Lebih dari enam bulan, Mangadar Situmorang menjadi Rektor Universitas Katolik Parahyangan (Unpar) periode 2015-2019. Ia dilantik berdasarkan Keputusan Pengurus Yayasan Universitas Katolik Parahyangan Nomor 11 Tahun 2015 menggantikan Robertus Wahyudi Triweko yang mengakhiri masa jabatannya pada 30 Januari 2015. Mungkin, saat ini ia sudah tak perlu lagi kesulitan tidur karena masa-masa demam panggung sudah berakhir. Ia malah sudah meletakkan batu pertama untuk mendorong misinya: The Great Unpar.
Menurut dia, sepanjang dua tiga bulan awal jabatannya sebagai rektor, ia mengalami transformasi signifikan. “Apa yang terjadi sekarang, berbeda dengan apa yang dulu sekedar dilihat dan didengar. Sekarang saya sudah mengalaminya, sehingga saya merasakan ada intonasi yang berbeda ketika merespon apa yang terjadi dengan kampus,” ujarnya ketika bertemu wartawan Pikiran Rakyat, Dewiyatini, Selasa (19/1/2016) di ruang Rektor Unpar, Jalan Ciumbuleuit 94, Kota Bandung.
Bagi Mangadar, “mengalami” adalah hal yang sangat penting dan mendasar dari prinsip organisasi. Dulu, ketika menjadi dekan, yang terjadi hanya hubungan kerja sebatas kepentingan masing-masing. Akan tetapi, saat menjadi rektor, Mangadar berupaya mengajak dekan-dekan di Lingkungan Unpar mengelaborasikan ide tentang masa depan Unpar.
“Karena kita harus saling memahami bahwa yang dilaksanakan demi kiprah pengembangan Unpar,” kata ayah tiga anak itu.
Jika merunut rekam jejak Mangadar, tidak ada satu pun riwayat pendidikannya di Unpar, bahkan Tatar Pasundan. Ia menyelesaikan sarjana dan masternya di Universitas Gadjah Mada. Program doktoralnya pun di Curtin University of Technology, Australia. Bisa dibilang, Mangadar bukanlah “anak kandung” dari Unpar maupun Tanah Sunda. Oleh karena itu, tidak mengherankan, saat menjadi calon rektor, ada saja yang menanyakan kepentingan dan sumber dukungannya.
Mangadar mengabaikan pertimbangan identitas itu. Ia terus maju menjadi rektor. Mungkin, tanpa ia sadari kecintaannya akan Unpar tumbuh sejak pertama kali ia menjejakkan kakinya sebagai pengajar, 25 tahun lalu, sekaligus menjadi motivasinya. Pengalamannya bekerja, berkarya, dan berinteraksi dengan orang-orang di Unpar menjadi modalnya meniti langkah sebagai pengendali dan penyelaras nomor satu di kampus yang dipimpinnya itu.
Selama perjalanan berkarier sejak 1989 di Unpar, Mangadar tidak melihat adanya perubahan. Berdirinya sejumlah program studi baru pun, bagi dia, tidak dipandang sebagai hal yang cukup disebut sebagai perubahan. “Sering saya bilang, masak sih tidak ada yang berubah,” ucap lelaki yang menyebut diri sebagai orang Batak yang tidak pandai menyanyi itu.
Ditambah lagi, sepanjang riwayat studinya di kampus-kampus yang luas, Mangadar berharap dapat menyulap Unpar menjadi serupa. Ia mengingat ketika masih menjadi dosen muda, tidak ia temukan lapangan sepakbola tempat ia menyalurkan hobinya. Mangadar terpaksa pergi ke kampus lain. Padahal ruang-ruang seperti itu dibutuhkan oleh mahasiswa dan unsur lain di kampus.
Pakar resolusi konflik itu bermimpi mewujudkan The Great Unpar yang tidak hanya jago di urusan akademik, tetapi juga memberi ruang urusan nonakademik. Ia ingin memberikan ruang-ruang yang luas bagi mahasiswa beraktivitas di kampus. Lalu seperti apa langkahnya dalam mewujudkan mimpinya itu? Silakan simak petikan wawancaranya.
Sebenarnya, seberapa penting kampus memfasilitasi kebutuhan nonakademik mahasiswa? Tidakkah cukup dengan pencapaian mereka di sisi akademik?
Bagi saya, yang memiliki sejarah belajar di kampus-kampus yang bersar, fasilitas yang leluasa bagi mahasiswa sangat penting. Harus ada ruang-ruang bagi mahasiswa melepas seluruh energi. Oleh karena itu, saya sangat merindukan kampus besar.
Saat di Australia, taman di halaman kampus menjadi tempat yang sangat menarik di pergantian musim. Mahasiswa bertemu dan bercengkerama dengan bebas. Ini yang tidak saya lihat di Unpar. Mahasiswanya hanya datang untuk berkuliah. Setelah itu, kampus terasa hening dan sepi. Kampus ini membutuhkan penyeimbang sisi akademik.
Mengapa Anda menyebut tidak ada perbedaan yang berarti dari saat Anda mulai masuk ke Unpar hingga saat ini?
Selama 25 tahun berada di Unpar, saya tidak melihat Unpar menjadi besar. Kampus hanya di Ciumbuleuit dan Jalan Merdeka. Yang di Ciumbuleuit, hanya seluas ini dari dulu. Saya dulu membayangkan kampus Unpar ini sepanjang Jalan Ciumbuleuit. Lalu gerbangnya ada di Jalan Siliwangi terkoneksi dengan jalan raya dan berseberangan dengan kampus ITB. Tetapi ini tidak terjadi. Saat itu, saya rasa mungkin memang sulit mendapatkannya.
Namun, betapa kagetnya begitu melihat banyaknya gedung megah di sekitar kampus yang dibangun. Berarti, sebenarnya tidak sulit untuk memperluas Unpar. Tetapi kenapa kami tidak bisa? Tadinya saya kira, isu yang beredar bahwa Unpar akan membangun kampus di Kota Baru Parahyangan itu akan menjadi kenyataan. Ternyata tidak. Namun saya tetap akan berupaya menciptakan kampus yang luas.
Seperti pemugaran gedung di belakang rektorat ini, akankah demi mewujudkan mimpi itu?
Iya. Itu adalah gedung serba guna. Perencanaannya sudah lama. Waktu ditanya di pemilihan rektor tentang pendapat saya akan pembangunan gedung itu, saya katakan saya tidak setuju. Tetapi ketika terpilih menjadi rektor, saya menyatakan harus mendukung sepenuhnya karena itu memang program kampus.
Ke depan, gedung itu akan dibangun menjadi dua tower. Isinya memberikan fasilitas kesenian, olah raga, ibadah, dan kantin untuk mahasiswa. Bahkan ke depan saya ingin ada asrama yang bisa diisi oleh mahasiswa baru, terutama berasal dari luar Jawa Barat. Selain itu, akan lebih lengkap bila Unpar memiliki prodi kesenian, keguruan, dan kedokteran.
Apakah akan dibuat kebijakan kewajiban mahasiswa baru tinggal di asrama?
Saya merasa asrama ini sebagai bagian paling penting dari pembentukan toleransi dan nasionalisme. Mahasiswa sangat beragam identitasnya. Asrama ini menjadi ruang yang mendekatkan satu sama lain. Sederhananya, sebagai ruang transisional dan pembentukan karakter.
Saya sering menemukan mahasiswa luar Pulau Jawa, yang sehari-harinya saja jarang berbahasa Indonesia. Begitu datang ke Unpar mereka kebingungan dan tertinggal dalam pelajaran karena kurang adaptasi tadi. Tetapi dengan adanya asrama, mereka belajar berinteraksi dengan mahasiswa lain.
Demikian juga dengan mahasiswa asing akan menempati tempat yang sama. Namun, perlu diingat bahwa kami tidak bermaksud menjadi bagian dari persaingan bisnis asrama atau kos-kosan, ini hanya ruang untuk adaptasi. Dengan demikian, mahasiswa akan merasakan keseimbangan ketika berada di Unpar.***
BIODATA
Mangadar Situmorang
KELAHIRAN
Samosir, 1964
KARIER AKADEMIK
- Pengajar Jurusan Hubungan Internasional Unpar sejak 1989
- Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik di Unpar sejak Juli 2000
- Ketua Pusat Kajian Parahyangan Centre for International Studies (Pacis)
PENDIDIKAN
- S-1 di Jurusan Hubungan Ilmu Internasional Universitas Gadjah Mada Yogyakarta (1988)
- Magister Ilmu Politik di UGM (1994)
- S-3 di Curtin University, Perth (2007)
PENGALAMAN LAIN
- Pada 2004 Mangadar mengikuti internship International Conflict Research Institute (Incore), University of Ulster, London-Derry, Irlandia Utara
- Pada 2010 menempuh postdoctoral di Asia Research Centre, Murdoch University, Perth. Disertasi PhD-nya dibukukan dan dipublikasikan dengan judul “International Humanitarian Intervention in Intraste Conflicts” (Giessen: Johannes-hermann, 2009)
Sumber: Artikel “Memberikan Ruang Luas bagi Mahasiswa” pada surat kabar PIKIRAN RAKYAT Edisi 24 Januari 2016.





