Dino Patti Djalal, mantan Wakil Menteri Luar Negeri dan Duta Besar Republik Indonesia untuk Amerika Serikat baru saja meresmikan Foreign Policy Community of Indonesia (FPCI) Chapter Universitas Katolik Parahyangan pada Selasa (23/2) lalu―FPCI merupakan organisasi nirlaba yang bergerak di ranah hubungan internasional. Adapun organisasi ini terbuka bagi seluruh kalangan mahasiswa, dosen, think tank, pengusaha, wartawan, maupun korps diplomatik.
Tidak hanya datang untuk meresmikan FPCI Chapter Unpar, beliau turut menjadi narasumber pada kuliah tamu yang mengusung tema “Six Fundamental Changes to The World of Diplomacy in the 21st Century : Its Impacts to Indonesia’s Foreign Policy”.
Di dalam pemaparannya, Dino menyampaikan bilamana isu nasionalisme tidak lagi menjadi arus utama di abad ke-21. Kini, fenomena geopolitik dan globalisasi menjadi agenda dalam Kebijakan Luar Negeri.
“Selama ini kita bicara mengenai nasionalisme. Namun, jika nasionalisme dipertentangkan dengan internasionalisme, Indonesia akan bergerak setengah mati.” tuturnya.
Adapun materi utama yang disampaikan berkenaan dengan perubahan-perubahan yang “menuntut” Indonesia untuk dapat memanfaatkan ledakan peluang di era globalisasi melalui semangat internasionalisme.
Sebagai salah satu pendiri FPCI, Dino melihat bilamana lingkungan strategis, aset nasional, agenda diplomasi, dan ruang manuver Indonesia dapat terus berkembang.
Tidak dapat dipungkiri, Indonesia kini mengalami perubahan signifikan dari segi geostrategis, politik, maupun ekonomi. Hal tersebut ditunjukkan dengan Indonesia, sebagai anggota G-20, telah menjadi kekuatan regional sekaligus pemain global. Dengan demikian, Indonesia perlu terbiasa untuk dapat menjadi raksasa Asia secara politik maupun ekonomi.





