Teknik Informatika Untuk “The Digital Energy of Asia”

Teknik Informatika The Digital Energy of Asia

Perkembangan teknologi informasi dan komunikasi (TIK) saat ini semakin pesat. Hal ini dapat dilihat melalui pesatnya pertumbuhan industri berbasis digital, baik di dalam negeri maupun luar negeri. Pesatnya pertumbuhan TIK pun turut memberikan pengaruh pada meningkatnya kebutuhan tenaga ahli di bidang teknik informatika pada pasar kerja lokal maupun internasional.

Meningkatnya permintaan tenaga ahli informatika pada pasar kerja tersebut merupakan salah satu imbas dari munculnya tren startup berbasis digital beberapa tahun ke belakang. Jika beberapa tahun lalu tenaga ahli di bidang ini terkadang hanya dianggap sebagai tenaga pendukung di perusahaan, baik untuk menangani sistem jaringan komputer maupun sebagai developer laman resmi, saat ini stigma tersebut sudah bergeser.

Para lulusan terbaik di bidang informatika menjadi salah satu “primadona” yang paling dicari oleh banyak perusahaan, baik di industri teknologi maupun lainnya. Ide yang dimiliki oleh mereka yang bekerja di perusahaan tidak dapat terimplementasikan dan diwujudkan dalam suatu bentuk produk tanpa dukungan para developer yang membangun dan terus mengembangkan fitur pada layanan perusahaan mereka. Lihat saja bagaimana munculnya beragam aplikasi permainan, informasi, maupun jasa yang sangat membantu kehidupan sehari-hari seiring dengan perkembangan tren dan kebutuhan masyarakat.

Lahirnya informatikawan muda sangat diharapkan banyak pihak, khususnya pemerintah. Hal ini dapat dilihat dari adanya visi Presiden Joko Widodo untuk menjadikan Indonesia sebagai “The Digital Energy of Asia” yang diungkapkan saat mengunjungi Silicon Valley, California, Amerika Serikat, Februari 2016. Potensi ekonomi digital Indonesia sebesar 13 juta dollar AS menjadikan pemerintah benar-benar serius mendukung sektor ini, dengan perkiraan potensi tersebut akan menjadi 130 juta dollar AS pada 2020.

Bahkan, pada 17 Juni 2016, pemerintah meluncurkan gerakan “Seribu Startup” berbasis digital yang diinisiasi oleh Kibar dengan dukungan Kementerian Komunikasi dan Informatika. Gerakan ini difokuskan pada 10 kota di Indonesia dengan target setiap kota dapat melahirkan 20 startup digital/tahun atau 200 startup digital/tahun se-Indonesia dan menjadi 1.000 startup digital pada 2020.

Alumni Teknik Informatika Unpar

Universitas Katolik Parahyangan (Unpar) turut menghasilkan lulusan terbaik di bidang informatika yang mampu bersaing di pasar kerja, baik sebagai karyawan maupun technopreneur. Dibuka sejak 1996, Program Studi (Prodi) Teknik Informatika Unpar telah berkembang dan terus melakukan perbaikan di berbagai lini.

Tidak hanya membekali mahasiswa dengan hard skill, pengembangan soft skill dan pendidikan karakter serta jiwa kewirausahaan juga ditanamkan. Contohnya adalah Eldwin Viriya, salah satu lulusan Prodi Teknik Informatika Unpar yang mendirikan perusahaan pembuat gim, Own Games di Bandung.

Mengangkat tema jajanan yang saat ini sedang populer yakni Tahu Bulat, Own Games berhasil membuat gim simulasi manajemen bisnis sederhana, seperti mengatur keuntungan yang didapatkan pemain dari hasil berjualan Tahu Bulat untuk mengembangkan bisnisnya.

Cerita lain datang dari Samuel Halimanto, salah satu mahasiswa Teknik Informatika Unpar yang membuat sebuah aplikasi permainan terkait pemrograman. Berangkat dari adanya anggapan pemrograman merupakan sesuatu yang sulit dipelajari, ia membuat permainan yang bertujuan untuk membantu siswa SMP/SMA berkenalan dengan dunia pemrograman. Gim dipilih sebagai media karena dekat dengan siswa SMP/SMA.

Permainan yang diberi nama Wombo Painter tersebut terdiri atas 25 level yang mengajarkan konsep dasar pemrograman berorientasi objek dan logika perulangan. Pada tiap level disertai dengan tantangan-tantangan untuk menguji pemahaman pemain. Gim yang masih dalam tahap uji coba dan pengembangan ini telah diujikan pada para siswa kelas XI SMAK Bina Bakti 2 Bandung dan mendapatkan respons positif.

Selain menjadi technopreneur, lulusan TI Unpar sukses menjadi bagian di perusahaan TI besar seperti Starhub Ltd, Singapura; dan Google Developer Expert Indonesia; serta sebagian lainnya menempuh studi lanjut di dalam dan luar negeri, seperti di Fanshawe College London, Kanada.

Melihat hal tersebut, sudah seharusnya institusi pendidikan saat ini dapat membantu dan mendukung pemerintah guna mencapai target pembangunan. Peluang yang ada saat ini di bidang industri digital perlu menjadi catatan baik bagi pemerintah, institusi pendidikan, maupun  peserta didik untuk dapat sama-sama bersinergi, bekerja sama, dan berkolaborasi di berbagai lini demi pencapaian visi “The Digital Energy of Asia”. [*]

 

Sumber: Kompas – Griya Ilmu (Selasa, 26 Juli 2016)

Berita Terkini

UNPAR Raih Penghargaan Pengabdian Masyarakat dari Tribun Jabar

UNPAR Raih Penghargaan Pengabdian Masyarakat dari Tribun Jabar

UNPAR.AC.ID, Bandung – Universitas Katolik Parahyangan (UNPAR) meraih penghargaan “Pengabdian Masyarakat Melalui Pendidikan”  dalam ajang Editor’s Choice 2.0 yang diselenggarakan surat kabar harian Jawa Barat, Tribun Jabar. UNPAR dinilai menjadi Perguruan Tinggi...

Kontak Media

Divisi Publikasi

Kantor Pemasaran dan Admisi, Universitas Katolik Parahyangan

Jln. Ciumbuleuit No. 94 Bandung
40141 Jawa Barat

Jul 26, 2016

X