Bagus Arthaya, Bantu Bayi Prematur dengan Inkubator Gratis

Bayi prematur

Tidak semua bayi terlahir dengan sempurna. Kadang, seorang bayi terlahir prematur, sebelum waktu ideal, yakni sembilan bulan. Bayi prematur membutuhkan perawatan khusus untuk mempertahankan hidupnya. Hal ini membutuhkan suatu alat yang dikenal sebagai inkubator. Sayangnya, tidak semua orang dapat memanfaatkan inkubator secara leluasa, karena biaya sewanya yang tinggi. Untuk membantu bayi dari keluarga yang kurang mampu atau tidak memiliki akses terhadap inkubator, Yayasan Bayi Prematur Indonesia menyediakan inkubator sederhana secara gratis bagi yang membutuhkan.

Agen Yayasan Bayi Prematur tersebar dari Sabang hingga Merauke, salah satunya adalah Dr. Bagus Arthaya, Kepala Program Studi Teknik Elektro (Konsentrasi Mekatronika) Universitas Katolik Parahyangan (Unpar). Di tengah kesibukannya mengelola program studi tersebut, ia mampu menunjukkan kepedulian sosial yang tinggi, utamanya bagi bayi prematur dari masyarakat kurang mampu. Lebih dari 65 bayi di Kota Bandung sudah tertolong oleh inkubator yang ia kelola.

Kisahnya dimulai ketika ia mengunjungi Bangka Belitung, menghadiri sebuah seminar, dengan Prof. Raldi Artono Koestoer sebagai pembicaranya. Alat ciptaan Prof. Raldi, yaitu sebuah inkubator sederhana menggunakan prinsip Grashof, dipinjamkan secara gratis bagi yang membutuhkan. Inkubator ini menarik karena rancangannya yang cerdas, tidak memiliki komponen yang rumit, mudah dirawat dan dibawa, dan sangat hening. Bahkan, bisa disebut sebagai the most silent incubator in the world.

Hal inilah yang mendorongnya untuk ikut bergabung menjadi agen, utamanya melihat anak-anaknya telah dewasa dan tidak lagi menjadi tanggungan. “Jadi apa yang bisa saya lakukan? Mungkin membantu para bayi prematur di seluruh Bandung, karena di seluruh Indonesia ada agennya, Bandung baru saya,” ujarnya. Sampai hari ini, Pak Bagus menjadi satu-satunya agen Yayasan Bayi Prematur yang berada di Kota Bandung.

Pada tahun 2015, Pak Bagus memulai karyanya sebagai agen di Bandung, dengan dua unit inkubator. Tidak perlu menunggu lama untuk menyadari bahwa dua inkubator itu tidak cukup memenuhi kebutuhan yang ada. Seperti yang ia ceritakan, “Saya punya dua unit, dan hanya bisa menangani beberapa bayi, padahal pada saat itu banyak sekali bayi.” Beruntung, rekan-rekan kerja dan alumni tergerak untuk ikut berkontribusi dalam menyediakan inkubator, termasuk dua unit fototerapi khusus, yang dikenal sebagai Cute Incubator. “Jadi, kita sudah lumayan punya banyak, sepuluh unit sekarang sedang beredar sebagian besar.”

Kesederhanaan rancangan inkubator membuat perawatan alat tersebut menjadi mudah. “Alat ini sangat sederhana, perawatan paling dilap, dibersihkan pakai lap saja, bersih semuanya. Kalau elektriknya paling lampu mati, ganti. Sensor termostat kadang-kadang mati atau tidak, tapi tinggal diatur saja,” terang Pak Bagus. Di sisi lain, semua kegiatan perawatan pun dijalankan olehnya sendiri, kecuali bila mengalami kerusakan komponen yang hanya bisa diganti oleh kantor pusat.

Lalu, apa yang menjadi kendala utama baginya?

“Saya kadang-kadang tidak bisa mengantar. Kadang-kadang si bayi atau keluarganya ga bisa datang. Kami berpikir, coba dicari teman-teman yang mau menjadi sukarelawan, tidak harus sebagai pengelola, tidak harus mengadakan inkubatornya, mencari inkubator, tetapi membantu distribusi. Nah, itu saya belum punya,” tuturnya. Ia berharap, ada orang yang bersedia meluangkan waktu dan tenaganya, sebagai agen untuk membantu penyebaran dan pemerataan dalam penggunaan inkubator, utamanya di daerah-daerah di sekitar Kota Bandung. Apalagi, sesekali jumlah bayi yang membutuhkan inkubator melebihi inkubator yang ia kelola, sehingga dengan berat hati tidak dapat dibantu.

Mengakhiri wawancara, Bagus berharap, lewat karyanya, lebih banyak orang tergugah untuk bergabung dan menolong lebih banyak bayi prematur yang membutuhkan. Ia berharap, akan ada orang-orang yang menjadi agen dan relawan, khususnya di sekitar Kota Bandung, Kabupaten Bandung, serta Kota Cimahi. Hal ini akan membantu memperluas jangkauan wilayah untuk menolong bayi prematur, lewat program inkubator gratis tersebut.

Berita Terkini

UNPAR Raih Penghargaan Pengabdian Masyarakat dari Tribun Jabar

UNPAR Raih Penghargaan Pengabdian Masyarakat dari Tribun Jabar

UNPAR.AC.ID, Bandung – Universitas Katolik Parahyangan (UNPAR) meraih penghargaan “Pengabdian Masyarakat Melalui Pendidikan”  dalam ajang Editor’s Choice 2.0 yang diselenggarakan surat kabar harian Jawa Barat, Tribun Jabar. UNPAR dinilai menjadi Perguruan Tinggi...

Kontak Media

Divisi Publikasi

Kantor Pemasaran dan Admisi, Universitas Katolik Parahyangan

Jln. Ciumbuleuit No. 94 Bandung
40141 Jawa Barat

Jul 25, 2017

X