Fakultas Teknologi Industri Universitas Katolik Parahyangan (FTI UNPAR) merayakan Dies Natalis ke-28 pada Selasa (20/4/2021) secara daring. Acara yang mengangkat topik “Isu-isu Kontemporer Dalam Logistik: Peluang dan Tantangan Bagi Masyarakat 5.0” itu diharapkan dapat sejalan dengan semangat pengembangan UNPAR tentang keadaban baru dan peningkatan layanan pendidikan tinggi.
Dies Natalis ke-28 itu resmi dibuka dengan kata sambutan dari Ketua Panitia Dies Natalis FTI ke-28, Hans Kristanto, S.T., M.T. Dalam sambutannya, Hans menuturkan, rangkaian peringatan Dies diawali dengan kegiatan bakti sosial ke 6 lokasi, Panti Jompo Yayasan Tulus Kasih, Wisma Lansia J. Soenarti Nasution, Panti Asuhan Dana Mulia, dan Panti Asuhan Putra Maranatha. Sebagai wujud kepekaan sosial sivitas akademika FTI
Total sumbangan yang disalurkan adalah 315 kilogram beras, 72 kilogram gula pasir, 36 liter minyak goreng, 15 kilogram terigu, 12 kotak teh celup, 6 dus mie instan, 15 karton susu kemasan, 5 dus baju bekas layak pakai, dan perangkat alat tulis & buku. Sumbangan berupa uang tunai dan sejumlah pakaian bekas layak pakai juga disumbangkan melalui Keuskupan Larantuka untuk membantu korban bencana di Nusa Tenggara Timur.
“Dapat saya sampaikan, total donasi yang dihimpun dari seluruh dosen, tendik (tenaga kependidikan,red), dan mahasiswa mencapai Rp 22 juta dan in kind,” ujarnya.
Selanjutnya, sambutan pun disampaikan Rektor UNPAR Mangadar Situmorang, Ph.D. Rektor dalam sambutannya menyampaikan apresiasi atas seluruh kerja dan kinerja FTI selama 28 tahun ini. Menurut Rektor, banyak capaian dan prestasi yang telah diraih bersama dengan FTI yang terus berkembang.
“Penambahan Program Mekatronika menjadi salah satu yang sama-sama kita dukung. Demikian juga dengan pengembangan selanjutnya, di mana FTI selalu berkembang sejalan dengan semangat pengembangan UNPAR tentang keadaban baru, pengembangan peningkatan layanan pendidikan tinggi UNPAR,” tutur Rektor.
Rektor berharap, FTI akan selalu berada di garis terdepan dalam mengadopsi adaptasi kemajuan teknologi digital. Sebagaimana era yang kini disebut Revolusi Industri 4.0 dan bergerak menuju Society 5.0. Menjaga keseimbangan kemajuan teknologi, pembangunan ekonomi, kesejahteraan sosial, dan lingkungan hidup pun jadi tantangan dalam menghadapi era Society 5.0 ini.
“Inilah yang sama-sama kita tahu tantangan Society 5.0. Bersamaan dengan itu, saya ingin menyampaikan harapan, ekspektasi agar FTI UNPAR tetap ada di garis terdepan yang membawa kemajuan UNPAR secara keseluruhan,” ucapnya.
Acara pun dilanjutkan dengan sambutan Ketua Yayasan UNPAR yang pada kesempatan tersebut diwakilkan oleh Ir. Iwan Supriadi. Kemudian laporan Dekan FTI, Dr. Thedy Yogasara, ST, M. Eng Sc. Berbagai aktivitas, program, dan pencapaian di lingkungan FTI sepanjang tahun 2020 hingga awal 2021 telah berkontribusi terhadap perkembangan dan kemajuan FTI. Dengan diterapkannya kurikulum berbasis outcome, Program Studi Sarjana Teknik Kimia untuk pertama kalinya berhasil memperoleh Akreditasi Internasional (provisional) dari Indonesian Accreditation Board for Engineering Education (IABEE) pada 13 Februari 2020.
Diketahui bahwa IABEE terikat dalam Washington Accord yang merupakan perjanjian multilateral di antara lembaga-lembaga akreditasi pendidikan tinggi teknik di dunia dan merupakan perjanjian yang paling diakui di dunia. Dengan demikian, terdapat pengakuan kualifikasi keteknikan di antara anggota-anggotanya sehingga dapat membantu para lulusan Teknik Kimia UNPAR untuk berkiprah dalam dunia profesi insinyur teknik kimia secara global.
Pencapaian tersebut diharapkan dapat segera disusul oleh Program Studi Sarjana Teknik Industri, dimana tim kerja yang diketuai Dr. Carles Sitompul, S.T., M.T., M.I.M, tengah melakukan persiapan akhir dalam aplikasi akreditasi IABEE. Disamping itu, seluruh program studi tengah mempersiapkan proses pengajuan akreditasi BAN-PT menuju peringkat Unggul melalui pengisian Instrumen Suplemen Konversi (ISK). Hal itu didahului dengan ditempuhnya Audit Mutu Internal (AMI) yang diselenggarakan oleh Lembaga Penjaminan Mutu UNPAR.
Pencapaian lain yang membanggakan adalah dari segi pengembangan sumberdaya manusia. Menyusul Prof. Sani Susanto, Ir., Ph.D dan Prof. Dr. Maria Theresia Judy Retti Witono, Ir., M.AppSc; Prof. Dr. Ir. Paulus Sukapto, MBA diangkat menjadi Guru Besar dalam Bidang Ilmu Teknik Industri per 1 Desember 2020.
Peluang & Tantangan Bagi Masyarakat 5.0
Acara dilanjutkan dengan Orasio Dies yang mengangkat topik “Isu-isu Kontemporer Dalam Logistik: Peluang dan Tantangan Bagi Masyarakat 5.0” oleh Dr. Carles Sitompul, S.T., M.T., M.I.M. Dalam orasinya, Carles membahas isu-isu kontemporer dalam logistik yang berasal dari isu-isu kontemporer yang terjadi di masyarakat. Perkembangan globalisasi dan teknologi menuntut masyarakat untuk berkolaborasi menyelesaikan masalah-masalah yang tidak terstruktur seperti isu keberlanjutan, isu kemanusiaan/kebencanaan, isu transportasi urban, isu-isu kesehatan dan sebagainya.
Isu-isu tersebut, lanjut dia, tidak dapat dipecahkan dengan metodologi linear dan step by step. Namun harus diselesaikan bersama dengan metodologi yang tidak linear, inovatif, bersifat iteratif penuh feedback seperti pada tahapan design thinking atau soft system methodology.
UNPAR, lanjut Carles, memiliki cita-cita luhur seperti yang tertulis dalam visinya menjadi komunitas akademik humanum yang mengembangkan potensi lokal ke tataran global demi peningkatan martabat manusia dan keutuhan alam ciptaan. Spiritualitas dan Nilai-Nilai Dasar UNPAR diejawantahkan ke dalam tujuh prinsip. Dalam hal ini, prinsip Keterbukaan dan Sikap Transformatif yang dapat menjadi pendorong bagi sivitas UNPAR terus berkarya, memperbaiki diri, dan berkolaborasi meningkatkan inovasi dalam pengembangan Tri Dharma UNPAR.
Dalam Orasinya pun, Carles mengemukakan soal usulan agar mata kuliah dengan konten perilaku manusia juga diberikan kepada seluruh mahasiswa UNPAR. Bukan hanya yang sifatnya teoretis tetapi juga praktis, baik bagi mahasiswa dengan latar belakang disiplin ilmu sosial maupun ilmu fisik dan ilmu teknik.
“Mata Kuliah Umum di tingkat universitas dapat dikembangkan dengan melibatkan berbagai dosen dari berbagai disiplin ilmu. Selain Etika, Estetika, dan Logika, kecendekiawanan di UNPAR dapat dilengkapi dengan kemampuan hidup bersama dan perilaku berkontribusi pada masyarakat. Mata Kuliah Pengabdian kepada Masyarakat dapat dijadikan mata kuliah tingkat universitas dengan format proyek penyelesaian masalah di masyarakat dengan kelompok dari latar belakang ilmu berbeda dan sebaiknya ditempatkan di tingkat akhir,” tutur Carles.
Selain itu, pusat studi interdisipliner harusnya berbasis masalah yang terjadi di masyarakat. Saat ini, UNPAR sudah memiliki pusat studi lintas disiplin, meliputi Pusat Studi Pengembangan Usaha Kecil dan Menengah, Pusat Studi Adaptasi dan Resiliensi Desain Lingkungan, Pusat Studi Pembangunan Manusia dan Keadilan Sosial, Pusat Studi Pengembangan Infrastruktur Kota, dan Pusat Studi Pancasila.
“Namun masih terbuka peluang kontribusi UNPAR di bidang energi, ketahanan pangan, kesehatan, dan kebencanaan yang bersifat lintas disiplin mengingat masyarakat Indonesia yang heterogen,” ujarnya.
Solusi integrasi sistem pada ruang siber dan ruang fisik di era Society 5.0, ucap dia, memiliki peluang besar untuk dapat menyelesaikan masalah-masalah tersebut. Di FTI sebagai contoh, Jurusan Teknik Industri, Teknik Kimia, dan Teknik Elektro dapat berkolaborasi membentuk sebuah pusat studi interdisipliner guna menyelesaikan isu logistik ketahanan pangan berbasis teknologi informasi dan mekatronika. (Ira Veratika SN-Humkoler UNPAR)





