Kemajuan teknologi informasi dan transportasi membuat dunia seolah tak lagi terbatas oleh sekat antarnegara. Oleh karena itu, lembaga pendidikan, dalam hal ini pendidikan tinggi, perlu merancang program maupun kegiatan yang bisa mempersiapkan mahasiswa menjadi global citizen.
Hal itu tercermin dalam International Student Conference (ISC) on Global Citizenship merupakan kegiatan internasionalization at home yang diselenggarakan setiap tahun oleh Universitas Katolik Parahyangan (Unpar) sejak 2013.
Kegiatan bertaraf internasional ini dapat dimanfaatkan oleh mahasiswa Unpar untuk meningkatkan kemampuan berargumentasi dan berinteraksi dalam Bahasa Inggris, memiliki pengalaman internasional, memperkenalkan Unpar sebagai lembaga pendidikan tinggi kepada masyarakat dunia, dan memberi crossed culture experiences kepada para peserta.
Acara yang diikuti 83 mahasiswa dari 24 negara yang digelar pada 17-25 Januari 2016 tersebut adalah salah satu wujud tanggung jawab Unpar dalam meningkatkan kesadaran mahasiswa sebagai global citizen. Oleh karena itu, tema besar dalam penyelenggaraan ISC kali ini adalah “Global Citizenship”.
Pemahaman atas konsep global citizenship ini sangat penting untuk diterapkan oleh generasi muda, demi menciptakan rasa tanggung jawab bahwa mereka bukan hanya warga negara, melainkan juga warga dunia.
Kegiatan ini telah meningkatkan kesadaran dari kaum muda dunia untuk memikirkan masalah-masalah dunia dan memberikan usulan solusi dari masalah tersebut. Di sisi lain, tujuan dari network ini untuk meningkatkan global engagement dari kaum muda, yang di masa depan akan menjadi pemimpin dunia.
Pada 2016, topik utama ISC adalah “Sustainable Rural Development: Moving towards Inclusive Growth for All”, yang dipilih karena pedesaan seringkali menjadi daerah yang terabaikan.
Dengan peningkatan urbanisasi dan lambatnya pertumbuhan wilayah pedesaan, pembangunan di wilayah tersebut menjadi sangat penting. Konsep pembangunan berkelanjutan di wilayah itulah yang menjadi fokus kajian dari para pengajar, didiskusikan oleh para peserta dengan menggunakan studi kasus di beberapa wilayah di dunia, serta mencari solusinya.
Dalam ISC tersebut, Unpar mengadakan serangkaian kuliah umum oleh 3 orang pengajar asing dari Amerika Serikat dan Argentina serta 3 orang pengajar dari Unpar. Pembangunan pedesaan dikaji dari berbagai pendekatan seperti: pendekatan lingkungan, ekonomi, sosial, pembangunan berkelanjutan dan tata ruang.
Selanjutnya, 2 workshop diberikan kepada para peserta, untuk membekali mereka kemampuan untuk menemukan masalah, mengetahui kebutuhan dan menentukan cara untuk memenuhi kebutuhan, serta menentukan program yang sesuai dan strategi pelaksanaan program tersebut.
Materi workshop membekali peserta untuk membuat proposal program kerja yang harus dipresentasikan dan dinegosiasikan peserta dengan pemangku kepentingan lain di dalam sebuah roleplay.
Pada akhir konferensi, peserta melakukan roleplay untuk menegosiasikan usulan program dan pendanaan proposal, yang menghasilkan 3 proposal terbaik dalam bidang perlindungan anak dan pemberdayaan perempuan; agrikultur; serta koperasi dan usaha kecil dan menengah.
ISC juga ditujukan untuk promosi budaya Indonesia. Hal itu dilakukan dengan menyelenggarakan kegiatan pertandingan permainan tradisional anak-anak, menonton pertunjukan tari-tarian tradisional yang dilakukan oleh Lingkung Seni Tradisional (LISTRA Unpar), bermain angklung interaktif bersama Saung Angklung Udjo, berlatih menatah wayang kulit, menggambar wayang di atas kaca, dan bermain gamelan serta menyinden. Selain itu, para peserta diajak mengunjungi Candi Borobudur sebagai salah satu ikon budaya Indonesia.
Konferensi keenam dari serangkaian ISC dilaksanakan di Kota Bandung, Padalarang, Yogyakarta, Wonogiri dan Magelang.
Aneka kegiatan serta intensitas komunikasi dari seluruh peserta telah membuat kegiatan ini bukan hanya penting secara akademik, namun juga memperluas jejaring mahasiswa, menambah wawasan dan pengalaman mereka dalam memahami masalah pedesaan, serta pengalaman lintas kultural sehingga peserta lebih memiliki empati dan solidaritas sosial terhadap pihak yang tersisih.
Seluruh peserta menyatakan apresiasi atas diselenggarakannya ISC. Mereka merasakan pengalaman yang mengubah cara berpikir dan menjadi kenangan tak terlupakan. Terlebih lagi, seluruh peserta juga menyatakan bahwa kegiatan ISC ini perlu dipertahankan dan dilaksanakan kembali di masa mendatang.
Sumber: KOMPAS – Griya Ilmu (Selasa, 2 Februari 2016)





