat, Tribun Jabar. UNPAR dinilai menjadi Perguruan Tinggi...

Kontak Media

Divisi Publikasi

Kantor Pemasaran dan Admisi, Universitas Katolik Parahyangan

Jln. Ciumbuleuit No. 94 Bandung
40141 Jawa Barat

Aug 2, 2017

X