Arsitektur Hijau (Arjau) yang berada di bawah Himpunan Mahasiswa Program Studi Arsitektur Universitas Katolik Parahyangan (HMPSArs Unpar), dengan program kerja ekspedisinya menggelar sebuah ekshibisi yang bernama “Menelusur Kei”. Acara ini merupakan publikasi tentang kampung terpencil di Kepulauan Tanimbar Kei, Maluku Tenggara Indonesia. Diadakan di Masagi Koffee yang berlokasi di Jl. Gunung Kareumbi, Bandung, tujuan dilaksanakannya acara ini adalah untuk memperkaya pengetahuan masyarakat akan kekayaan budaya arsitektur dan pesona dari Kampung Tanimbar Kei.
Setelah mengadakan ekspedisi pada 2017 dengan tujuan untuk mendokumentasikan data-data mengenai kampung vernacular dari sisi arsitektur dan dalam sisi sosial, Arjau memiliki rasa tanggung jawab besar untuk menyebarluaskan informasi yang didapat dengan bentuk memublikasikan kampung Tanimbar Kei.
Hal tersebut juga merupakan harapan dari para penduduk kampung Tanimbar Kei agar para mahasiswa Arjau dapat memublikasikan kampungnya sehingga masyarakat Indonesia lain dapat mengetahui keindahan Tanimbar Kei tersebut dan bisa menjadi objek wisata baru di Indonesia.
Publikasi dari kampung Tanimbar Kei ini didukung dengan bentukan instalasi luar ruang yang menggambarkan pesona dari Kampung Tanimbar Kei. Dengan konsep yang menyatukan manusia dan alam, pengunjung yang datang akan memperoleh penjelasan mengenai Kampung Tanimbar Kei, kondisi kampung, potensi alam dan sosialnya, serta maket sebagai gambaran dari kampung Tanimbar Kei dan maket bangunan rumah adat yang ada di kampung tersebut.
Selain itu, bekerjasama dengan aplikasi Ars, sebuah platform presentasi Augmented Reality dan Virtual Reality, memungkinkan pengunjung untuk menikmati ekshibisi dengan pengalaman yang lebih menarik dengan cara memindai barcode yang ada.
Kampung Tanimbar Kei sendiri dipilih karena keindahan dari 23 rumah adat yang ada dan juga di kampung tersebut terdapat keberagaman budaya yang sangat unik, yang mana meskipun penduduk kampung Tanimbar Kei terdiri dari lima agama yang berbeda, namun penduduk dapat hidup dengan toleransi di tengah keberagaman.
“Kami (Arjau) adalah orang-orang yang peka dan tertarik di bidang ekspedisi kampung-kampung dengan arsitektur vernakular-nya. Jadi kami punya janji untuk mendokumentasikan dan memublikasikan (kampung-kampung tersebut). Karena melihat juga isu dan fenomena saat ini, mungkin dinas pariwisata Indonesia lagi gencar-gencarnya untuk mencari daerah pariwisata lain di Indonesia selain Bali. Jadi kami ingin memublikasikan daerah-daerah yang mempunyai potensi pariwisata di Indonesia,” tutur Rizqy selaku koordinator divisi materi saat ditanyakan harapan dari digelarnya ekshibisi ini.
Ekshibisi “Menelusur Kei” akan digelar selama dua minggu dari tanggal 30 Maret sampai tanggal 13 April. Pada hari pembukaan ekshibisi juga diadakan acara bedah buku “Ohoi, Tanebar Evav” oleh ekspeditor mengenai perjalanan mereka selama ekspedisi ke Tanimbar Kei pada tahun 2017.
Selain ekshibisi, ada perlombaan fotografi yang akan berlangsung sampai 11 April. Juga pada 7 April mendatang akan dilaksanakan talkshow yang mengangkat tema sebuah dilemma arsitektur nusantara dengan beberapa narasumber antara lain, Didi Kasim (Pemimpin Redaksi National Geographic Indonesia), Wita Simatupang (Manager INDECON Ecotourism Traveller), Yu Sing (Akanoma Studio), Eko Prawoto (Arsitek) dan dimoderatori oleh Yenny Gunawan.





