Pandemi yang sedang terjadi telah membawa ketidakpastian dalam berbagai aspek kehidupan kita. Karenanya, manusia perlu mencari solusi akan ketidakpastian itu. Sebuah gagasan yang relevan bagi kehidupan dan diharapkan dapat memberikan solusi adaptasi menuju era yang lebih baik.
Hal ini menjadi highlight dalam perayaan Oratio Dies ke-66 Fakultas Ekonomi Universitas Katolik Parahyangan (FE Unpar) bertema “Triumph The Uncertainty” yang diselenggarakan pada Kamis (21/1/2021). Kegiatan yang diselenggarakan dalam dua bahasa secara daring ini dihadiri oleh Pengurus Yayasan Unpar, Rektor beserta jajarannya, pimpinan fakultas, jurusan dan program studi, serta anggota komunitas akademik dan alumni FE Unpar. Acara selama lebih kurang tiga jam dipandu oleh Deba Luthfia dan Antonius Chandra.
Acara dibuka dengan pembacaan doa oleh Brigita Meylianti Sulungbudi, Ph.D., ASCA., CIPM., yang dilanjutkan dengan sambutan oleh Ketua Pelaksana Dies Natalis 66, Fernando, S.E., M.Kom.
Tanggap Masa Pandemi
Menanggapi masa pandemi saat ini, Fernando mengutip kosa kata mandarin “Wei Ji” yang berarti ‘krisis’. Kata tersebut mengandung dua makna, yaitu “Wei” yang berarti bahaya, tetapi juga “Ji” yaitu peluang. Artinya, pandemi tentu berbahaya, tetapi kita harus yakin akan ada turning point pada waktunya. Sambutan berikutnya disampaikan oleh Dr. Budiana Gomulia, Dra., M.Si. selaku Dekan FE Unpar yang menghaturkan rasa syukurnya atas kemajuan FE Unpar hingga sekarang. FE Unpar yang berdiri pada 1955 menjadi cikal bakal bagi perkembangan Unpar sampai saat ini.
Ketua Ikatan Alumni (IKA) FE Antonius Alijoyo menyampaikan terdapat 4 aspek utama dalam pandemi saat ini, yakni volatilitas, ketidakpastian, kompleksitas, dan ambiguitas. Masa ini merupakan pilihan kita apakah kita terjatuh atau bangkit dan menjadi pribadi yang lebih baik dari sebelumnya. Di sisi lain, Rektor Unpar Mangadar Situmorang, Ph.D. mengatakan bahwa menjadi pribadi yang baik dan rendah hati atau humble merupakan prinsip dasar yang hendaknya dijalankan terutama di masa pandemi ini. Di umurnya yang ke-66 ini, Rektor menegaskan bahwa FE Unpar perlu menjawab tantangan untuk menjadi lebih berarti dan berguna untuk memberikan edukasi bagi para mahasiswa.
Sementara itu, Pengurus Yayasan Unpar Drs. Johanes Bambang Hardiono, Ak., M.M. berharap di usianya yang ke-66 FE Unpar dapat senantiasa mempertahankan dan meningkatkan akreditasi prodi-prodi bagi semua jenjang dan akreditasi internasional, mempertahankan atmosfir kerja yang nyaman, dan mewujudkan kebijaksanaan merdeka belajar.
Dalam laporan tahunannya, Dekan FE Unpar memaparkan perkembangan positif fakultas khususnya menghadapi pandemi global yang tengah terjadi. Dalam situasi yang sulit, FE Unpar berhasil mengatasi dampak pandemi dalam penyelenggaraan aktivitas akademik, kemahasiswaan, dan aktivitas penunjang lainnya.
Menang dengan “HAPPY”
Orasi Dies disampaikan oleh dosen Manajemen Unpar Dr. Istiharini, S.E., M.M. Beliau menyoroti bagaimana manusia perlu bersikap dan bertindak menghadapi pandemi. Hal yang semakin penting mengingat dampak pandemi telah memberikan efek luar biasa bagi manusia, kehidupan sosial, hingga perekonomian kita.
Pandemi tentu memberikan tantangan yang luar biasa, namun tidak menutup kemungkinan bagi kita untuk menjadikan tantangan ini sebagai peluang yang cemerlang. “We have to be Triumph the Uncertainty. We have to be HAPPY,” tegasnya.
HAPPY yang disampaikan oleh orator mengandung makna yang dalam. Dr. Istiharini menguraikan makna “HAPPY” sebagai healthy, acceptance, proactive, protection, dan your dreams. Hal-hal ini perlu dibawa dan digunakan sebagai paradigma hidup dalam melihat konteks masa kini guna menghapus kekhawatiran dan membawa harapan baru menghadapi pandemi.
Di penghujung acara, diberikan penghargaan bagi para mahasiswa berprestasi khususnya dalam bidang akademik. (JNS/DAN – Divisi Publikasi)





