Pembangunan dan Lingkungan: “Haruskah Lingkungan Menjadi Tumbal Pembangunan?”

Fenomena kerusakan lingkungan hidup dapat terjadi karena peristiwa alam maupun ulah manusia. Gempa bumi, letusan gunung berapi, maupun badai angin topan merupakan beberapa contoh peristiwa alam yang tidak dapat dielakkan. Lantas, bagaimana dengan kebakaran hutan, degradasi lahan, pencemaran lingkungan, maupun kerusakan ekosistem; siapakah yang patut disalahkan?

Pada Senin (9/11), Gobind Vashdev, seorang penulis buku bestseller ‘Happiness Inside’, menjadi narasumber kuliah tamu Program Studi Ilmu Hubungan Internasional dengan tema Pembangunan dan Lingkungan : “Haruskah Lingkungan Menjadi Tumbal Pembangunan?”.

Melalui beberapa video dan ilustrasi, beliau memberi perspektif baru mengenai isu pembangunan dan kerusakan lingkungan. Tidak dapat dipungkiri bahwasanya pembangunan berkaitan erat dengan kemajuan teknologi yang membawa perubahan pola hidup manusia menjadi modern. Sayangnya, proses pembangunan kerapkali tidak memperhatikan efek samping yang akan terjadi terhadap lingkungan.

“…tindakan apa yang paling penting yang bisa kita lakukan untuk menyelamatkan bumi dari kerusakan lingkungan?”, tanya Gobind kepada seluruh mahasiswa yang hadir di Ruangan Mgr. Geisse Lecture Theatre FISIP. Beberapa mahasiswa pun menjawab sesuai dengan pengetahun yang mereka miliki seperti membuang sampah pada tempatnya dan melakukan prinsip 3R ‘Reduce-Reuse-Recycle’.

Menjawab pertanyaan serupa, berdasarkan pada hasil survey yang dilakukan Gobind, 23% dari 1089 responden berpendapat bahwa salah satu tindakan untuk menyelamatkan bumi dari kerusakan lingkungan yaitu dengan hidup hemat; baik itu hemat di dalam menggunakan air maupun listrik. Di posisi kedua dengan presentasi 21% berpendapat sebelum manusia dapat melakukan tindakan nyata, harus ada kesadaran di dalam diri setiap individu; adapun upaya pengelolaan sampah dan menanam pohon, secara berurutan berada di posisi ketiga dan keempat dengan presentasi 21% dan 17%.

Menanggapi hasil jawaban tersebut, Gobind menjelaskan bahwa jawaban atau pemikiran-pemikiran tersebut datang dari pengetahuan umum yang kita dapat. Jawaban tersebut tidak salah, tetapi ada satu tindakan utama yang dapat kita lakukan yaitu dengan mengubah pola hidup; khususnya dengan mengurangi konsumsi daging.

“Apakah anda yakin bahwa setiap manusia dapat menghabiskan 16 pon gandum, 8 kg kedelai, 6 kg jagung, dan 2400 galon air dalam sekali makan?” Gobind mengajukan pertanyaan yang membuat mahasiswa kembali memutar otak. Rupanya, jumlah tersebut adalah ukuran yang dibutuhkan untuk menghasilkan 1 pon daging. Pertanyaan dan saran yang diajukan Gobind nampaknya seperti propaganda agar setiap manusia menjadi seorang vegan, tetapi beliau mengajak kita untuk melihat fenomena ini secara holistik.

Tindakan mengurangi konsumsi daging untuk mengurangi kerusakan lingkungan senada dengan laporan dari Food and Agriculture Organization of the United Nations (FAO). Laporan FAO menyatakan bahwasanya sektor peternakan menjadi kontributor signifikan bagi kerusakan lingkungan; sektor peternakan menghasilkan emisi gas rumah kaca yang setara dengan 18% CO2 dan gas metana yang menyebabkan efek pemanasan sebanyak 23 kali lebih kuat dari CO2.

Gobind memang seorang vegan tetapi, dia melakukan tindakan tersebut dengan alasan rasa cinta terhadap hewan dan rasa syukur terhadap alam yang sudah begitu baik kepada manusia. Kini, pertanyaan yang menjadi refleksi untuk kita yaitu akan dibawa kemana arah pembangunan negara dan apa yang dapat memotivasi kita untuk konsisten menjaga bumi dari kerusakan lingkungan.

“Alam akan tetap baik-baik saja tanpa manusia, tetapi manusia tidak bisa apa-apa tanpa alam”, demikian Gobind mengakhiri kuliah tamu yang disambut dengan tepuk tangan dari para mahasiswa.

Berita Terkini

UNPAR Raih Penghargaan Pengabdian Masyarakat dari Tribun Jabar

UNPAR Raih Penghargaan Pengabdian Masyarakat dari Tribun Jabar

UNPAR.AC.ID, Bandung – Universitas Katolik Parahyangan (UNPAR) meraih penghargaan “Pengabdian Masyarakat Melalui Pendidikan”  dalam ajang Editor’s Choice 2.0 yang diselenggarakan surat kabar harian Jawa Barat, Tribun Jabar. UNPAR dinilai menjadi Perguruan Tinggi...

Kontak Media

Divisi Publikasi

Kantor Pemasaran dan Admisi, Universitas Katolik Parahyangan

Jln. Ciumbuleuit No. 94 Bandung
40141 Jawa Barat

Nov 9, 2015

X