Beasiswa di Unpar: Mungkinkah Mendapatkannya?

Kata “beasiswa”  mungkin sudah tidak asing lagi di telinga kita. Seringkali kita melihat pengumuman beasiswa di laman internet,  di mading kampus, atau bahkan melalui brosur/selebaran yang kita terima. Dari sekian banyak kesempatan beasiswa yang kita lihat dan kita nilai menarik, mungkin tidak banyak yang akhirnya benar-benar kita proses aplikasinya. Pendapat atau penilaian spontan kita terhadap suatu beasiswa biasanya memiliki pola-pola yang sama: beasiswa X ini terlalu kompetitif karena banyak saingan yang mendaftar, beasiswa Y proses seleksinya sulit dan terlalu memakan waktu,  beasiswa Z ini hanya bagi anak yang pintar, dan  lain sebagainya. Padahal, persepsi yang kita miliki ini belum tentu benar sepenuhnya.

Beasiswa tentu merupakan suatu ajang yang kompetitif. Siapa yang tidak ingin mendapatkan subsidi untuk membantu biaya pendidikan di tengah biaya kuliah dan biaya hidup yang naik tiap semester? Namun demikian, jangan langsung mendiskreditkan diri sendiri ketika melihat banyaknya pendaftar yang berpotensi menjadi saingan kita. Hal ini menjadi valid karena terkadang pemberi beasiswa mencari suatu hal yang tidak kita sadari, tapi ada dalam diri kita. Terdapat jenis-jenis beasiswa tertentu yang tidak hanya mencari mahasiswa yang pintar, tapi lebih mencari mahasiswa yang aktif berorganisasi, atau terlibat aktif dalam proyek sosial untuk memberdayakan masyarakat. Ada pula beasiswa yang memprioritaskan mahasiswa dari keluarga yang membutuhkan bantuan ekonomi, sehingga IPK menjadi faktor penentu kesekian dari seleksi beasiswa tersebut. Jangan sampai ketakutan untuk berkompetisi yang akhirnya membuat kita tidak berani menjemput kesempatan dan pengalaman berharga yang mungkin dapat kita peroleh bila berhasil mendapatkan beasiswa.

Bicara mengenai proses pengajuan beasiswa yang mungkin saja terkesan rumit, saya rasa hal itu memang benar. Pemberi beasiswa seringkali memiliki anggaran yang terbatas untuk dapat mensponsori penerima beasiswa, sehingga mereka tentu ingin memilih kandidat terbaik yang memenuhi semua syarat dan visi-misi yang dimiliki instansi pemberi beasiswa. Namun, jangan sampai persyaratan rumit yang memerlukan banyak dokumen atau terdiri dari berbagai tahap seleksi membuat kita malas dan kemudian tidak jadi mendaftar. Dokumen-dokumen yang kita pikir akan membutuhkan waktu dan syarat rumit untuk memperolehnya, misalnya Surat Keterangan Tidak Mampu (SKTM), sebenarnya dapat diperoleh dengan berkomunikasi secara baik terhadap petugas RT setempat.

Universitas Katolik Parahyangan (Unpar) menyediakan berbagai macam kesempatan beasiswa bagi mahasiswanya. Beasiswa Unpar dapat berasal dari dana yang dimiliki oleh kampus, atau pun bekerjasama dengan instansi pemberi beasiswa lainnya seperti yayasan atau perusahaan tertentu. Beberapa jenis beasiswa yang ditawarkan oleh Unpar di antaranya beasiswa prestasi akademik, beasiswa prestasi non-akademik, Dharmasiswa, beasiswa kepemimpinan, beasiswa Dana Lestari, beasiswa tenaga gerejawi dan utusan tarekat, serta beasiswa khusus penyandang disabilitas.  Skala beasiswa ini bermacam-macam sehingga dibuka untuk tingkat fakultas dan universitas. Beasiswa tersebut juga ditawarkan pada waktu yang berbeda-beda. Beberapa di antaranya membuka pendaftaran pada setiap semester, setiap tahun, atau dalam rangka tertentu saja. Besaran beasiswanya juga bermacam-macam, di antaranya pemotongan BRP, biaya SKS, hingga pembayaran total seluruh biaya studi hingga lulus kuliah. Teman-teman dapat mengecek informasi lebih lanjut mengenai berbagai jenis beasiswa tersebut melalui website Biro Kemahasiswaan dan Alumni (BKA) Unpar melalui tautan bka.unpar.ac.id/beasiswa/, atau bertanya langsung ke meja bagian Kesejahteraan Mahasiswa di Kantor BKA.

Intinya, Unpar menyediakan berbagai macam beasiswa yang bisa teman-teman coba. Bila mungkin IPK tidak memenuhi persyaratan beasiswa prestasi, mungkin bisa mencoba Dharmasiswa. Bila keduanya kurang cocok dengan profil dan kondisi yang teman-teman miliki, mungkin teman-teman bisa mencoba beasiswa prestasi non-akademik, yang menerima pendaftaran atas prestasi yang ditorehkan teman-teman pada lomba di luar kampus, termasuk dalam bidang olahraga dan seni. Bila mungkin tidak diterima pada semester ini, mungkin bisa juga mencoba lagi di semester depan. Mengatakan hal ini memang terdengar mudah, namun saya juga pernah merasakan bagaimana rasanya gagal mendapatkan beasiswa, dan kadang merasa sedikit putus asa untuk kembali mencoba. Tetapi, saya berusaha untuk kemudian tidak terpuruk dalam kegagalan dan kembali mendaftar, sehingga akhirnya berhasil mendapatkan beasiswa.

Kunci mendapatkan beasiswa yang mungkin dapat saya bagikan yaitu untuk mempersiapkan dengan baik segala proses pendaftarannya. Seringkali kita menunda-nunda untuk mendaftar hingga H-1 deadline. Menurut saya, penting sekali bagi kita untuk mempelajari profil pemberi beasiswa, skema dan besaran pemberian beasiswa, beserta kontraprestasi yang menjadi konsekuensi bila kita menerima beasiswa. Hal ini akan membuat kita paham betul mengenai kriteria penerima beasiswa yang dicari dan dapat membuat aplikasi yang  dapat mencerminkan kriteria tersebut. Meluangkan waktu yang cukup untuk mempersiapkan segala dokumen dan esai yang menjadi persyaratan juga cukup penting, karena ketidaklengkapan berkas bisa membuat kita gagal dalam pendaftaran. Dan hal yang saya kira lebih penting lagi adalah tetap mencoba, lagi dan lagi. Gagal dalam satu beasiswa tidak berarti seseorang tidak cukup hebat, namun ia mungkin perlu terus meningkatkan kualitas diri sehingga pada saatnya, ia siap menerima beasiswa tersebut.

————————————————————————————————————————————-

Giasinta Livia, atau yang akrab disapa Livia, saat ini adalah mahasiswa Hubungan Internasional Unpar semester 6. Semasa kuliah di Unpar, Livia pernah mendapatkan beasiswa prestasi non-akademik selama 2 semester, beasiswa prestasi akademik selama 1 semester, dan mendapatkan beasiswa Dana Lestari Ultima untuk skema pembiayaan sejak semester 6 hingga lulus.  Livia cukup aktif dalam beberapa kegiatan di dalam maupun luar kampus, di antaranya pernah menjabat sebagai Vice President International Relations English Club (IREC) HMPSIHI Unpar, Ketua Delegasi Unpar untuk Pertemuan Nasional Mahasiswa Hubungan Internasional se-Indonesia (PNMHII), dan menjadi relawan di The Hunger Bank, sebuah LSM yang bergerak dalam upaya menurunkan angka kelaparan dan foodwasting di Kota Bandung.

Berita Terkini

UNPAR Raih Penghargaan Pengabdian Masyarakat dari Tribun Jabar

UNPAR Raih Penghargaan Pengabdian Masyarakat dari Tribun Jabar

UNPAR.AC.ID, Bandung – Universitas Katolik Parahyangan (UNPAR) meraih penghargaan “Pengabdian Masyarakat Melalui Pendidikan”  dalam ajang Editor’s Choice 2.0 yang diselenggarakan surat kabar harian Jawa Barat, Tribun Jabar. UNPAR dinilai menjadi Perguruan Tinggi...

Kontak Media

Divisi Publikasi

Kantor Pemasaran dan Admisi, Universitas Katolik Parahyangan

Jln. Ciumbuleuit No. 94 Bandung
40141 Jawa Barat

Apr 7, 2017

X