Mendapatkan ilmu dan inspirasi bisa dari mana saja. Ilmu dan inspirasi tidak selalu datang dari bangku formal institusi pendidikan, karena siapapun sebenarnya bisa menginspirasi. Namun, seringkali mereka yang dapat mengakses ilmu dan inspirasi tersebut hanya terbatas pada kalangan tertentu saja yang memiliki akses terhadap hal-hal tersebut seperti pelajar yang ekonomi keluarganya berkecukupan.
Hal tersebut mendorong Kementerian Luar Negeri Lembaga Kepresidenan Mahasiswa (LKM) Universitas Katolik Parahyangan (Unpar) untuk menghadirkan sebuah program yang tujuannya dapat memperkecil jarak tersebut. Terinspirasi dari Gerakan Indonesia Mengajar yang merupakan sebuah inisiatif dari Anies Baswedan sejak 2009, program Parahyangan Mengajar digulirkan dibawah koordinasi Direktorat Jenderal Pengabdian Masyarakat. Benny, selaku Menteri Luar Negeri LKM Unpar mengungkapkan bahwa mereka melihat Gerakan Indonesia Mengajar mendatangkan banyak kebaikan bagi anak-anak di pelosok Indonesia yang menjadi sasaran utama gerakan tersebut, dimana mereka selama ini tidak terjangkau oleh pendidikan yang sama dengan anak-anak yang berada di wilayah perkotaan. Hal tersebut yang coba diaplikasikan oleh LKM Unpar terhadap anak-anak Sekolah Dasar (SD) yang meski berada di wilayah perkotaan namun belum mendapatkan akses lebih terhadap pendidikan.
Program Parahyangan Mengajar akan dilaksanakan sebanyak empat kali selama bulan April 2016. Dalam pelaksanaannya, Parahyangan Mengajar bekerjasama dengan Kelas Inspirasi Bandung–gerakan para profesional turun ke SD selama sehari, berbagi cerita dan pengalaman kerja juga motivasi meraih cita-cita. Kelas Inspirasi berada dibawah naungan Gerakan Indonesia Mengajar. Terkait dengan Parahyangan Mengajar, program ini mengambil konsep yang tidak jauh berbeda dengan Kelas Inspirasi.
Di hari pertama, Sabtu (02/04) lalu, bertempat di SD Al-Husainiyah, Ciumbuleuit, Bandung, Parahyangan Mengajar mendatangkan inspirator-inspirator yang tergabung di dalam Kelas Inspirasi Bandung dengan beragam profesi yakni pekerja seni, dosen, penyiar radio, insinyur, dan pengusaha. Rangkaian kegiatan kedua akan dilaksanakan pada Minggu, 10 April 2016 mendatang, Parahyangan Mengajar juga tetap menggunakan format Kelas Inspirasi bertempat di Rumah Perlindungan Sosial Asuhan Anak (RPSAA) milik Dinas Sosial Provinsi Jawa Barat yang berlokasi di Ciumbuleuit, Kota Bandung.
Beranjak pada minggu ketiga (17/04), Parahyangan Mengajar akan mengadakan Kelas Petualang dengan mengajak anak-anak panti asuhan berkunjung ke Museum Geologi dan Saung Angklung Udjo. Kemudian, rangkaian hari terakhir (23/04), dalam rangka memperingati Hari Buku, akan dilakukan pembagian buku ke komunitas-komunitas di Kota Bandung.
Adapun tujuan diadakannya program Parahyangan Mengajar adalah untuk memotivasi serta mendorong dan menyadarkan anak-anak yang mendapatkan pengajaran melalui program ini, bahwa bermimpi dan bercita-cita bukanlah hanya milik mereka yang lebih beruntung mendapatkan akses terhadap pendidikan. Program ini mencoba meyakinkan mereka bahwa bermimpi merupakan sesuatu yang gratis, bermimpi tidak perlu mengeluarkan biaya. Lalu, bagaimana jadinya masa depan mereka jika melakukan sesuatu yang gratis saja tidak mau?
Tim Parahyangan Mengajar sebelumnya telah melakukan survei sederhana dengan menanyakan kepada anak-anak SD di sebuah perkampungan, “Ketika besar ingin jadi apa?”. Banyak dari mereka mengatakan ingin menjadi seperti ayah atau ibunya yang pekerjaannya tergolong pekerjaan kelas bawah seperti buruh cuci, supir angkot, pedagang keliling, dan lainnya. Tim Parahyangan Mengajar berharap melalui kegiatan ini dapat menginspirasi dan mengubah cita-cita mereka menjadi lebih tinggi.
Di akhir program, tim Parahyangan Mengajar akan memproduksi sebuah buku berjudul “Sejuta Mimpi untuk Indonesia” yang berisikan resume dari empat rangkaian kegiatan Parahyangan Mengajar, penjelasan program secara garis besar, dan tentunya cita-cita atau mimpi dari adik-adik yang mendapatkan pengajaran atau inspirasi melalui program ini.





